Pemkot Makassar

World Clean Up Day di Makassar, Appi: Kebersihan Harus Jadi Kebiasaan, Bukan Seremonial

Suriadi
Suriadi

Minggu, 20 September 2026 12:27

World Clean Up Day di Makassar, Appi: Kebersihan Harus Jadi Kebiasaan, Bukan Seremonial

MAKASSAR, Trotoar.id — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi turun langsung memimpin aksi bersih-bersih lingkungan dalam momentum World Clean Up Day di Kota Makassar, Minggu (20/9/2026).

Didampingi Ketua Dewan Lingkungan Kota Makassar Melinda Aksa, Appi menyusuri kawasan perairan Pantai Losari menggunakan kapal pembersih limbah laut sebelum menuju lokasi utama kegiatan di TPST3R Kelurahan Panambungan, Kecamatan Mariso.

Kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) itu melibatkan pemerintah kecamatan dan kelurahan, TP PKK, Dewan Lingkungan, komunitas lingkungan, RT-RW, serta masyarakat.

Sementara Melinda Aksa bersama jajaran Dewan Lingkungan, TP PKK, komunitas lingkungan dan masyarakat bergotong royong membersihkan kawasan TPST3R hingga Rumah Susun Warga (Rusunawa) Panambungan.

Aksi tersebut menyasar kawasan daratan, sungai hingga pesisir. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah berdasarkan jenisnya sebagai bagian dari edukasi pengelolaan sampah sejak dari sumber.

Bagi Appi, World Clean Up Day tidak boleh berhenti sebagai kegiatan bersih-bersih yang hanya dilakukan satu hari. Momentum tersebut harus menjadi pengingat agar kebersihan dibangun sebagai kebiasaan sehari-hari.

“World Clean Up Day ini jangan dimaknai bahwa bersih-bersih hanya dilakukan hari ini. Kebersihan harus menjadi kebiasaan yang kita bangun setiap hari,” kata Appi.

Ia pun meminta jajaran kecamatan menjaga kesinambungan gerakan kebersihan melalui program Jumat Bersih yang dilakukan secara rutin setiap pekan.

“Saya minta pihak Kecamatan terus melaksanakan Jumat Bersih setiap minggu. Jangan hanya karena ada momentum World Clean Up Day, setelah itu berhenti,” tegasnya.

Menurut Appi, menjaga kebersihan berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.

“Karena kebersihan itu tidak hanya untuk kita. Kebersihan ini adalah untuk masa depan, untuk generasi yang akan datang,” ujarnya.

Appi juga mendorong perubahan paradigma pengelolaan sampah. Sampah tidak semestinya hanya dikumpulkan dan dibawa ke tempat pembuangan, tetapi harus dipilah sejak rumah tangga untuk kemudian diolah sesuai jenisnya.

Sampah organik, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk diolah menjadi pakan ternak sapi yang berada di kawasan TPA Tamangapa. Sementara sampah anorganik dapat dikelola melalui Bank Sampah Unit (BSU) sehingga memiliki nilai ekonomi.

“Yang kita harapkan, sampah ini kita kelola sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih, bisa menambah penghasilan rumah tangga buat ibu-ibu,” tuturnya.

Pola tersebut, lanjut Appi, harus dibangun sebagai sebuah siklus. Sampah dipilah dari rumah, dikumpulkan, diolah, kemudian dimanfaatkan kembali sesuai karakteristiknya.

Dalam skema itu, TPST3R Panambungan menjadi salah satu fasilitas pengelolaan sampah berbasis kawasan. Fasilitas tersebut saat ini menangani sekitar tiga ton sampah per hari dari wilayah Kecamatan Mariso.

Keberadaan TPST3R diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPA Tamangapa sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah dari tingkat kawasan.

Appi juga memastikan Pemkot Makassar akan memperkuat dukungan terhadap Bank Sampah Pusat agar transaksi sampah yang dikumpulkan masyarakat melalui Bank Sampah Unit dapat berjalan lebih optimal.

“Saya pastikan, mulai tahun depan tidak akan ada lagi keterlambatan dalam pembayaran sampah di Bank Sampah Unit ini. Bank Sampah Pusatnya akan disupport full oleh pemerintah,” tegasnya.

Namun, dukungan pemerintah tersebut harus diikuti pengelolaan yang profesional. Appi meminta pengelola bank sampah memastikan sampah yang telah dikumpulkan tidak menumpuk terlalu lama dan proses pemilahan, pencatatan, transaksi hingga penjualan dilakukan secara tertib.

Sementara itu, Camat Mariso Syahril mengatakan aksi World Clean Up Day di wilayahnya berhasil mengumpulkan 74 kilogram sampah.

Rinciannya, sebanyak 26 kilogram merupakan sampah organik, 36 kilogram sampah anorganik, dan 12 kilogram residu. Selain itu, sekitar 11 kilogram limbah laut berhasil diangkat dari kawasan perairan.

“Untuk World Clean Up Day hari ini kita telah mengumpulkan 26 kilogram sampah organik, 36 kilogram sampah anorganik dan 12 kilogram residu,” kata Syahril.

Menurut Appi, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari perilaku sederhana di lingkungan masing-masing.

Ia mengajak warga tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah dari rumah, memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi, serta menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.

“Kebiasaan sederhana yang perlu dilakukan secara konsisten oleh masyarakat akan memberikan dampak yang lebih besar apabila dilakukan secara bersama-sama,” pungkasnya. (*)

Penulis : Febri

 Komentar