Makassar, Trotoar.id – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melaksanakan salat Zuhur berjemaah perdana di Masjid Rahmatul Ilham, kompleks Balai Kota Makassar, Senin (3/3).
Kegiatan ini menjadi momentum pertama bagi Munafri setelah resmi menjabat sebagai Wali Kota Makassar.
Menariknya, dalam kesempatan tersebut, Munafri tidak hanya ikut berjemaah, tetapi juga bertindak sebagai muazin dengan mengumandangkan azan Zuhur.
Baca Juga :
Para pegawai lingkup Pemerintah Kota Makassar turut hadir dalam salat berjemaah tersebut.
Usai salat, Munafri menyampaikan beberapa pesan penting kepada jemaah. Ia menegaskan bahwa jabatan hanyalah simbol duniawi yang tidak perlu dibawa ke dalam masjid.
“Saya ingin menyampaikan bahwa ini pertama kalinya saya masuk Balai Kota sebagai Wali Kota Makassar. Jabatan ini hanya simbol duniawi, maka saat berada di masjid, kita harus menanggalkan segala atribut keduniaan dan kembali pada nilai-nilai spiritual,” ujarnya.
Selain itu, Munafri menginginkan masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat diskusi yang bermanfaat bagi pegawai di sela waktu salat.
“Masjid ini harus kita manfaatkan secara optimal, bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga sebagai ruang diskusi dan refleksi. Saya tidak ingin masjid menjadi tempat untuk sekadar beristirahat saat jam kerja,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kebersihan masjid. Munafri meminta seluruh pegawai yang beribadah di masjid untuk tidak meninggalkan sisa kotoran, terutama di area wudu dan toilet.
“Saya sangat memperhatikan kebersihan masjid. Pastikan tempat wudu dan toilet selalu bersih. Jangan tinggalkan sisa kotoran, karena kebersihan adalah bagian dari keimanan,” imbuhnya.
Menutup pesannya, Munafri mengajak seluruh pegawai Pemkot Makassar untuk membiasakan salat berjemaah sebagai bagian dari penguatan spiritualitas dan kebersamaan.
“Salat berjemaah bukan hanya ibadah, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan di antara kita. Mari kita jadikan ini sebagai budaya di lingkungan pemerintahan,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi Munafri dalam membawa nilai-nilai religiusitas ke dalam kepemimpinannya di Kota Makassar.




Komentar