Wisata “Ruang Bernafas”, Aktivis Lingkungan Hidup Sebut Pengelolanya Pungli Secara Keren

ANTI CIBOL
ANTI CIBOL

Senin, 11 Februari 2019 13:39

Wisata “Ruang Bernafas”, Aktivis Lingkungan Hidup Sebut Pengelolanya Pungli Secara Keren

TROTOAR.ID, BANTAENG – Tak ada yang spesial dari tempat wisata kenamaan “Ruang Bernafas”, kecuali sikap arogansi pemilik lahan. Adalah pemuda bernama Agus Salim.

Baru seumur jagung, tempat wisata yang terletak di Desa Bonto Tangnga, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng justru tak mau ada peranan dari luar pengelolaan, selain dirinya.

Banyak pihak yang menanggapi sikap arogansi Agus. Salahsatunya aktivis pemerhati lingkungan, Fizi. Dia menyebut bahwa kegiatan wisata yang dikelola Agus sama halnya dengan melakukan eksploitasi alam.

“Ini sama saja dengan pungli, tapi dengan cara yang keren,” tutur mantan Pencinta Alam tersebut, Senin (11/2/2019).

Apalagi, lanjut dia, tidak ada peranan pemerintah yang membantu dalam pengelolaan ini. “Contoh saja, sampah satu orang yang datang bawa makanan dan minuman kemasan dan tidak membawa pulang sampahnya itu kan merusak, pun ada tempat sampahnya disitu yang dikumpulkan, itu tidak menjadi jaminan,” kata Fizi.

Sementara itu, Sertu Sahabuddin, anggota Kodim 1410 Bantaeng, saat berbincang dia mempertanyakan soal keamanan. Baginya, dalam suatu tempat pariwisata seharusnya ada yang bertindak sebagai pengamanan.

“Pengelola harusnya bekerjasama dengan aparat TNI atau Polri, misalnya supaya ada Babinsa atau Bhabinkamtibmas yang menjaga di sana, tentunya itu ada keterlibatan pemerintah. Katakanlah, tidak diminta-minta yah, ada masalah dua kelompok dan mereka bertemu di tempat wisata itu. Wah, bisa ribet, pastinya berujung perkelahian. Nah, misal hal seperti itu terjadi, siapa yang bertanggungjawab. Pengelola? Saya pikir itu berat untuk melerai,” jelas Sertu Sahabuddin.

Sementara pihak pengelola yang sempat ditemui pada Minggu (10/2/2019) sore kemarin, lebih memilih menolak berkomentar akan aktifitas pengelolaan wisatanya.

“Buang-buang waktu kalau diliput, rugi waktu saja dan rugi cerita. Buang-buang memori itu meliput,” kata dia dengan logat khas Makassar.

Seorang pengunjung yang minta dirahasiakan identitasnya mengatakan jika berfoto di tempat itu serasa diawasi. Membuatnya tidak nyaman dan berpikir tidak berkunjung lagi. “Beda sekali di tempat lain. Sudah tidak nyaman, kasar-kasar lagi pengelolanya,” ujarnya.

Pengelola berdalih tanpa diberitakan pun pengunjungnya bisa mencapai ratusan di akhir pekan. Sementara dari pantauan pada pekan kedua bulan Februari, pengunjung hanya berkisar 5-10 orang. (*)

 Komentar

Berita Terbaru
Politik05 Mei 2026 21:53
Pelantikan Ketua KNPI Sulsel Dihiasi Dukungan Tokoh Nasional dan Daerah
MAKASSAR, Trotoar.id — Pelantikan Vonny Ameliani Suardi sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan periode 2026–2029 m...
Daerah05 Mei 2026 18:09
Evaluasi PAD Triwulan I, Syaharuddin Alrif Instruksikan OPD Akselerasi Penggunaan QRIS
SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pengelola pendapatan un...
Politik05 Mei 2026 17:47
Tiga Ketua Umum KNPI Resmi Lantik Vonny Ameliani Pimpin KNPI Sulsel 2026–2029
MAKASSAR, Trotoar.id — Vonny Ameliani Suardi resmi dilantik sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan periode 2026–20...
Metro05 Mei 2026 17:11
Pemprov Sulsel Perkuat Integrasi Pengelolaan SDA Jeneberang, Sidang TKPSDA Bahas Sistem Informasi dan Kolaborasi Nasional
MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus memperkuat integrasi pengelolaan sumber daya air melalui Sidang Tim Koordinasi Pen...