
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Kota Makassar menjadi rujukan Pokja Bunda PAUD Kota Mataram dalam mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI).
Hal itu ditandai dengan kunjungan studi tiru Pokja Bunda PAUD Kota Mataram ke Makassar untuk melihat secara langsung praktik pengembangan PAUD HI, pendidikan ramah anak, hingga keterlibatan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Rombongan dipimpin Bunda PAUD Kota Mataram, Sitti Rujiah. Kunjungan diawali di TK Negeri Kecamatan Rappocini Makassar, Rabu (7/10/2026), dan disambut Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Achi Soleman bersama jajaran, Ketua Pokja Bunda PAUD Makassar Titin Florentina P beserta pengurus, serta Kepala TK Negeri Rappocini Zusanna Syarid dan para guru.
Di sekolah tersebut, rombongan melihat langsung proses pembelajaran dan aktivitas bermain anak. Salah satunya kegiatan membaca buku yang difasilitasi melalui layanan Dinas Perpustakaan Kota Makassar.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Achi Soleman mengatakan, kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan antardaerah sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman dalam pengembangan pendidikan anak usia dini.
“Terima kasih atas kunjungannya. Studi tiru ini menjadi kesempatan bagi kedua daerah untuk saling berbagi pengalaman dalam pengembangan pendidikan anak usia dini,” ujar Achi.
Menurut Achi, TK Negeri Kecamatan Rappocini merupakan salah satu dari lima PAUD negeri yang dimiliki Pemerintah Kota Makassar.

Pemkot Makassar juga tengah mempersiapkan pembangunan TK negeri berikutnya untuk memperluas akses terhadap layanan PAUD berkualitas.
Pengembangan PAUD negeri di Makassar, kata Achi, tidak hanya diarahkan pada proses pembelajaran di dalam kelas.
Pendidikan karakter dan keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak.
“PAUD untuk negeri di Kota Makassar sejatinya lebih kepada bagaimana pendidikan karakter. Kita memiliki beberapa sentra dan ke depan, PAUD yang sedang dibangun diharapkan lebih kompleks, bukan hanya sebagai sekolah, tetapi juga menjadi edukasi center bagi orang tua,” jelasnya.
Konsep edukasi keluarga tersebut antara lain diterapkan melalui keberadaan “Surga” atau Sudut Keluarga di TK Negeri Kecamatan Rappocini. Ruang tersebut menjadi wadah interaksi sekaligus edukasi bagi orang tua dalam mendukung perkembangan anak.
Sebagai kota yang menyandang predikat Kota Layak Anak, Makassar juga terus memperkuat layanan pendidikan yang ramah dan aman bagi anak.
Achi mengatakan, penguatan tersebut dilakukan melalui berbagai program yang menyentuh aspek pendidikan, kesehatan, perlindungan, hingga pencegahan kekerasan terhadap anak.
“Anak-anak sejak dini sudah dilatih mengenal sentuhan boleh dan sentuhan tidak boleh. Ini merupakan salah satu upaya pencegahan kekerasan, khususnya kekerasan seksual,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Makassar Titin Florentina P mengatakan, Makassar dipercaya sebagai salah satu daerah percontohan dalam pengembangan PAUD Holistik Integratif.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa program yang telah berjalan masih terus dikembangkan dan disempurnakan. Karena itu, pertukaran pengalaman dengan daerah lain dinilai penting untuk memperkaya praktik pengembangan PAUD.
“Melalui pertemuan dan diskusi ini, kami berharap dapat belajar dan memperkaya diri dari pengalaman serta masukan berharga dari Bunda PAUD Kota Mataram dan jajarannya,” kata Titin.
Selama dua hari, Pokja Bunda PAUD Makassar dan Mataram membahas berbagai aspek, mulai dari kebijakan, strategi penerapan PAUD HI, hingga pengelolaan layanan di satuan pendidikan.
Bunda PAUD Kota Mataram Sitti Rujiah mengatakan, Makassar dipilih sebagai lokasi studi tiru karena dinilai memiliki pengalaman dalam penerapan PAUD HI.
“Kami datang ke Makassar karena melihat Makassar menjadi salah satu pilot project PAUD HI. Di Mataram, PAUD HI belum berjalan dan kami baru akan memulainya. Karena itu, kami ingin belajar bagaimana pelaksanaan PAUD HI sebenarnya,” ungkapnya.
Menurut Sitti, pihaknya ingin memperoleh gambaran mengenai prosedur, strategi, dan praktik yang dapat diadaptasi di Kota Mataram. Pengembangan PAUD HI dinilai penting untuk memperkuat pemenuhan indikator Kota Layak Anak.
“Semoga setelah dari Makassar, kami bisa mengajak seluruh PAUD di Kota Mataram untuk menjadi PAUD HI. Saat ini Kota Mataram masih berada pada predikat Madya dan ada beberapa kategori yang perlu kami penuhi, salah satunya pengembangan TK HI,” ujarnya.
Selain TK Negeri Kecamatan Rappocini, rombongan juga mengunjungi Sekolah Islam Athirah. Di lokasi tersebut, peserta studi tiru melihat proses pembelajaran sekaligus memperoleh pemaparan mengenai pengelolaan sentra, kurikulum, pendidikan karakter, inovasi, serta program unggulan pada Kelompok Bermain dan TK Islam Athirah.
Kepala TK Negeri Kecamatan Rappocini Zusanna Syarid turut memaparkan sejumlah praktik yang diterapkan di sekolah, mulai dari pengelolaan sentra, pembiasaan positif, penguatan karakter, hingga keterlibatan orang tua dalam mendukung proses tumbuh kembang anak.
Kunjungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi berlanjut menjadi kolaborasi antardaerah dalam menghadirkan layanan PAUD yang berkualitas, inklusif, holistik, integratif, dan ramah anak.
Bagi Kota Mataram, pengalaman yang diperoleh dari Makassar diharapkan menjadi pijakan awal untuk memperluas penerapan PAUD HI. Sementara bagi Makassar, kunjungan tersebut menjadi ruang evaluasi dan pertukaran inovasi untuk terus menyempurnakan layanan pendidikan anak usia dini.

