
SIDRAP, Trotoar.id — Limbah peternakan yang selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan justru menjadi peluang ekonomi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Kotoran ayam dan sapi diolah menjadi pupuk organik yang dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian.
Potensi tersebut mendapat perhatian Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi saat mengunjungi CV Kur Agro Lestari di Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap, Selasa (18/8/2026).
Kunjungan dilakukan usai Fatmawati menghadiri panen raya padi di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae.

Ia didampingi Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif dan Wakil Bupati Sidrap Nurkanaah untuk melihat langsung proses pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik remah.
CV Kur Agro Lestari merupakan usaha lokal yang bergerak di bidang peternakan sekaligus mengembangkan pengolahan limbah kotoran ayam dan sapi menjadi produk pupuk organik.
Langkah tersebut membuat limbah yang berpotensi mencemari lingkungan memiliki nilai tambah dan kembali masuk dalam rantai produksi pertanian.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan, kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat sekaligus mendorong pengembangan usaha lokal yang memiliki prospek besar.

“Kita menerima kunjungan Wakil Gubernur di lokasi CV Kur Agro Lestari yang memproduksi pupuk organik remah. Kita akan bantu untuk kerja sama dengan Kementerian Pertanian dalam rangka pemberdayaan pengusaha lokal Sidrap, karena bahan bakunya cukup banyak di Sidrap,” ujar Syaharuddin.
Menurutnya, potensi pengembangan usaha tersebut cukup besar karena Sidrap memiliki aktivitas peternakan yang tinggi. Ketersediaan kotoran ayam dan sapi sebagai bahan baku menjadi modal untuk meningkatkan kapasitas produksi pupuk organik.
Saat ini, CV Kur Agro Lestari mampu memproduksi sekitar 7 ton pupuk organik per hari dengan memanfaatkan limbah peternakan sebagai bahan baku.
“Dengan kapasitas 7 ton per hari dari kotoran ayam dan kotoran sapi, CV Kur Agro Lestari sudah lama mengolah pupuk organik ini. Untuk itu kita dorong usahanya agar lebih besar lagi,” katanya.
Syaharuddin menilai pengembangan industri pengolahan limbah ternak memiliki manfaat ganda.
Selain mengurangi persoalan lingkungan akibat limbah peternakan, kegiatan tersebut juga menciptakan produk bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor pertanian.
Konsep tersebut sekaligus mempertemukan dua sektor utama di Sidrap, yakni peternakan dan pertanian.
Limbah dari aktivitas peternakan diolah menjadi pupuk, kemudian dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas lahan pertanian.
“ Kita ingin bahan baku yang ada di Sidrap tidak hanya menjadi limbah, tetapi bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi dan kembali mendukung pertanian kita,” lanjutnya.
Pemerintah Kabupaten Sidrap selanjutnya berencana mendorong pengembangan CV Kur Agro Lestari melalui peluang kerja sama dengan Kementerian Pertanian.
Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
Bagi pemerintah daerah, pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik juga sejalan dengan upaya membangun pertanian yang lebih berkelanjutan.
Ketergantungan terhadap bahan baku dari luar daerah dapat ditekan ketika potensi lokal mampu diolah dan dimanfaatkan secara optimal.
Kunjungan Fatmawati Rusdi bersama jajaran Pemkab Sidrap pun menjadi bagian dari upaya mempertemukan potensi usaha masyarakat dengan program pembangunan pemerintah di tingkat provinsi maupun pusat.
Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah dan kebutuhan pupuk untuk sektor pertanian yang terus berjalan, usaha pengolahan limbah ternak di Sidrap berpeluang berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi daerah.
Limbah ternak tidak lagi sekadar persoalan yang harus dibuang, tetapi dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi, membuka peluang usaha, sekaligus kembali memberi manfaat bagi pertanian masyarakat Sidrap.


Komentar