Pemprov Sulsel

Gubernur Andi Sudirman Ingatkan Warga, Kemarau dan El Nino Tingkatkan Risiko Karhutla di Sulsel

Suriadi
Suriadi

Kamis, 20 Agustus 2026 14:58

Gubernur Andi Sudirman Ingatkan Warga, Kemarau dan El Nino Tingkatkan Risiko Karhutla di Sulsel

MAKASSAR, Trotoar.id Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring menguatnya musim kemarau di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

Andi Sudirman menegaskan, pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun petugas di lapangan.

Keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah api muncul dan meluas, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul sejumlah kejadian kebakaran yang terjadi di wilayah Sulsel.

Salah satunya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Tana Toraja yang berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdampak terhadap sekitar 15 hektare lahan.

Penanganan kebakaran juga dilakukan tim gabungan TNI-Polri, pemadam kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), serta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di kawasan Gunung Enrekang, Kabupaten Enrekang, dan wilayah Malino, Kabupaten Gowa.

Gubernur mengapresiasi respons cepat seluruh unsur yang turun melakukan pemadaman.

Namun, ia mengingatkan bahwa penanganan setelah api muncul tidak cukup jika tidak dibarengi upaya pencegahan sejak awal.

“Ayo warga kami tercinta, bersama-sama menjaga lingkungan sekitar serta mencegah dari kebakaran pada daerah dengan kerawanan tinggi,” ajak Andi Sudirman, Kamis (20/8/2026).

Ia meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar lahan secara sembarangan maupun membuang benda yang dapat menjadi sumber api di kawasan kering.

Menurutnya, kondisi kemarau yang diperkuat fenomena El Nino membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar.

Karena itu, kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan, khususnya di wilayah dengan kondisi lahan yang kering.

“Mari kita jaga lingkungan kita bersama. Pencegahan lebih baik daripada kita harus menghadapi dampak kebakaran yang lebih besar,” tegasnya.

Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang membuat potensi karhutla perlu diantisipasi lebih serius. BMKG menyebut kondisi El Nino berada pada level kuat, sementara puncak musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung pada Agustus.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kekeringan sekaligus membuat vegetasi dan lahan lebih rentan terbakar. Sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan juga telah masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.

Situasi tersebut membuat pencegahan harus dilakukan secara berlapis. Pemerintah daerah, aparat, petugas pemadam, pengelola kawasan hutan, dunia usaha hingga masyarakat diminta memiliki kewaspadaan yang sama.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sulsel, Kasman, mengatakan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh unsur. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri menghadapi ancaman kebakaran yang berpotensi meluas.

“Semua unsur terkait, baik itu pemerintah pusat, kemudian dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, termasuk keterlibatan semua sektor swasta,” ujar Kasman.

Ia menjelaskan, sejumlah lokasi yang sebelumnya mengalami kebakaran telah berhasil dipadamkan berkat kerja sama berbagai pihak. Meski api telah berhasil dikendalikan, pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul.

“Alhamdulillah, titik-titik tersebut sudah padam dan teman-teman sementara melakukan monitoring dan evaluasi, termasuk mengevaluasi luasan yang terbakar serta melakukan edukasi kepada masyarakat,” jelasnya.

Kelompok Tani Ikut Turun Padamkan Api

Kasman menyebut keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting dalam penanganan kebakaran di lapangan. Bahkan, kelompok tani turut membantu petugas melakukan pemadaman ketika kebakaran terjadi di sejumlah lokasi.

“Kemarin juga kita dibantu oleh kelompok-kelompok tani masyarakat untuk melakukan pemadaman di lapangan,” katanya.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan gerakan bersama. Masyarakat yang berada paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran dinilai memiliki peran penting dalam mendeteksi potensi api sejak dini.

Pemerintah Provinsi Sulsel pun mendorong masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Bagi Andi Sudirman, menjaga lingkungan di tengah musim kemarau bukan semata-mata tugas pemerintah. Pencegahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Dengan meningkatnya kewaspadaan, penguatan patroli, edukasi serta respons cepat terhadap titik api, Pemprov Sulsel berharap ancaman karhutla selama puncak musim kemarau dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar bagi masyarakat maupun lingkungan. (*)

Penulis : Awal

 Komentar

Berita Terbaru
Daerah21 Agustus 2026 17:13
Barru Dipilih Jadi Lokasi Gerakan Tanam Serempak Nasional, Andi Ina: Harus Berujung pada Kesejahteraan Petani
BARRU, Trotoar.id — Kabupaten Barru dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan Gerakan Tanam Serempak Nasional di Sulawesi Selatan yang dicanangkan pemeri...
Daerah21 Agustus 2026 15:11
Jembatan Perintis Garuda Hadir di Bottoe, Buka Akses Pendidikan dan Ekonomi 90 Kepala Keluarga
BARRU, Trotoar.id — Harapan masyarakat Bottoe, Kelurahan Tanete, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, untuk memiliki akses penghubung yang lebih...
Metro21 Agustus 2026 12:58
Aliyah Mustika Ilham Terpilih Aklamasi Pimpin ASITA Sulsel 2026–2031, Bawa Gagasan Naik Kelas
MAKASSAR, Trotoar.id — Aliyah Mustika Ilham resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies...
Metro20 Agustus 2026 23:04
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Raih Bakti Koperasi Nayaka Mahambara di Koperasi Awards 2026
JAKARTA, Trotoar.id — Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman kembali menerima penghargaan di tingkat nasional. Kali ini, ia dianugerahi Ba...