KAHMI

Reformulasi dan Reorientasi Pengaderan HMI

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Senin, 14 Februari 2022 04:53

Presidium KAHMI Sulsel M Fauzi
Presidium KAHMI Sulsel M Fauzi

Oleh Muhammad Fauzi, Presidium MW KAHM Sulsel, Anggota Komisi V DPR

Nama Cak Nur nyaris tidak pernah absen di dalam proses kaderisasi. Saat LK I, pemateri acapkali menceritakan kiprah mantan Ketum PB HMI itu. Termasuk pemikiran-pemikirannya.

Pemikiran Cak Nur memang melampaui zamannya. Visioner. Relevan dengan kondisi hari ini. Tak heran apabila banyak yang merujuk dan mengadopsinya. Termasuk figur-figur di luar HMI. Dia bahkan disandingkan dengan Gus Dur. Dus, romantisme atas kebesaran Nurcholis Madjid, nama lengkap Cak Nur, terus “didaur ulang” sampai sekarang. Lantas, seberapa banyak kader yang menapaki jalannya?

Nyaris setiap pekan sepanjang tahun, LK I–ajang melipatgandakan kader–terus berlangsung. Kerja-kerja kaderisasi tidak pernah kering sekalipun di tengah pandemi. Proses penggemblengan menghasilkan banyak kader HMI yang menjadi pesohor, termasuk mengisi pos-pos strategis, tidak dapat dinafikan. Jumlahnya mungkin ribuan.

Sayangnya, setelah lebih dari 16 tahun Cak Nur berpulang, tak banyak kader HMI yang dapat melanjutkan kiprahnya. Ada pun masih dapat dihitung jumlahnya. Endang Saifuddin Anshari, Mahmum Djunaidi, Agussalim Sitompul, Fachry Ali, Yudi Latief, dan Alfan Alfian, misalnya. Nama-nama yang beredar selalu berotasi di situ-situ saja. Kita besar secara statistik, tetapi kering kerontang dalam isi.

Baca Juga  Diguyur Rp500 Juta, Muh Fauzi Berharap Desa Wisata Rinding Allo Topang Ekonomi Warga

Apabila menurut ke belakang, ini tidak lepas dari perjalanan kaderisasi. Banyak kader yang “dilepas” bahkan berkembang sebelum proses kaderisasinya tuntas, kafah. Dampaknya, kemandirian sulit tercapai karena minimnya penghargaan pada proses. Merencanakan hingga mengadakan aktivitas keorganisasian–di luar agenda wajib kaderisasi dan pergantian pengurus–pun akhirnya menjadi “barang mewah”. Kalaupun ada cenderung monoton. Papa gagasan dan terobosan.


HMI merayakan dies natalis ke-75 tepat pada 5 Februari lalu. Usia ini tergolong matang dan dewasa dalam siklus kehidupan. Dies natalis tahun ini mengusung tema “Arah Baru HMI; Berdaya Bersama Menuju Indonesia Emas 2045”. Sebuah visi besar dan serius. Seberapa kuat komitmen untuk mewujudkannya?

Mencetak insan berkualitas sejatinya bukan hal muskil bagi HMI mengingat gennya berasal dari kaum terdidik. Ia dilahirkan dari para pelajar “beruntung”. Hanya 8,5% dari total populasi penduduk Indonesia (Susenas BPS 2018). Wajar kemudian jika HMI bertujuan melahirkan insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah Swt.

Baca Juga  16 ASN Luwu Utara Ikut Ujian Dinas dan Penyesuaian Ijazah

Misi besar tersebut menugaskan kader HMI seperti mata air. Ia menghidupi. Agar berfaerdah bagi banyak orang, syarat-syarat tertentu harus terjamin. Sumber mata air tidak dirusak dan dicemari tangan-tangan jahil sehingga jernih dan laik pakai. Pun harus terus mengalir tanpa henti.

Kaum terdidik dan unggul secara kuantitas mestinya menjadi modal yang dapat dikapitalisasi. Ia mestinya disesuaikan dengan perkembangan zaman. Apalagi, modernitas membawa berbagai konsekuensi. Menurut Giddens (1990), kehidupan modern bak panser raksasa (juggernaut), mesin berkekuatan besar dan memiliki kuasa penuh atas dirinya sendiri. Ia dapat dikendalikan, tetapi pada tingkat tertentu sehingga tindakan sebuah sistem tidak pernah dapat diramalkan sepenuhnya.

Kekhawatiran akan masa depan yang diselimuti perkembangan teknologi ini telah diprediksi Jepang. “Negeri Sakura” mencemaskan dominasi teknologi mengabaikan sisi manusia. Kabinet lantas mencetuskan inisiatif “Society 5.0” dalam Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5. Gagasan ini–yang mengusung semangat memanusikan manusia dengan teknologi–telah dipresentasikan kepada sejumlah perusahaan dalam event CeBIT 2017.

Baca Juga  Makassar–Yokohama Perkuat Kolaborasi Internasional Proyek Kota Nol Karbon

Seperti revolusi industri 4.0, society 5.0 juga menuntut kemampuang kognitif, softskill, dan teknologi untuk “menghidupinya”. Kompleksnya kehidupan manusia modern membuat peran manusia sebagai mahluk sosial menjadi vital. Kolaborasi menjadi penting. Bukan lagi mengedepankan kompetisi satu sama lain. Pun kita tak bisa lagi berdiam diri bahkan hanya mengamati dari kejauhan dalam merespons dinamika zaman. Tetapi, harus terlibat aktif.

Semoga peringatan dies natalis tahun ini tidak sekadar seremonial. Namun, menjadi momentum untuk berkontempelasi dan introspeksi dalam memajukan himpunan dengan menata ulang proses kaderisasi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sehingga, HMI betul-betul menjadi kawah candradimuka dalam mencetak insan akademis, pencipta, dan pengabdi. Keberadaannya sebagai organisasi kader juga dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas dan bangsa.

Penulis : M Fauzi

 Komentar

Berita Terbaru
Metro24 Oktober 2026 21:57
Fatmawati Rusdi: Sulsel Siap Jadi Simpul Produksi dan Distribusi Pangan Sulampua
11 / 100 Didukung oleh Rank Math SEO Skor SEO MAKASSAR, Trotoar.id — Sulawesi Selatan memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra produksi sekali...
Metro24 Oktober 2026 17:52
Sulsel Fest 2026 Hadirkan 60 UMKM, Sediakan 40 Stan Gratis
12 / 100 Didukung oleh Rank Math SEO Skor SEO MAKASSAR, Trotoar.id — Festival Koperasi dan UMKM Sulawesi Selatan 2026 (Sulsel Fest) menghadirkan pel...
Metro24 Oktober 2026 16:46
Aliyah Mustika Ilham Resmikan Identitas Baru MOMTOMOMS, Dorong Perempuan Saling Menguatkan
9 / 100 Didukung oleh Rank Math SEO Skor SEO MAKASSAR, Trotoar.id — Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, mengapresiasi peran komunitas pe...
Metro24 Oktober 2026 13:49
Pj Sekda Sulsel Buka Musda III Permabudhi, Perkuat Kerukunan dan Kepedulian Lingkungan
10 / 100 Didukung oleh Rank Math SEO Skor SEO MAKASSAR, Trotoar.id — Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Winarno Eka Putra, m...