Wisata “Ruang Bernafas”, Aktivis Lingkungan Hidup Sebut Pengelolanya Pungli Secara Keren

0
176

TROTOAR.ID, BANTAENG – Tak ada yang spesial dari tempat wisata kenamaan “Ruang Bernafas”, kecuali sikap arogansi pemilik lahan. Adalah pemuda bernama Agus Salim.

Baru seumur jagung, tempat wisata yang terletak di Desa Bonto Tangnga, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng justru tak mau ada peranan dari luar pengelolaan, selain dirinya.

Banyak pihak yang menanggapi sikap arogansi Agus. Salahsatunya aktivis pemerhati lingkungan, Fizi. Dia menyebut bahwa kegiatan wisata yang dikelola Agus sama halnya dengan melakukan eksploitasi alam.

“Ini sama saja dengan pungli, tapi dengan cara yang keren,” tutur mantan Pencinta Alam tersebut, Senin (11/2/2019).

Baca Juga  Bersama OPD, Diskominfo Kota Makassar Bahas Integrasi Data

Apalagi, lanjut dia, tidak ada peranan pemerintah yang membantu dalam pengelolaan ini. “Contoh saja, sampah satu orang yang datang bawa makanan dan minuman kemasan dan tidak membawa pulang sampahnya itu kan merusak, pun ada tempat sampahnya disitu yang dikumpulkan, itu tidak menjadi jaminan,” kata Fizi.

Sementara itu, Sertu Sahabuddin, anggota Kodim 1410 Bantaeng, saat berbincang dia mempertanyakan soal keamanan. Baginya, dalam suatu tempat pariwisata seharusnya ada yang bertindak sebagai pengamanan.

“Pengelola harusnya bekerjasama dengan aparat TNI atau Polri, misalnya supaya ada Babinsa atau Bhabinkamtibmas yang menjaga di sana, tentunya itu ada keterlibatan pemerintah. Katakanlah, tidak diminta-minta yah, ada masalah dua kelompok dan mereka bertemu di tempat wisata itu. Wah, bisa ribet, pastinya berujung perkelahian. Nah, misal hal seperti itu terjadi, siapa yang bertanggungjawab. Pengelola? Saya pikir itu berat untuk melerai,” jelas Sertu Sahabuddin.

Baca Juga  Dirlantas Diminta Segera Hentikan Praktek Monopoli Kepada Masyarakat

Sementara pihak pengelola yang sempat ditemui pada Minggu (10/2/2019) sore kemarin, lebih memilih menolak berkomentar akan aktifitas pengelolaan wisatanya.

“Buang-buang waktu kalau diliput, rugi waktu saja dan rugi cerita. Buang-buang memori itu meliput,” kata dia dengan logat khas Makassar.

Seorang pengunjung yang minta dirahasiakan identitasnya mengatakan jika berfoto di tempat itu serasa diawasi. Membuatnya tidak nyaman dan berpikir tidak berkunjung lagi. “Beda sekali di tempat lain. Sudah tidak nyaman, kasar-kasar lagi pengelolanya,” ujarnya.

Baca Juga  Buka Event Celebes Beauty and Fashion Week (CBFW) 2019 Danny Pomanto Bilang Begini

Pengelola berdalih tanpa diberitakan pun pengunjungnya bisa mencapai ratusan di akhir pekan. Sementara dari pantauan pada pekan kedua bulan Februari, pengunjung hanya berkisar 5-10 orang. (*)