Pemkot Makassar

Dari Keluarga untuk Makassar Bebas Sampah 2029, Melinda Aksa Gerakkan Kader PKK Panakkukang

Awal Febri
Awal Febri

Selasa, 18 Agustus 2026 16:27

Dari Keluarga untuk Makassar Bebas Sampah 2029, Melinda Aksa Gerakkan Kader PKK Panakkukang

MAKASSAR, Trotoar.id — Perubahan besar di sebuah kota sering kali bermula dari ruang paling kecil rumah.

Dari kebiasaan keluarga memilah sampah, menjaga kebersihan, hingga membangun kepedulian terhadap lingkungan, sebuah gerakan sosial dapat tumbuh menjadi budaya bersama.

Semangat itulah yang ditekankan Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, saat membuka kegiatan Supervisi, Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan (SMEP) TP PKK Tahun 2026 di Kecamatan Panakkukang, Selasa (18/8/2026).

SMEP menjadi momentum bagi TP PKK Kota Makassar untuk menyelaraskan program, memperkuat koordinasi kader sekaligus mengevaluasi pelaksanaan berbagai kegiatan mulai dari tingkat kelurahan hingga kecamatan.

Bagi Melinda, SMEP bukan sekadar memeriksa kelengkapan laporan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk melihat apakah program yang telah dirancang benar-benar berjalan dan memberikan manfaat bagi keluarga serta masyarakat.

“SMEP ini bukan hanya tentang laporan, tetapi bagaimana kita memastikan program yang kita jalankan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh keluarga dan masyarakat,” ujar Melinda.

Melinda mengatakan, berbagai program prioritas TP PKK Kota Makassar pada 2026 diarahkan pada persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Mulai dari penanganan stunting, pemberdayaan ekonomi keluarga melalui UMKM, peningkatan kualitas pendidikan anak hingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari agenda yang terus diperkuat.

Seluruh program tersebut, kata Melinda, memiliki satu benang merah, yakni menempatkan keluarga sebagai fondasi pembangunan masyarakat.

“PKK harus hadir dekat dengan masyarakat. Kita tidak hanya menjalankan program, tetapi harus memastikan program itu menjawab kebutuhan keluarga dan memberikan perubahan yang nyata,” tegasnya.

Pendekatan berbasis keluarga dinilai penting karena keluarga merupakan ruang pertama tempat kebiasaan, karakter dan kepedulian sosial dibentuk.

Jika kebiasaan baik berhasil tumbuh di dalam rumah, maka perubahan tersebut akan lebih mudah meluas ke lingkungan sekitar.

Dari berbagai program yang dibahas, persoalan lingkungan menjadi salah satu perhatian khusus Melinda. Ia mengajak kader PKK Panakkukang memperkuat gerakan “Pilah Sampah dari Rumah” sebagai bagian dari upaya mewujudkan target Makassar Bebas Sampah 2029.

Menurutnya, perubahan pola pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat harus terlibat sejak dari sumber sampah itu sendiri.

“Kalau kita ingin Makassar Bebas Sampah 2029, perubahan itu harus dimulai dari rumah. Kader PKK punya posisi yang sangat strategis untuk mengedukasi keluarga, mulai dari memilah sampah hingga memastikan sampah dikelola dengan benar,” tegas Melinda.

Kader PKK dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan komunitas di lingkungan masing-masing.

Karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah tidak cukup dilakukan melalui imbauan sesaat. Kebiasaan tersebut harus dibangun secara konsisten hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Melinda juga meminta kader tidak hanya menjadi penyampai pesan pemerintah, tetapi sekaligus menjadi contoh. Sebelum mengajak masyarakat memilah sampah, kader harus terlebih dahulu menunjukkan praktik tersebut di lingkungan keluarga.

Dengan keteladanan itu, gerakan pengelolaan sampah diharapkan tidak berhenti sebagai program pemerintah, melainkan berkembang menjadi budaya bersama masyarakat.

Selain lingkungan, Melinda menekankan pentingnya akurasi data dalam pelaksanaan SMEP.

Menurutnya, data yang berasal dari tingkat kelurahan hingga kecamatan harus mampu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Data tersebut menjadi dasar untuk mengukur capaian, menemukan persoalan dan menentukan langkah perbaikan.

“Data yang kita laporkan harus menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Dari sana kita bisa melihat mana yang sudah berjalan baik, mana yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus kita lakukan bersama,” katanya.

Dengan data yang akurat, evaluasi program PKK dapat dilakukan secara lebih objektif. Setiap capaian maupun kekurangan dapat dipetakan sehingga tindak lanjut tidak dilakukan berdasarkan asumsi.

Bagi Melinda, kualitas pelaporan bukan hanya soal administrasi. Di balik setiap angka dan laporan terdapat gambaran mengenai kondisi keluarga dan masyarakat yang menjadi sasaran program.

SMEP juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkuat kapasitas kader. Melinda mendorong kader PKK agar terus meningkatkan kemampuan, kreativitas dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Menurutnya, kebijakan yang baik tidak akan menghasilkan perubahan maksimal apabila tidak mampu diterjemahkan menjadi kegiatan konkret di tingkat masyarakat.

Kader menjadi mata dan telinga organisasi yang bersentuhan langsung dengan persoalan keluarga. Karena itu, kemampuan membaca kebutuhan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberhasilan program PKK.

“PKK harus hadir dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Melalui penguatan kapasitas tersebut, kader diharapkan tidak hanya aktif menjalankan agenda organisasi, tetapi mampu menghadirkan solusi terhadap persoalan yang muncul di lingkungannya.

Melinda berharap pelaksanaan SMEP 2026 di Kecamatan Panakkukang menjadi momentum memperkuat soliditas kader dari tingkat kelurahan hingga kecamatan.

Koordinasi dengan pemerintah kecamatan, kelurahan dan berbagai unsur masyarakat juga perlu terus dibangun agar program PKK dapat berjalan secara lebih efektif.

Ia meminta seluruh kader menjadikan evaluasi bukan sebagai kegiatan untuk mencari kekurangan, melainkan sebagai proses pembelajaran untuk memperbaiki kualitas kerja.

Setiap program harus memiliki tujuan yang jelas dan diikuti dengan pengukuran dampak agar keberadaan PKK benar-benar dirasakan masyarakat.

Pada akhirnya, gerakan menuju Makassar Bebas Sampah 2029 tidak hanya membutuhkan kebijakan, fasilitas dan program. Gerakan tersebut membutuhkan perubahan perilaku yang dimulai dari rumah, diperkuat oleh kader dan kemudian meluas menjadi gerakan masyarakat.

Dari Panakkukang, Melinda Aksa kembali mengingatkan bahwa keluarga adalah titik awal perubahan.

Ketika setiap rumah mulai memilah sampah, setiap kader menjadi teladan, dan setiap program dijalankan berdasarkan data serta kebutuhan nyata masyarakat, maka cita-cita membangun Makassar yang lebih bersih, sehat dan berdaya bukan lagi sekadar target, tetapi dapat menjadi gerakan bersama.

Penulis : Addy

 Komentar

Berita Terbaru
Metro19 Agustus 2026 16:26
Aliyah Mustika Ilham Dukung EIRC 2026, Ajang Roller Skate Nasional Bakal Hadirkan Ratusan Atlet Muda di Makassar
MAKASSAR, Trotoar.id— Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, memberikan dukungan terhadap rencana pelaksanaan Easter Indonesia Roller Champ...
Daerah19 Agustus 2026 15:51
Bupati Luwu Turun ke Sawah, 3.025 Hektare Lahan Terdampak Kekeringan Ditangani dengan Pompa Air
LUWU, Trotoar.id — Kekeringan mulai menguji ketahanan sektor pertanian di Kabupaten Luwu. Di tengah ancaman berkurangnya pasokan air untuk persawaha...
Nasional19 Agustus 2026 15:43
Hari Kelima Pascabencana, Pemerintah Kembali Kirim 65 Ton Logistik ke NTT atas Instruksi Presiden Prabowo
NTT — Lima hari setelah bencana melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah terus mempercepat distribusi bantuan bagi masyarak...
Metro19 Agustus 2026 15:20
1.547 Lowongan Menanti, Munafri Perluas Akses Kerja Lewat Makassar Job Fair 2026
MAKASSAR, Trotoar.id — Di tengah masih tingginya tantangan ketenagakerjaan, Pemerintah Kota Makassar kembali membuka pintu bagi ribuan pencari kerja...