Gadis Belia yang Mati karena Menentang Tirani Fasista

Awal Febri
Awal Febri

Kamis, 04 Maret 2021 23:23

Kyal Sin atau Angel yang tewas karena ditembak polisi, peluru menembus kepalanya, Kamis. | Ist/Leo.
Kyal Sin atau Angel yang tewas karena ditembak polisi, peluru menembus kepalanya, Kamis. | Ist/Leo.

TROTOAR.id—Kyal Sin, yang juga dikenal dengan nama Angel seorang gadis belia berusia 19 tahun tewas ditembak oleh militer Myanmar. Kematiannya atas memperjuangkan kekuasaan sipil agar tak direbut oleh kelompok yang dianggap fasis itu.

Di berbagai belahan dunia lainnya, gadis seusia Angel mungkin sedang bermain dalam aplikasi tik tok, atau bergosip bersama teman-teman sebayanya.

Tapi berbeda dengan Angel yang terbunuh dengan luka tembak di kepala saat berdemonstrasi menentang kudeta militer di Myanmar, Kamis. Kepalanya tertembus timah panas yang diletuskan polisi.

Di lokasi aksi, Angel nampak mengenakan kaos berwarna hitam bertuliskan ‘Everything will be OK’. Tapi ia sepertinya sudah menyadari bahwa ia sedang dalam bahaya di ambang kematian menentang tirani.

Bahkan seorang temannya, Kyaw Zin Hein, membagikan salinan pesan terakhirnya di media sosial. Pesan itu berbunyi seperti ini, “Ini mungkin terakhir kali saya mengatakan ini. Sangat mencintaimu. Jangan lupa.”

Angel  telah memposting rincian medisnya di Facebook dan sebuah permintaan agar organ tubuhnya disumbangkan jika dia mati dalam keadaan melawan. Seketika pesan duka dan pujian begitu cepat meluap di berandanya pada hari Rabu (3/3/2021).

Myat Thu, yang bersamanya saat protes, mengenang Angel sebagai perempuan muda pemberani yang menendang pipa air hingga terbuka. Ketika air itu mengalir, para pengunjuk rasa segera mencuci gas dari mata mereka, dan segera melemparkan tabung gas air mata kepada polisi.

“Ketika polisi melepaskan tembakan, dia mengatakan kepada saya ‘Duduk! Duduk! Peluru akan mengenai kamu. Kamu terlihat seperti berada di atas panggung,” kenang Myat Thu, yang berusia 23 tahun.

“Dia merawat dan melindungi orang lain sebagai seorang kawan,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters.

Angel ada di antara ratusan orang yang berkumpul dengan damai di Mandalay, mengecam kudeta dan menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi.

Sebelum penyerangan polisi, Angel dapat didengar di video berteriak, “Kami tidak akan lari” dan “darah tidak boleh ditumpahkan”.

“Polisi pertama melempar mereka dengan gas air mata,” kata Myat Thu. Kemudian peluru datang.

Gambar yang diambil sebelum dia dibunuh menunjukkan Angel berbaring untuk berlindung di samping spanduk protes, dengan kepala sedikit terangkat.

Kemudian semua orang berpencar.

Tak lama kemudian, dia mendapat pesan: Seorang gadis telah meninggal.

“Saya tidak tahu bahwa itu dia,” kata Myat Thu, tetapi gambar segera muncul di Facebook yang menunjukkan dia berbaring di samping korban lain.

Pahlawan Ini Seorang Penari

Myat Thu mengenal Angel di kelas taekwondo. Dia adalah seorang ahli seni bela diri serta penari di DA-Star Dance Club Mandalay.

Dia juga berbagi kebanggaan ketika memberikan suara untuk pertama kalinya pada pemilu 8 November 2020. 

Angel memposting foto dirinya sedang mencium jarinya yang berwarna ungu, tanda bahwa dia telah menggunakan hak pilih.

“Pilihan pertama saya, dari lubuk hati saya,” dia memposting, dengan enam hati merah. “Saya melakukan tugas saya untuk negara.”

Namun kemudian tantara melakukan perebutan kekuasaan dan membatalkan hasil pemilu. Mereka menuduh bahwa kemenangan besar partai Suu Kyi adalah sebuah kecurangan. Namun tuduhan ini telah ditolak oleh komisi pemilihan.

Pada hari kudeta pada 1 Februari 2021, Angel bercanda di Facebook bahwa dia tidak tahu apa yang terjadi jika internet terputus.

Namun pada hari-hari berikutnya, dia berdiri tegak di jalan sambil mengibarkan bendera merah Partai Liga Nasional untuk Demokrasi. Dalam satu set gambar, dia berpose saat ayahnya mengikat pita merah di pergelangan tangannya.

Dia terus maju bahkan ketika protes semakin berbahaya dan ketika junta mengerahkan pasukan tempur dengan senapan serbu bersama polisi.

Seperti Angel, lebih dari selusin pengunjuk rasa lainnya telah terbunuh oleh tembakan di kepala. Hal ini meningkatkan kecurigaan di antara kelompok HAM bahwa mereka sengaja menjadi sasaran. Seorang wanita lain yang hanya menonton, juga ditembak di kepalanya, di Mandalay, pada hari Minggu.

Ia tahu sedang mempertaruhkan nyawanya

“Dia gadis yang bahagia, dia mencintai keluarganya dan ayahnya juga sangat mencintainya,” kata Myat Thu, yang kini bersembunyi. 

“Kami tidak dalam perang. Tidak ada alasan untuk menggunakan peluru tajam pada orang. Jika mereka manusia, mereka tidak akan melakukannya.”

Penulis : Leonard/Hel

 Komentar

Berita Terbaru
Daerah02 Mei 2026 23:37
Sekretaris Kwarcab Sidrap Buka Musyawarah Ranting Baranti 2026
SIDRAP, Trotoar.id — Gerakan Pramuka Kwartir Ranting (Kwarran) Baranti menggelar Musyawarah Ranting (Musran) Tahun 2026 di UPT SD Negeri 9 Benteng p...
Metro02 Mei 2026 23:34
Di Pelantikan HDCI, APPI Tawarkan Makassar sebagai Pusat Touring Nasional
MAKASSAR, Trotoar.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyambut positif berbagai event berskala nasional maupun kegiatan komunitas yang dige...
News02 Mei 2026 23:30
Pesan Wabup Nurkanaah untuk Wisudawan UT: Berikan Kontribusi Terbaik bagi Daerah
SIDRAP, Trotoar.id — Wakil Bupati Sidenreng Rappang, Nurkanaah, menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada acara wisuda Universitas Terbuka Makas...
News02 Mei 2026 23:15
Makassar Tembus Peringkat Nasional Kota Toleran
MAKASSAR, Trotoar.id — Kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, kembali menorehkan pengakuan di level nasional. Di tengah dinamika sosial...