
Makassar, Trotoar.id — Pagi itu di kawasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Makassar, suasana terasa berbeda.
Di tengah permukiman yang dihuni beragam latar belakang suku dan agama, sebuah langkah simbolik dimulai peletakan batu pertama Gerbang Moderasi Indonesia.
Bukan sekadar seremoni, momen ini menjadi penanda lahirnya sebuah gagasan besar menghadirkan simbol nyata tentang bagaimana keberagaman dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

Di lokasi itulah, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, bersama Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memulai pembangunan gerbang yang diharapkan menjadi ikon toleransi pertama di Indonesia.
Bagi Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi kehadiran Gerbang Moderasi Indonesia bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.
Ia adalah refleksi dari perjalanan panjang kota ini dalam merawat keberagaman.
Makassar, yang dikenal sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, adalah ruang perjumpaan berbagai budaya, agama, dan kepentingan.

Di kota ini, perbedaan bukan sesuatu yang dihindari, tetapi dikelola.
“Alhamdulillah, sekarang Kota Makassar berada di peringkat sembilan kota paling toleran di Indonesia,” ungkap Appi dalam sambutannya.
Pencapaian itu bukan angka semata. Ia menjadi cermin dari kerja kolektif berbagai pihak pemerintah, tokoh agama, hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang terus menjaga harmoni di tengah dinamika kota besar.
Pemilihan kawasan BTP sebagai lokasi pembangunan gerbang bukan tanpa alasan.
Di kawasan ini, keberagaman hadir dalam bentuk paling nyata.
Masjid, gereja, dan pura berdiri berdampingan. Warga dari berbagai latar belakang hidup dalam interaksi yang cair, tanpa sekat yang kaku.
Di sinilah makna moderasi beragama menemukan konteksnya.
“Di sini pemukiman yang sangat multi-etnis. Ada gereja, ada masjid, ada pura,” ujar Appi, menggambarkan wajah BTP sebagai miniatur Indonesia.
Gerbang yang dibangun di tengah kawasan ini diharapkan bukan hanya menjadi penanda fisik, tetapi juga pengingat bahwa harmoni bisa tumbuh dari ruang-ruang sederhana.
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Gerbang Moderasi Indonesia bukan sekadar bangunan.
Baginya, kekuatan utama dari gerbang ini terletak pada makna yang dibawanya.
“Kehadiran monumen seperti ini jangan dilihat dari besar kecilnya, tetapi dari dampaknya,” ujarnya.
Menurutnya, justru karena dibangun di tengah permukiman, gerbang ini akan lebih hidup.
Setiap warga yang melintas, setiap anak yang bermain di sekitarnya, akan terus diingatkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah.
Sebaliknya, ia adalah kekuatan untuk bersatu.
Pemerintah Kota Makassar tidak ingin gerbang ini berhenti sebagai simbol semata. Appi menegaskan, ke depan gerbang moderasi akan dibangun di berbagai titik lain.
Targetnya jelas: menanamkan nilai toleransi hingga ke tingkat paling kecil, mulai dari lingkungan RT dan RW.
“Ini menjadi tanggung jawab kami setelah pencanangan hari ini,” tegasnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa moderasi tidak hanya dibicarakan di level kebijakan, tetapi juga dihadirkan langsung di tengah masyarakat.
Di balik simbol tersebut, ada hal praktis yang tak luput dari perhatian pemerintah kota akses infrastruktur.
Appi memastikan, pembangunan gerbang akan diiringi dengan pembenahan jalan menuju lokasi.
Ia tidak ingin pesan besar tentang toleransi terhambat oleh akses yang terbatas.
Saat ini, tingkat kemantapan jalan di Makassar telah mencapai lebih dari 97 persen, dan akan terus ditingkatkan untuk mendukung kawasan-kawasan strategis seperti ini.
Gerbang Moderasi Indonesia di Makassar bukan hanya milik kota ini.
Ia diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Nasaruddin Umar bahkan membayangkan ke depan setiap kabupaten dan kota memiliki simbol serupa sebagai pengingat bahwa Indonesia dibangun diatas keberagaman.
“Ini akan menjadi kekuatan simbolik, ikonik,” ujarnya.
Di tengah kompleksitas kehidupan sosial hari ini, Makassar memilih cara sederhana namun bermakna: membangun gerbang.
Bukan untuk membatasi, tetapi untuk membuka.
Gerbang yang mengingatkan bahwa di balik perbedaan, ada nilai yang sama kemanusiaan, kebersamaan, dan persatuan.
Dan dari sudut BTP, Makassar kini mengirim pesan ke seluruh Indonesia bahwa toleransi bukan sekadar wacana, tetapi bisa dibangun, dijaga, dan diwariskan.


Komentar