
MAKASSAR, Trotoar.id — Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat tempat pulang yang dibangun dengan susah payah, tiba-tiba berubah menjadi bara api.
Tangis pecah di kawasan Asrama TNI Mattoangin, Makassar, Selasa siang (1/9/2026). Api berkobar dan menghanguskan 23 rumah yang berada di dalam kompleks asrama tersebut.
Di antara kepulan asap dan puing-puing yang tersisa, seorang istri prajurit TNI AD tampak tak kuasa menahan kesedihan.

Matanya berkaca-kaca, tangisnya pecah. Rumah yang selama ini menjadi tempat ia dan anak-anaknya berteduh, menyimpan cerita keluarga, serta menjadi tempat pulang setiap hari, harus lenyap dilalap si jago merah.
Bukan hanya bangunan yang terbakar. Di dalam rumah itu ada kenangan, ada foto keluarga, pakaian anak-anak, perabot rumah tangga, dan begitu banyak cerita kehidupan yang ikut menjadi korban kobaran api.
Dalam suasana penuh kepanikan tersebut, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayor Jenderal TNI Bangun Nawoko datang langsung ke lokasi.
Pangdam tidak sekadar melihat dari kejauhan. Ia turun mendekati warga dan keluarga prajurit yang menjadi korban.

Perhatiannya kemudian tertuju kepada seorang istri prajurit yang tampak begitu terpukul melihat rumahnya hangus terbakar.
Di tengah kerumunan warga, Pangdam berusaha menenangkan dan memberikan dukungan moril.
Momen sederhana tersebut terasa begitu dalam seorang pimpinan berdiri di hadapan keluarga prajuritnya yang sedang kehilangan tempat tinggal.
Tak banyak kata yang mampu menghapus kesedihan pada saat itu.
Sebab, bagi sebuah keluarga, rumah bukan sekadar dinding dan atap. Rumah adalah tempat anak-anak tumbuh, tempat keluarga berkumpul, tempat lelah terbayarkan, dan tempat segala kenangan disimpan.
Ketika rumah itu terbakar, yang tersisa bukan hanya puing, tetapi juga luka yang harus perlahan disembuhkan.
Tangis sang istri prajurit menjadi gambaran betapa berat musibah yang datang secara tiba-tiba tersebut. Namun, di tengah kesedihan itu, kehadiran Pangdam memberikan satu pesan penting: keluarga prajurit tidak menghadapi musibah ini sendirian.
Kehadiran orang nomor satu di jajaran Kodam XIV/Hasanuddin tersebut juga menjadi bentuk kepedulian dan perhatian terhadap prajurit beserta keluarganya yang sedang tertimpa musibah.
Bagi mereka yang kehilangan rumah, hari itu mungkin menjadi salah satu hari paling berat dalam hidup.
Namun di tengah abu dan puing-puing yang tersisa, masih ada harapan untuk kembali bangkit.
Karena rumah boleh terbakar, harta benda boleh hilang, tetapi rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama tidak boleh ikut terbakar.
Musibah tersebut kini menjadi duka bersama keluarga besar TNI di Asrama Mattoangin.
Penanganan terhadap warga terdampak serta pendataan kerugian terus dilakukan, sementara penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penanganan pihak terkait.
Selasa siang itu, api memang menghanguskan puluhan rumah.
Tetapi satu hal yang terlihat jelas dari lokasi kejadian: di tengah musibah, keluarga besar TNI tetap berusaha berdiri bersama menopang mereka yang sedang jatuh dan menguatkan mereka yang sedang kehilangan.


Komentar