Pemkot Makassar

Appi Ajak KKDB Perkuat Gerakan Pilah Sampah dari Rumah, Dorong Jadi Sumber Ekonomi

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Sabtu, 22 Agustus 2026 00:06

Appi Ajak KKDB Perkuat Gerakan Pilah Sampah dari Rumah, Dorong Jadi Sumber Ekonomi

MAKASSAR, Trotoar.id Persoalan sampah di Kota Makassar tidak lagi cukup diselesaikan dengan mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Pemerintah Kota Makassar kini mendorong perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, dengan menjadikan pemilahan sampah dari rumah sebagai fondasi utama pengelolaan lingkungan.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, mengajak Kerukunan Keluarga Daerah Barru (KKDB) ikut mengambil peran dalam gerakan tersebut. Ajakan itu disampaikan Munafri saat menerima silaturahmi jajaran KKDB di Balai Kota Makassar, Jumat (21/8/2026).

“Lewat kesempatan ini, kami mengajak KKDB. Mari kita mulai aksi bersih-bersih lingkungan dan pilah sampah dari rumah untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari sampah,” kata Munafri.

Menurut Appi, penanganan sampah merupakan pekerjaan besar yang tidak mungkin dituntaskan pemerintah seorang diri.

Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dunia pendidikan hingga masyarakat di tingkat kelurahan.

Karena itu, ia meminta keterlibatan KKDB tidak berhenti pada jajaran pengurus. Organisasi tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak hingga ke lingkungan masyarakat, khususnya dalam membangun kebiasaan memilah sampah dari sumbernya.

“Maka dari itu, saya kira kolaborasi ini tidak hanya di level pengurus, tapi juga masyarakat luas. Kita punya perwakilan untuk ada di Kota Makassar,” ujarnya.

Munafri menyadari perubahan kebiasaan masyarakat bukan perkara mudah. Selama bertahun-tahun, sebagian masyarakat terbiasa membuang berbagai jenis sampah secara bersamaan tanpa melakukan pemilahan terlebih dahulu.

Karena itu, penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan membutuhkan edukasi dan sosialisasi yang dilakukan secara konsisten. Pemerintah juga harus membangun sistem yang membuat masyarakat memiliki alasan kuat untuk mengubah kebiasaan lama.

“Banyak sekali yang skeptis karena kita merubah perilaku, merubah habit yang seperti itu. Ada yang mau stay dengan sistem yang lama, sementara kita harus mendorong bagaimana proses pemilahan ini bisa berjalan,” jelasnya.

Appi mengakui sistem baru yang tengah diterapkan belum sepenuhnya sempurna. Namun, menurutnya, perubahan tetap harus dilakukan karena pola pengelolaan sampah lama tidak lagi memadai menghadapi volume sampah yang terus meningkat.

“Ini memang tidak sempurna, tapi ke depan kita akan membangun sebuah sistem yang lebih baik lagi,” tegasnya.

Ia menilai, ketergantungan terhadap TPA harus dikurangi. Sampah yang sejak awal sudah dipilah akan lebih mudah dikelola dan tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir.

“Karena kondisi tidak memungkinkan lagi ada penumpukan sampah secara bersamaan ke TPA. Sehingga memang yang harus diselesaikan itu adalah di hilir,” tuturnya.

Di sisi lain, Munafri ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Menurutnya, sampah tidak selamanya harus dipandang sebagai persoalan yang membutuhkan biaya untuk ditangani. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah justru dapat memiliki nilai ekonomi.

“Nah, sekarang kita masuk ke dalam era untuk mengubah sampah menjadi uang,” katanya.

Salah satu instrumen yang didorong adalah penguatan bank sampah. Sampah anorganik yang memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan dipasarkan kembali, sementara sampah organik dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Munafri menyebut sampah organik dapat diproses menjadi kompos untuk mendukung kebutuhan pertanian dan penghijauan. Bahkan, pemerintah membuka peluang agar hasil pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman yang dikelola pemerintah.

“Tidak hanya sampah anorganik yang bisa dijual-belikan, ke depannya juga sampah organik setelah melalui hasil proses yang akhirnya menjadi kompos,” ungkapnya.

“Ini nanti akan menjadi bagian dari kewajiban pemerintah mungkin membeli dari sampah ini sebagai pupuk untuk tanaman-tanaman yang ditanam oleh pemerintah. Dan dipakai masyarakat untuk bagaimana mengantisipasi yang namanya pertanian modern di tingkat bawah,” lanjut Appi.

Selain pengelolaan sampah, Munafri juga memaparkan sejumlah inovasi berbasis masyarakat yang tengah dikembangkan di tingkat kelurahan. Salah satunya adalah rencana menjadikan Kelurahan Balla Parang sebagai kelurahan tematik berbasis herbal.

Program tersebut diinisiasi bersama dr Anna, yang memiliki perhatian terhadap pengembangan tanaman herbal.

Menurut Appi, konsep tersebut diharapkan menjadi contoh bahwa lingkungan sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan sekaligus membuka peluang aktivitas ekonomi masyarakat.

“Beberapa kelurahan akan menjadi kelurahan tematik. Salah satunya Kelurahan Balla Parang. Dan itu diinisiasi oleh orang baru, Ibu Dokter Anna yang dulu di ahli herbal,” jelasnya.

Munafri juga menyinggung perubahan kondisi lingkungan di kawasan Antang yang selama ini identik dengan persoalan persampahan. Ia menyebut kondisi kawasan tersebut kini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Di Antang itu dulu kalau kita lewat itu bau sekali, sekarang Alhamdulillah sudah bagus sekali,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan tersebut harus dijaga melalui keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan. Pemerintah tidak ingin perbaikan lingkungan hanya menjadi program sesaat, tetapi berkembang menjadi budaya baru di tengah masyarakat.

Karena itu, Appi berharap KKDB dan berbagai organisasi masyarakat lainnya dapat menjadi bagian dari gerakan bersama membangun Makassar.

Kontribusi masyarakat, kata dia, dapat dilakukan melalui berbagai bidang, termasuk kebersihan lingkungan, pemberdayaan ekonomi dan pengembangan potensi lokal.

“Dengan kehadiran Bapak Besar ini, keberadaan Kota Makassar banyak hal yang bisa diselesaikan bersama-sama,” pungkas Munafri. (*)

Penulis : Anti

 Komentar

Berita Terbaru
Daerah21 Agustus 2026 17:13
Barru Dipilih Jadi Lokasi Gerakan Tanam Serempak Nasional, Andi Ina: Harus Berujung pada Kesejahteraan Petani
BARRU, Trotoar.id — Kabupaten Barru dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan Gerakan Tanam Serempak Nasional di Sulawesi Selatan yang dicanangkan pemeri...
Daerah21 Agustus 2026 15:11
Jembatan Perintis Garuda Hadir di Bottoe, Buka Akses Pendidikan dan Ekonomi 90 Kepala Keluarga
BARRU, Trotoar.id — Harapan masyarakat Bottoe, Kelurahan Tanete, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, untuk memiliki akses penghubung yang lebih...
Metro21 Agustus 2026 15:03
Ultimatum Appi: Kepala OPD Bukan Tukang Stempel, Januari 2027 Program Harus Langsung Jalan
MAKASSAR, Trotoar.id — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi melontarkan peringatan keras kepada seluruh kepala Organisasi Perangkat Daera...
Metro21 Agustus 2026 12:58
Aliyah Mustika Ilham Terpilih Aklamasi Pimpin ASITA Sulsel 2026–2031, Bawa Gagasan Naik Kelas
MAKASSAR, Trotoar.id — Aliyah Mustika Ilham resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies...