MAKASSAR, Trotoar.id — Dukungan publik terhadap rencana pembangunan Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Makassar terus menguat.
Mayoritas masyarakat disebut menyetujui proyek strategis tersebut sebagai solusi jangka panjang penanganan sampah perkotaan.
Pemerhati publik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia, Ras Md, mengungkapkan hasil survei lembaganya menunjukkan sebanyak 84 persen masyarakat mendukung kelanjutan proyek PSEL.
“Sebanyak 84 persen masyarakat menyatakan setuju agar proyek PSEL dilanjutkan atau dituntaskan. Sementara hanya 3,8 persen yang tidak setuju, dan sisanya tidak memberikan jawaban,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Selain tingkat persetujuan, survei tersebut juga mengukur preferensi lokasi pembangunan.
Hasilnya, 43,3 persen responden memilih kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa Antang di Kecamatan Manggala sebagai lokasi paling tepat.
“Sementara 27,3 persen responden menginginkan tetap di lokasi sebelumnya di Tamalanrea, 6 persen memilih lokasi lain, dan 23,3 persen tidak mengetahui atau tidak menjawab,” jelasnya.
Survei ini menggunakan metode multistage random sampling terhadap 600 responden di seluruh wilayah Kota Makassar, dengan margin of error ±4,08 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan pada Februari 2026.
Ras Md menilai, tingginya dukungan publik tersebut menjadi legitimasi kuat bagi Pemerintah Kota Makassar untuk terus mendorong realisasi proyek PSEL.
Di sisi lain, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan komitmen pemerintah kota dalam mempercepat pembangunan proyek tersebut yang masuk dalam kategori Proyek Strategis Nasional (PSN).
Hal itu disampaikan usai dirinya mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang membahas perkembangan dan roadmap PSEL di sejumlah daerah.
Menurut Munafri, pembangunan PSEL di kawasan TPA Tamangapa Antang merupakan pilihan paling efisien, baik dari sisi teknis maupun pembiayaan.
“Kalau dibangun di lokasi baru, tentu membutuhkan biaya tambahan, terutama untuk transportasi sampah. Sementara jika di TPA, jaraknya dekat sehingga biaya bisa lebih efisien,” ujarnya.
Selain efisiensi anggaran, ia juga menilai lokasi tersebut lebih minim potensi penolakan sosial karena telah lama difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir.
Munafri menambahkan, kontribusi PSEL dalam penanganan sampah diperkirakan berada di kisaran 14 hingga 15 persen, sehingga tetap perlu dikombinasikan dengan metode lain secara terintegrasi.
“PSEL ini salah satu cara paling ampuh, tapi tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada langkah lain yang berjalan paralel,” jelasnya.
Dari sisi teknis, Pemkot Makassar juga memastikan lokasi TPA Antang memenuhi syarat, termasuk ketersediaan sumber air yang didukung keberadaan Sungai Kajenjeng di sekitar kawasan.
Dengan dukungan publik yang kuat serta kesiapan pemerintah, pembangunan PSEL di Makassar diharapkan menjadi solusi strategis dalam mengatasi persoalan sampah, sekaligus membuka peluang pemanfaatan energi baru yang ramah lingkungan.
Pemkot Makassar juga terus mendorong penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) guna menekan volume sampah, meningkatkan kualitas lingkungan, serta menciptakan nilai ekonomi dari pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Pemerintah Kota Makassar akan memusatkan pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah di…
WAJO — Ancaman abrasi Sungai Walanae di wilayah perbatasan Kabupaten Wajo dan Bone kian mengkhawatirkan.…
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Pemerintah Kota Makassar kembali menorehkan prestasi di bidang tata kelola keuangan daerah…
SIDRAP, TROTOAR.ID — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) tancap gas memperjuangkan pemulihan infrastruktur vital pascabencana.…
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Sejumlah anggota DPRD Kota Parepare mengajukan usulan agar aset lahan seluas sekitar…
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Nilai-nilai moral dan kearifan lokal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kembali digaungkan melalui…
This website uses cookies.