Meski Dirawat Carena Corona, di RSWD, Wachyudi Muchsin Raih Magister Kesehatan

Awal Febri
Awal Febri

Kamis, 04 Februari 2021 21:57

Meski Dirawat Carena Corona, di RSWD, Wachyudi Muchsin Raih Magister Kesehatan

TROTOAR.ID, MAKASSAR – Meski Selan Oksiden masih merekat pada tubuhnya, Dokter Wachyudi Muchsin, yang kini berjuang melawan Viru Corona yang menjangkitinnya, tak menghalangi dirinya untuk mengikuti Ujian Tutup pada program Pasca Sarjana Ilmu kesehatan di Universitas Muslim Indonesia.

Dokter, meski mengikuti ujian secara virtual mempu menjawab apa yang menajdi pertanaan oleh sejumlah dosen pengujinya, hal hasil dirinya dinyatakan lulus dengan perdikat sangat memuaskan dan berhak menyandang gelar M.Kes

Dokter Yudi yang akrab disapa Dokter Koboi ini, meraih IPK 3,28 setelah berhasil mempertahankan tesisnya yang juga berkaitan dengan Covid-19.

Proses Dokter Koboi untuk bisa meraih magister kesehatan sangat tidak mudah. Dokter Yudi menjalani ujian dari Ruang Perawatan Private Care Center (PCC) RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar, Kamis (4/2/2021).

Saat itu, ia baru saja keluar dari Ruang ICU Covid-19, karena terpapar Covid-19 dengan kasus gejala berat dengan hasil foto pnemonia bilateral dengan lesi mencapai 80 persen di kedua parunya

“Alhamdulillah, saya bisa melalui semua ini dengan baik. Tidak lain karena doa dan semangat dari keluarga dan sahabat semua,” kata Dokter Yudi melalui video call usai menjalani ujian tutup.

Dokter Yudi tampak lebih segar dengan jas hijau dan peci hitam. Walau di hidungnya masih melekat alat bantu oksigen untuk memudahkannya bernafas.

“Masih sesak, tapi jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Hasil swab juga sudah kali dua negatif, makanya dokter yang merawat memindahkan ke ruang perawatan,” katanya.
 
Judul Tesis yang diangkat adalah ‘Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Masyarakat Melaksanakan Protokol Kesehatan Covid-19 di Kota Makassar’.

Dokter Yudi mengatakan, ia menganalisis faktor predisposisi terhadap pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19 di Kota Makassar dan menganalisis faktor penguat terhadap protokol kesehatan Covid-19.

“Kepatuhan menjadi kunci utama terhadap upaya memberantas dan mencegah terjadinya penularan,” tegasnya.

Secara khusus Dokter Yudi menyampaikan terima kasih kepada para penguji dan pembimbing yang tak lelah menyemangatinya.

“Terima kasih tak terhingga kepada Dr H Reza Aril Ahri SKM MKes, Dr Arman SKM MKes, Dr Drs H Haeruddin SKM MKes, Dr Hj Een Kurnaesih SKM MKes, dan Dr dr HA Muh Multazam MKes,” ujarnya.

Dokter Yudi saat dihubungi menceritakan ia awalnya nyaris menyerah. Kesibukan sebagai relawan Covid-19 sekaligus Humas IDI Makassar menyampaikan aspirasi dokter dan tenaga kesehatan serta mengingatkan masyarakat dampak Covid-19 membuat waktunya tersita untuk penanganan dan pencegahan Covid di Kota Makassar bahkan hingga daerah kabupaten/kota di Sulsel.

“Ujian terberat saat saya saat terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya. Padahal, saat itu saya sudah lolos skrining untuk vaksinasi,” ungkapnya.

Dokter Yudi menceritakan, ia dilarikan ke RS Awal Bros Makassar karena sesak yang tak kunjung reda dengan proses sangat cepat. Hal ini sungguh pengalaman yang tak bisa dilupakannya.

Dua hari di RS Awal Bros ia dirujuk ke RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar, sebab hasil foto kedua parunya makin meluas dan langsung masuk ke ICU. Saturasinya terus menurun. Sesak semakin berat. Ia juga kehilangan nafsu makan dan minum dengan instensitas demam sangat tinggi.

“Rupanya saat itu virus Covid-19 sudah menyerang sampai ke paru-paru,” akunya.
 
Di saat kritis itulah, kata Yudi, ia mengingat semua kebaikan yang sudah Allah SWT berikan. “Di tengah kesulitan pasti ada kemudahan. Saya percaya itu,” ungkapnya.

Spirit pantang menyerah inilah yang ia coba bangun setiap hari. Semangat untuk sembuh dan berjuang melawan Covid-19 dari ruang Infection Center Covid-19
 
Di saat yang sama, ia juga memikirkan jadwal ujian yang sudah disusun sebelum terpapar Covid-19.

“Alhamdulillah, Pascasarjana UMI memberi waktu sampai saya sembuh baru melaksanakan ujian minimal sudah pindah dari Infection Center Covid-19 ke ruang perawatan. Intinya, kata Dokter Yudi adalah doa.

“Jangan anggap enteng doa-doa. Saya pun percaya bisa seperti sekarang karena ada banyak doa dan cinta dari keluarga dan sahabat tentunya dengan bantuan pengobatan medis dengan full support dokter serta tenaga kesehatan dalam penanganan sangat besar selain juga obat-obatan, tapi itu semua hanyalah media untuk proses kesembuhan yang paling utama adalah doa serta berserah kepada Allah SWT yakin bisa sembuh,” terangnya. (*)

Penulis : Dul

 Komentar

Berita Terbaru
Uncategorized22 Agustus 2026 22:56
Atasi Krisis Air Petani, Gubernur Sulsel Salurkan Bantuan Sumur Bor untuk 40 Hektare Sawah di Gowa
GOWA, Trotoar.id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyalurkan bantuan sumur bor kepada kelompok tani di Desa Bori Tallasa, Kecamatan Pallangga...
Parlemen22 Agustus 2026 18:24
Salman Alfarizi Karsa Serap Aspirasi Warga Tamamaung, Beasiswa Jadi Sorotan
MAKASSAR, Trotoar.id — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Salman Alfarizi Karsa, menyerap langsung aspirasi warga dalam kegiatan Pengawasan APB...
Nasional22 Agustus 2026 17:18
Presiden Prabowo Cek Langsung Karhutla di Kubu Raya, Perintahkan Tambah Pompa dan Sumur Bor
KUBU RAYA, — Presiden Prabowo Subianto turun langsung mengecek penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Ray...
Hukum22 Agustus 2026 17:09
MA Larang JPU Ajukan Banding dan Kasasi atas Putusan Bebas, SEMA 4/2026 Terbit
JAKARTA, Trotoar.id — Mahkamah Agung (MA) menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2026 yang menegaskan bahwa jaksa penuntut umu...