
MAKASSAR, Trotoar.id — Rapat paripurna DPRD Provinsi Sulawesi Selatan yang mengagendakan penyampaian pandangan umum fraksi-fraksi terhadap dua usulan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Senin, 28 September 2026, berlangsung dalam suasana yang berbeda.
Di tengah agenda resmi pembahasan kebijakan daerah, terselip sebuah momen personal yang menyentuh.
Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman menyampaikan salam perpisahan kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRD Sulsel.
Bukan karena pertikaian. Bukan pula karena hubungan yang renggang. Jufri berpamitan karena waktu pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara segera sampai pada penghujung.
Terhitung 1 Oktober 2026, Jufri Rahman akan memasuki masa pensiun. Dengan demikian, rapat paripurna tersebut menjadi salah satu momen terakhir dirinya hadir dalam ruang sidang DPRD Sulsel dalam kapasitas sebagai Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan.
Jufri kemudian menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi terasa dalam. Ia menegaskan, berakhirnya masa jabatannya sebagai Sekprov Sulsel tidak berarti berakhir pula hubungan yang selama ini terbangun bersama pimpinan dan anggota DPRD Sulsel.
“Saya pergi dari jabatan Sekprov, tetapi tidak pergi dari sebuah persaudaraan dan persahabatan,” ujar Jufri.

Kalimat itu seolah mengubah suasana ruang paripurna. Agenda yang sebelumnya berlangsung dalam nuansa formal perlahan menjadi lebih emosional. Sejumlah anggota DPRD Sulsel tampak terdiam dan menyimak pesan Jufri.
Bagi Jufri, hubungan antara pemerintah provinsi dan DPRD bukan sekadar hubungan kelembagaan.
Selama menjalankan tugas sebagai Sekprov, ia telah melewati berbagai dinamika pemerintahan bersama para wakil rakyat.
Ada perbedaan pandangan, perdebatan, hingga berbagai keputusan yang harus diambil demi kepentingan daerah.
Namun, semua dinamika itu tidak harus berakhir ketika seseorang meninggalkan jabatan.
Jufri menyadari, setelah dirinya pensiun, kemungkinan besar ia dan anggota DPRD Sulsel tidak lagi berada dalam ruang kerja yang sama.
Tidak lagi bertemu dalam rapat-rapat pemerintahan dengan intensitas seperti sebelumnya.
Tetapi ia berharap, ruang kerja boleh berubah, jabatan boleh berakhir, namun hubungan kemanusiaan tetap terjaga.
“Meskipun kita berpisah hari, Jufri Rahman yang dulu tidak akan pernah berubah,” katanya.
Ucapan itu membuat suasana semakin haru. Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi atau Cicu bahkan sempat meneteskan air mata setelah mendengar pesan perpisahan Jufri.
Bagi Cicu dan jajaran DPRD Sulsel, sosok Jufri bukan sekadar Sekprov yang hadir dalam agenda pemerintahan.
Selama menjalankan tugas, komunikasi dan interaksi antara eksekutif dan legislatif telah menjadi bagian dari perjalanan pemerintahan Sulawesi Selatan.
Karena itu, perpisahan tersebut bukan semata-mata pergantian seorang pejabat atau berakhirnya masa pengabdian seorang birokrat. Ada hubungan personal yang ikut terbangun selama perjalanan panjang tersebut.
Jufri pun memilih meninggalkan pesan yang tidak berbicara tentang jabatan, kekuasaan ataupun kewenangan. Ia berbicara tentang persahabatan dan persaudaraan.
Sebuah pesan bahwa seseorang mungkin meninggalkan ruangan, meninggalkan kursi dan meninggalkan jabatan, tetapi tidak harus meninggalkan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Menjelang akhir penyampaiannya, Jufri juga menyampaikan salam perpisahan dengan sebuah pantun yang semakin menguatkan suasana haru di ruang paripurna.
“Ke Makassar membeli sarung,
Singgah sebentar di Pantai Losari.
Jabatan boleh berujung,
Persahabatan tetap di hati.”
Pantun tersebut disambut suasana haru sekaligus tepuk tangan dari para anggota DPRD Sulsel.
Hari itu, ruang paripurna tidak hanya menjadi tempat pemerintah menyampaikan agenda dan DPRD menyampaikan pandangan politiknya. Ruang tersebut juga menjadi saksi sebuah perpisahan.
Jufri Rahman akan meninggalkan jabatan Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan pada 1 Oktober 2026.
Namun, ia ingin memastikan satu hal: pengabdiannya sebagai pejabat boleh berakhir, tetapi hubungan persaudaraan yang telah dibangun selama ini tidak ikut pensiun.
Sebab pada akhirnya, jabatan hanya memiliki masa. Sementara persahabatan dan persaudaraan adalah hubungan yang dapat terus hidup, bahkan ketika seseorang tidak lagi duduk di kursi yang sama.

