Madinah, Trotoar.id — Gelombang pertama kedatangan jamaah haji asal Indonesia mulai memadati Kota Madinah sejak awal Mei 2025.
Sekitar 30.000 jamaah dari berbagai embarkasi telah tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, dan disambut oleh petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Setibanya di Tanah Suci, para jamaah langsung diarahkan menuju hotel yang telah disiapkan oleh Kementerian Agama.
Baca Juga :
Petugas haji tampak sigap dalam memberikan layanan, terutama bagi jamaah lanjut usia (lansia) yang jumlahnya cukup signifikan dalam kloter-kloter awal.
Salah satu jamaah asal Kota Makassar, Mustari, mengungkapkan rasa syukur dan haru karena akhirnya dapat menunaikan ibadah haji setelah menunggu selama 15 tahun.
“Alhamdulillah, ini adalah anugerah terbesar dalam hidup saya dan istri. Setelah menunggu selama 15 tahun, kami akhirnya dipanggil untuk berhaji tahun ini,” ucapnya penuh haru.
Namun, di tengah antusiasme tersebut, muncul sejumlah catatan dari jamaah dan pengamat haji terkait pelayanan bagi jamaah lansia, khususnya dalam hal konsumsi makanan.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa menu makanan yang disajikan kepada jamaah lansia masih disamakan dengan jamaah lainnya, tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan mereka yang umumnya mengidap penyakit bawaan seperti hipertensi, jantung, dan asam urat.
“Kami berharap ada perhatian khusus terhadap menu makan lansia. Makanan yang terlalu asin atau mengandung lemak tinggi tentu sangat berisiko bagi mereka,” ujar salah satu petugas kloter yang enggan disebutkan namanya.
Dengan semakin meningkatnya jumlah jamaah lansia setiap tahunnya, berbagai pihak mendesak pemerintah agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan kesehatan dan konsumsi makanan bagi kelompok rentan ini.
Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat memastikan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berjalan lebih baik, manusiawi, dan sesuai dengan kebutuhan spesifik jamaah, terutama yang lanjut usia.



Komentar