TROTOAR.ID, MAKAASSAR — Sikap politik praktis yang ditonjolkan oleh sekretaris Badan Koordinasi (Badko HMI) Sulselbar, Tri Febrianto tidak menunjukkan sikap netralitasnya dalam membawa HMI sebagai lembaga Independet pada proses pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur Sulsel.
Bahkan ungkapan Tri yang membandingkan hasil survei dianggap sebagai sikap politik yang justru akan merusak citra HMI sebagai organisasi pengkaderan.
Mengenai hal tersebut pengurus Besar HMI Edy Sofyan menganggap sikap politik praktis yang di tonjolkan oleh Tri bukan sebagai sikap Kader HMI, mengingat sudah jelas HMI secara kelembagaan tidak berpihak pada siapa pun konstestan dipilkada (indenpendensi).
Baca Juga :
Dan apa bila benar terbukti, Tri membawa nama HMI sebagai gerbong politik di salah satu pasangan calon Gubernur, maka PB tidak akan berdiam, bahkan PB HMI akan mengambil sikap pemberhentian bahkan hingga sanksi sebagai kader jika sikap Tri terbukti bersalah.
“terindikasi Tri terlibat pada salah satu pasangan calon Gubernur, disertai dengan membandingkan hasil survei oleh lembaga survei, biarkan saja survei itu dibaca hal layak publik, soal siapa yang tinggi surveinya, bukan hak kita tuk mendukung atau memberi penilain berdasarkan hasil survei yang ada”
“Kami ingatkan Tri untuk tidak membawa Nama Besar HMI untuk kepentingan politik praktis yang diagendakannya, dan jika benar, maka kami akan mengambil langkah-langkah organisasi,”
Selain itu, Ketua Korkom Perintis, Rudini menilai Tri Febrianto telah melanggar aturan organiasi. Olehnya itu ia meminta PB HMI untuk membahas pemecatan Sekum Badko.
“Ini jelas adalah pelanggaran independensi etis dan independensi organisatoris HMI. Kami meminta sebagai kader HMI agar PB HMI membahas perihal ini di rapat harian dan memecat saudara Tri Febrianto sebagai kader HMI.(**)




Komentar