Makassar, Trotoar.id — Pemerintah Kota Makassar menjalin kolaborasi strategis dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan guna memperkuat kurikulum pendidikan agama sejak dini di tingkat Sekolah Dasar (SD).
Langkah ini dianggap sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter, etika, dan akhlak generasi muda di tengah tantangan zaman modern.
Pertemuan yang berlangsung di Balai Kota Makassar ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dan dihadiri jajaran Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Sulsel, sekaligus menjadi bagian dari persiapan Musyawarah Wilayah III Tarjih Muhammadiyah Sulsel yang dijadwalkan pada 1–3 Agustus 2025 mendatang.
Wali Kota Munafri menegaskan bahwa pendidikan agama tidak boleh hanya berhenti pada tataran teori atau hafalan, tetapi harus menjadi jalan utama membentuk etika, adab, dan moralitas anak sejak usia dini.
“Kurikulum agama di SD harus menjadi pilar utama pembentukan karakter. Kita ingin generasi Makassar tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga berakhlak,” ujar Munafri.
Ia mengusulkan pengembangan kurikulum percontohan berbasis nilai-nilai agama dan budaya lokal, yang bisa menjadi model nasional dalam membentuk karakter anak di era teknologi dan globalisasi.
Wakil Ketua PWM Sulsel, Prof. Dr. Zulfahmi, menyambut baik langkah Pemkot Makassar.
Ia menilai kerja sama ini menjadi angin segar di tengah degradasi nilai dan krisis moral yang mulai terasa di kalangan generasi muda.
“Pendidikan agama bukan sekadar pengetahuan, tetapi membentuk sikap, adab, dan tata krama. Ini adalah fondasi masyarakat beradab,” tegasnya.
Prof. Zulfahmi juga menekankan bahwa masyarakat Makassar yang agamis sangat tepat jika nilai-nilai agama dijadikan pendekatan utama dalam pendidikan dasar.
Selain pendidikan agama, pertemuan ini juga membahas agenda Seminar Nasional Tarjih yang menjadi bagian dari Musyawarah Wilayah III Muhammadiyah. Di antaranya:
Seminar Tarjih I: Menyoroti respons Muhammadiyah terhadap isu-isu sosial-kontemporer.
Seminar Tarjih II: Menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, yang akan membahas tantangan dan peluang Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan nasional.
“Kalau tidak disikapi bijak, AI bisa menggerus nilai-nilai dasar pendidikan dan memperparah kesenjangan karakter,” kata Prof. Zulfahmi.
Majelis Tarjih Muhammadiyah juga menyampaikan pentingnya menyaring pengaruh budaya populer dan tren sosial yang bertentangan dengan syariat.
Mereka akan menyusun fatwa dan panduan keagamaan yang responsif terhadap perubahan zaman, termasuk soal makanan halal, etika digital, dan praktik sosial keseharian.
“Tarjih hadir untuk memberi panduan yang mencerahkan, bukan membingungkan. Kita ingin umat paham, bukan terjebak mitos atau budaya yang menyesatkan,” tegasnya.
Kedua belah pihak sepakat untuk menyusun kurikulum yang menggabungkan ajaran agama, pendidikan karakter, dan budaya lokal Makassar.
Kurikulum ini diharapkan bisa menjadi rujukan nasional yang memperkuat nilai moral dan etika di dunia pendidikan.
“Kalau kurikulum ini berhasil, bukan hanya Makassar yang merasakan manfaatnya. Kita bisa jadi contoh nasional dalam pendidikan karakter,” tutup Munafri.




Komentar