Kosmetik Ilegal

BBPOM Grebek Toko dan Rumah produksi Kosmetik Ilegal di Sidrap

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Senin, 27 Oktober 2025 19:16

BBPOM Merilis Hasil Pengrebekan Kosmetik Ilegal di Kabupaten Sidrap
BBPOM Merilis Hasil Pengrebekan Kosmetik Ilegal di Kabupaten Sidrap

MAKASSAR, Trotoar.id– Operasi gabungan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar bersama kepolisian dan kejaksaan berhasil membongkar praktik produksi dan peredaran kosmetik ilegal di Kabupaten Sidrap. 

Dari rumah toko (ruko) yang digerebek, petugas menemukan 4.771 produk kosmetik tanpa izin edar dengan kandungan berbahaya, termasuk merkuri.

Ruko tersebut diketahui milik seorang perempuan berinisial P (32). Tempat itu tidak hanya dijadikan lokasi penjualan, tetapi juga dipakai sebagai tempat produksi kosmetik pemutih ilegal.

“Pelaku tidak hanya menjual produk ilegal, tetapi juga memproduksi kosmetik pemutih secara mandiri di lantai dua ruko tersebut,” tegas Kepala BBPOM Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan, Senin (27/10/2025).

Baca Juga  Kasus Hoax Covid-19 Ditangani Polri Sepanjang 2020 Lalu

Dari hasil penindakan, BBPOM menaksir nilai ekonomi barang bukti mencapai Rp728 juta. Produk dipasarkan dengan harga Rp35 ribu hingga Rp700 ribu per item, baik secara offline di toko maupun online melalui Instagram dan WhatsApp. 

Berdasarkan perhitungan, pelaku meraup omzet sekitar Rp20–30 juta per bulan.

BBPOM menemukan sejumlah produk racikan yang diproduksi pelaku menggunakan peralatan sederhana, antara lain, MJB Lotion Luxury Touch Yourski, SP Booster Original Whitening Booster, UV Dosing Super Thai

Ketiganya telah diuji laboratorium dan terbukti positif mengandung merkuri, zat berbahaya yang dapat merusak ginjal, sistem saraf, hingga menyebabkan kanker kulit.

Baca Juga  Kapolda Sulsel Perketat Investigasi Peredaran Kosmetik Berbahaya di Sulsel

Selain racikan sendiri, pelaku juga memperjualbelikan kosmetik impor ilegal dari Thailand seperti Alpha Arbutin Collagen Whitening Capsule. Barang-barang disembunyikan di bawah meja kasir, rak belakang, hingga lantai dua untuk menghindari razia.

Investigasi BBPOM turut mengungkap bahwa pelaku merupakan residivis. Pada tahun 2016, ia pernah divonis 6 bulan penjara dalam kasus kosmetik ilegal.

Hal ini menunjukkan bahwa peredaran kosmetik berbahaya masih menjadi bisnis menggiurkan dan kerap menimbulkan pelaku kambuhan (residivis).

Baca Juga  Bupati Bulukumba Minta BBPOM Proaktif Awasi Obat dan Makanan

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 435 jo. Pasal 138 ayat (2) UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, dengan ancaman Pidana penjara hingga 12 tahun, atau Denda maksimal Rp5 miliar.

Saat ini BBPOM masih memeriksa saksi dan ahli, serta melakukan pemanggilan terhadap pelaku yang dilaporkan sedang berada di luar negeri untuk pengobatan.

Sepanjang tahun 2025, BBPOM Makassar telah menangani tujuh perkara peredaran kosmetik ilegal dengan total barang bukti hampir Rp3 miliar. 

Maraknya kasus ini menunjukkan masih tingginya permintaan pasar terhadap kosmetik pemutih instan tanpa memperhatikan keamanan dan izin edar.

Penulis : Awal

 Komentar

Berita Terbaru
Politik06 November 2026 22:26
Ribuan Massa Padati Harlah ke-15 NasDem di Sidrap, 212 Kader Penggerak Resmi Dilantik
SIDRAP, TROTOAR.ID — Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-15 Partai NasDem di Sulawesi Selatan menjadi momentum konsolidasi kekuatan politik partai hin...
Metro06 November 2026 21:02
IPM Sulsel 2026 Tembus 76,66, Bone Catat Pertumbuhan Tertinggi
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Kualitas pembangunan manusia di Sulawesi Selatan menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pemban...
Politik06 November 2026 16:39
IAS Minta Pengurus Golkar Sulsel Melek Media dan Digital, Jangan Gagap Zaman
JAKARTA, TROTOAR.ID — Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), meminta seluruh jajaran pengurus dan kader Golkar di...
Daerah06 November 2026 15:36
Langkah Sidrap Membangun Kesejahteraan Berbuah Anugerah Cita Negeri 2026
JAKARTA, TROTOAR.ID — Upaya Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kualitas kesehatan, da...