TROTOAR.ID, MAROS – Macaca kelaparan dan keluar melawan maut. Persediaan makanan di hutan Karaenta tak mampu mensubsidi kera kera itu. Ia terpaksa keluar, mencari rezeki. Apapun ia makan dari gorengan, apel dan paling lezat adalah buah yang matangnya berwarna kuning.
Macaca akan menyapa kita saat melintas di jalan poros Camba-Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).
TN Babul telah memasang pesan gambar di pinggir jalan. Bacanya jelas, tak boleh memberi makan kera.
Baca Juga :
- Istri Oknum Polisi di Maros Ditahan Terkait Investasi Bodong Rp3,5 M, WR III UMI Apresiasi Kinerja Kapolsek Turikale
- Sulsel Geger! Warga Temukan Barang Diduga Granat Peninggalan Zaman Perang
- 6 Paskibraka Asal Makassar Tertimpa Pohon: 2 Tewas, 4 Lainnya Ada yang Patah Tulang, Luka Dalam, dan Sesak Nafas
Ini kabar yang sangat miris ketika kita melintas ke sana. Ini soal masa depan fauna Indonesia.
Dari rimbunnya Hutan Karaenta yang terletak dalam pegunungan Bulu Saraung menyimpan kekhawatiran yang lebih. Ini menyangkut kelangsungan fauna di dalamnya.
Perlu kita ketahui, bahwa semakin sering kita singgah dan iba kepada kera itu, maka maut juga semakin dekat dengan menghampirinya.
Ia akan lupa lebih mengingat aspal dan suara bising mikrolet ketimbang pohon pohon rindang dan suara indah dalam hutan.
Kera itu akan semakin sering untuk keluar dan lupa untuk pulang ke habitat.
Macaca maura merupakan salah satu satwa endemik yang mulai terancam punah dan tentu ini tak ada di hutan hutan lain. Macaca maura ini pula tak dijual belikan di negeri lahirnya kera. Pula tak dijual belikan di mol pun di pasar sentral hewan.
Macaca Maura hampir punah, jumlahnya sekitar 40-50 ekor lagi, dan saat saya melintas ada mayat kera yang sudah kering dan membusuk di jalan raya.
Sungguh Macaca Dalam Bahaya
Tentu kita khawatir jika itu semua terjadi. Anak cucu kita hanya mendengarkan ayahnya bercerita bahwa dulu ada monyet lucu dan unik yang menjadi legenda.
Legenda yang menjadi indentitas daerah, Cerita dari masa lalu, tentang kera putih sang penguasa.
Anak cucu kita akan paham bahwa betapa geramnya generasi saat ini yang tak peduli dengan kelestarian faunanya.
Ini tak menyangkut kehilangan Karaenta belaka. Tapi ini mengancam Indonesia.
Kita sudah kehilangan Harimau di Jawa dan Bali serta Kuau bergaris ganda asal Sumatera. Untuk melihat itu semua kita cuma melihatnya dalam gambar dan poster di sekolah.
Dan hal yang sama juga yang akan dirasakan oleh generasi di depan kita. Macaca Maura akan menjadi daftar oleh fauna yang sudah tinggal nama.
Dan kita manusia yang hidup hari ini, tegakah melihat macaca terus menerus menunggu makanan di pinggir jalan seperti itu.



Komentar