Pemkot Makassar

Di Tengah Gempuran AI, Appi Minta Pendidikan Karakter Jadi Benteng Siswa di Makassar

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Senin, 21 September 2026 17:14

Di Tengah Gempuran AI, Appi Minta Pendidikan Karakter Jadi Benteng Siswa di Makassar

MAKASSAR, Trotoar.id Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi mengingatkan dunia pendidikan agar tidak kehilangan fondasi utamanya karakter, akhlak, tata krama, dan nilai budaya.

Menurut Appi, teknologi akan terus berkembang dan semakin dekat dengan kehidupan anak-anak.

Karena itu, sekolah dan tenaga pendidik harus mampu beradaptasi tanpa membiarkan pendidikan karakter tersisih oleh kemajuan teknologi.

Hal itu disampaikan Appi saat menghadiri Asesmen Kepala Sekolah SD dan SMP sekaligus Penandatanganan MoU Bank Sampah pada Satuan Pendidikan Kota Makassar di Hotel Claro Makassar, Senin (21/9/2026).

“Kita hidup di dalam dunia algoritma, kita hidup di dalam dunia artificial intelligence yang beberapa tahun lalu hanya merupakan khayalan masa depan dan hari ini kita hidup di dalamnya,” kata Appi.

Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan.

Anak-anak tumbuh sebagai generasi yang sangat dekat dengan teknologi digital, sementara kemampuan guru dan kepala sekolah harus terus diperbarui agar mampu mengikuti perubahan tersebut.

Namun, Appi menegaskan bahwa kemampuan akademik dan penguasaan teknologi saja tidak cukup untuk membentuk generasi masa depan.

Sekolah, kata dia, harus tetap menjadi ruang untuk membangun akhlak, karakter, tata krama, serta nilai-nilai kehidupan yang menjadi fondasi seorang anak.

“Generasi yang baik bukan hanya pintar secara intelektual, tetapi juga punya pendidikan akhlak yang baik,” tegasnya.

Karena itu, Pemkot Makassar tengah mempersiapkan penguatan kurikulum, khususnya pada sekolah-sekolah negeri. Penguatan tersebut diarahkan untuk memberikan ruang lebih besar terhadap pendidikan budi pekerti, tata krama, agama, dan nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Appi juga meminta seluruh kepala sekolah tidak sekadar menjalankan rutinitas administratif. Mereka diminta aktif memetakan berbagai persoalan yang terjadi di sekolah dan menyampaikannya kepada Dinas Pendidikan.

“Harapan kita seluruh kepala sekolah menjalankan program dan hal sangat krusial yang terjadi di sekolah,” ujarnya.

Persoalan pendidikan yang dipetakan tidak hanya menyangkut kualitas tenaga pendidik dan kurikulum, tetapi juga kondisi infrastruktur serta kebutuhan guru di masing-masing sekolah.

Appi mengatakan Pemkot Makassar akan melakukan pemetaan kondisi sekolah untuk menentukan kebutuhan yang harus menjadi prioritas. Termasuk memastikan ketersediaan guru sesuai kebutuhan peserta didik, baik dari sisi jumlah maupun karakteristik pendidikan yang dibutuhkan.

“Kami Pemerintah Kota akan menyelesaikan untuk memastikan jangan berlarut-larut dan supaya ada kepastian,” katanya saat menanggapi persoalan sekolah yang masih berstatus sengketa.

Ia berharap asesmen kepala sekolah yang diikuti ratusan peserta tidak berhenti sebagai proses evaluasi administratif. Forum tersebut harus menjadi momentum untuk membaca kondisi riil sekolah sekaligus merumuskan langkah pembenahan pendidikan secara lebih terarah.

“Dunia pendidikan menjadi dunia yang sangat vital untuk membawa generasi ini tumbuh dan berkembang. Ketika dunia pendidikan ini tidak kita sentuh secara baik, tentu hasilnya juga tidak akan memberikan dampak yang positif,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Achi Soleman mengatakan asesmen tersebut diikuti 464 peserta, terdiri atas 314 kepala sekolah SD negeri, 55 kepala sekolah SMP negeri, dan 95 kepala sekolah SMP swasta.

Selain asesmen, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penguatan inovasi lingkungan di satuan pendidikan melalui kerja sama Bank Sampah. Achi menyebut saat ini terdapat 86 inovasi lingkungan yang telah dicanangkan pada jenjang SD dan SMP di Kota Makassar.

Menurut Achi, sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan sekaligus karakter anak. Karena itu, pendidikan lingkungan tidak cukup diberikan melalui teori, tetapi harus dibangun melalui praktik dan kebiasaan sehari-hari.

“Kami berharap kerja sama ini menjadi langkah nyata untuk membangun sekolah yang bersih, sehat, peduli lingkungan, sekaligus mendidik generasi yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan,” tutup Achi.

Penulis : Awal

 Komentar