MAKASSAR, Trotoar.id — Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan yang dijadwalkan berlangsung pada akhir April 2026 mulai memanaskan suhu politik internal partai berlambang beringin tersebut.
Sejumlah nama kini mencuat ke permukaan dan disebut-sebut telah mengantongi restu dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, untuk memimpin DPD I Golkar Sulsel.
Dinamika jelang Musda pun kian menguat, seiring munculnya berbagai figur dengan latar belakang politik dan pengalaman organisasi yang beragam.
Baca Juga :
Beberapa nama yang ramai diperbincangkan antara lain Usman Marham, Munafri Arifuddin, Ilham Arief Sirajuddin, Rahman Pina, Andi Ina Kartika Sari, serta Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo.
Nama-nama tersebut dinilai memiliki peluang besar karena rekam jejak serta pengaruhnya di internal partai maupun di masyarakat.
Namun, di antara deretan kandidat itu, sosok Usman Marham menjadi salah satu figur yang paling menarik perhatian.
Ia disebut-sebut sebagai kandidat alternatif yang berpotensi menjadi kuda hitam dalam kontestasi perebutan kursi Ketua Golkar Sulsel.
Usman Marham merupakan adik kandung dari Idrus Marham, yang juga dikenal sebagai tokoh senior di Partai Golkar.
Faktor kedekatan dengan elite partai serta pengalaman panjang di struktur organisasi menjadi nilai tambah tersendiri bagi dirinya.
Karier politik Usman Marham di Partai Golkar terbilang cukup panjang dan konsisten.
Ia mulai aktif sejak era kepemimpinan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar.
Perjalanan politiknya berlanjut pada masa kepemimpinan Aburizal Bakrie hingga Setya Novanto.
Dalam rentang waktu tersebut, Usman Marham dipercaya mengemban posisi strategis sebagai pengurus harian di DPP Partai Golkar.
Pengalaman tersebut memperkuat kapasitasnya dalam memahami dinamika organisasi partai di tingkat nasional maupun daerah.
Tak hanya itu, ia juga pernah mendapat mandat khusus dari DPP Partai Golkar untuk mengawal kepengurusan DPD I Golkar Sulawesi Selatan.
Dalam penugasan tersebut, Usman Marham dipercaya menjabat sebagai wakil ketua, yang memberinya pengalaman langsung dalam mengelola organisasi di tingkat provinsi.
Pengalaman ini dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi kontestasi Musda mendatang.
Sejumlah kader Golkar menilai, figur dengan pengalaman organisasi yang matang sangat dibutuhkan untuk memperkuat konsolidasi partai.
Terlebih, Golkar Sulsel dinilai membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen dan menjaga soliditas internal.
Musda kali ini juga dipandang sebagai momentum penting untuk menentukan arah politik Golkar Sulsel ke depan.
Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Prof Firdaus Muhammad menilai Golkar merupakan partai maju, modern dan terbuka.
Partai Golkar juga memiliki mekanisme pemilihan ketua apalagi banyak kader siap maju.
“Semua kader memiliki kelebihan dan kekurangan namun bisa membesarkan partai jika kader solid. Musda jadi forum memilih calon yang dipilih cabang dan direstui pusat,” kata Prof Muhammad
Dengan banyaknya figur potensial yang muncul, persaingan dipastikan akan berlangsung ketat dan dinamis hingga hari pelaksanaan.
Publik pun kini menantikan siapa sosok yang akhirnya dipercaya memimpin Partai Golkar Sulawesi Selatan dalam periode mendatang.



Komentar