Pemkot Makassar

Simpul Nusantara Antar Gunung Sari ke Penilaian Nasional, Appi Ungkap Inovasi Kelurahan

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Jumat, 09 Oktober 2026 15:56

Simpul Nusantara Antar Gunung Sari ke Penilaian Nasional, Appi Ungkap Inovasi Kelurahan

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, mengandalkan inovasi Simpul Nusantara untuk bersaing dalam Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026.

Inovasi yang bertumpu pada kolaborasi masyarakat tersebut menyatukan berbagai program unggulan, mulai dari digitalisasi pelayanan publik, ketahanan pangan, pengelolaan sampah, pemberdayaan UMKM, pelestarian budaya lokal, hingga penanganan stunting.

Keseriusan Pemerintah Kota Makassar mengantarkan inovasi tersebut ke tingkat nasional ditunjukkan melalui pemaparan dan wawancara yang dilakukan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di hadapan tim penilai Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri secara daring, di Balai Kota Makassar, Kamis (8/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Munafri yang akrab disapa Appi memaparkan sejumlah keunggulan Gunung Sari yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan di tingkat kelurahan tidak cukup diukur dari banyaknya program yang dijalankan. Lebih dari itu, keberhasilan harus terlihat dari kemampuan pemerintah menggerakkan masyarakat untuk terlibat aktif menyelesaikan persoalan di lingkungannya.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular. Sampah tidak semata dipandang sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat diolah dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Di Gunung Sari, sampah organik diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman yang dikembangkan melalui program pertanian perkotaan atau urban farming.

Pola tersebut memperlihatkan keterkaitan antara pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan. Sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung produktivitas lahan, termasuk pekarangan dan ruang terbatas di kawasan permukiman.

“Program pemilahan sampah menghadirkan ekonomi sirkular di wilayah kelurahan. Ini tentu memberikan dampak yang baik sehingga ekonomi sirkular bisa membantu menyelesaikan persoalan lingkungan, khususnya sampah,” ujar Appi saat dikonfirmasi, Jumat (9/10).

Ia menjelaskan, berbagai program tersebut dijalankan bersama kelompok masyarakat dengan dukungan perangkat daerah di lingkup Pemerintah Kota Makassar.

Bagi Appi, keterlibatan warga menjadi kunci agar program pemerintah tidak berhenti sebagai kegiatan administratif, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.

Selain pengelolaan lingkungan, Gunung Sari juga memiliki potensi budaya lokal yang masih terpelihara. Keberadaan rumah adat dan tradisi masyarakat dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat identitas wilayah sekaligus mengembangkan pariwisata berbasis kearifan lokal.

“Di wilayah Kelurahan Gunung Sari ini masih ada satu rumah adat yang sangat terjaga. Ini bisa menjadi sarana untuk menceritakan kearifan lokal yang ada di Kota Makassar,” jelasnya.

Appi menilai, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan pembangunan wilayah. Kekayaan tradisi yang tetap hidup di tengah masyarakat bukan hanya menjadi identitas, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata lokal.

Keunggulan lainnya terletak pada partisipasi masyarakat dalam mendukung program pemerintah, termasuk kepatuhan membayar pajak dan retribusi. Menurut Appi, pendekatan persuasif dan kedekatan aparat kelurahan dengan warga berperan penting dalam membangun kesadaran tersebut.

Hubungan yang baik antara pemerintah dan masyarakat menjadi fondasi bagi pelaksanaan program pembangunan. Ketika kepercayaan terbangun, warga diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut mengambil bagian dalam mencari solusi atas berbagai persoalan di wilayahnya.

Pada sektor kesehatan, penanganan stunting juga menjadi perhatian. Appi menyebut, intervensi berbasis kelurahan menunjukkan perkembangan positif, dengan dua kasus yang menurutnya masih tersisa berdasarkan kondisi yang dipaparkannya.

Ia menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan terhadap anak yang mengalami stunting melalui koordinasi antara pemerintah kelurahan, kader kesehatan, dan masyarakat.

“Artinya, masyarakat yang ada di Kelurahan Gunung Sari melalui lurah akan terus memberikan perhatian sampai anak-anak yang mengalami stunting bisa keluar dari kondisi tersebut,” katanya.

Appi berharap pendekatan kolaboratif yang diterapkan Gunung Sari dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain di Makassar. Menurutnya, persoalan lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi dapat ditangani lebih efektif ketika pemerintah mampu membangun kepedulian serta partisipasi masyarakat.

Sementara itu, Lurah Gunung Sari, Ahmad Abubakar, menjelaskan bahwa Simpul Nusantara dirancang sebagai inovasi yang menyatukan berbagai potensi masyarakat dalam satu gerakan pembangunan di tingkat kelurahan.

Menurut Ahmad, inovasi tersebut tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga menekankan pentingnya membangun hubungan dan kerja sama antara pemerintah, kelompok masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan.

“Berbicara soal inovasi, kami di pemerintah kelurahan tidak hanya berbicara soal teknologi. Kami mempunyai inovasi unggulan yang kami beri nama Simpul Nusantara,” ujar Ahmad dalam pemaparan di hadapan tim penilai nasional.

Kelurahan Gunung Sari memiliki luas wilayah sekitar 1,6 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 18.492 jiwa. Berada di bagian selatan Kota Makassar dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Gowa, wilayah ini juga memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu masuk menuju Makassar dari arah selatan.

Dengan karakteristik tersebut, pemerintah kelurahan berupaya mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan warga sekaligus memperkuat pelayanan publik, ketahanan wilayah, dan pemberdayaan masyarakat.

Di bidang pelayanan, Gunung Sari memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Kelurahan atau SIM Lurah untuk mendukung administrasi dan pengelolaan data.

Aplikasi tersebut memuat informasi kependudukan, data RT/RW, kegiatan masyarakat, hingga laporan kegiatan di tingkat lingkungan. Sementara itu, website kelurahan dikembangkan sebagai sarana keterbukaan informasi yang mengintegrasikan publikasi kegiatan warga dan program unggulan Pemerintah Kota Makassar.

Informasi mengenai kegiatan urban farming, jenis tanaman yang dibudidayakan, hingga UMKM binaan Tim Penggerak PKK turut dihimpun melalui platform tersebut.

Untuk pengaduan masyarakat, pemerintah kelurahan memanfaatkan aplikasi Lontara+, yang menjadi salah satu kanal pelayanan digital Pemerintah Kota Makassar.

Digitalisasi tersebut diharapkan membuat pelayanan lebih terintegrasi, memudahkan masyarakat mengakses informasi, sekaligus memperkuat transparansi penyelenggaraan pemerintahan di tingkat kelurahan.

Di sektor ketahanan pangan, Gunung Sari mengembangkan urban farming dengan memanfaatkan pekarangan rumah, lahan sempit, dan lahan tidur yang tersedia di kawasan permukiman.

Warga didorong mengoptimalkan ruang yang ada melalui sistem vertikultura dan berbagai metode budidaya sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan perkotaan.

“Urban farming yang ada di kelurahan kami terus bertambah. Banyak lahan sempit maupun lahan tidur milik perumahan yang kami akomodasi melalui urban farming berbasis masyarakat,” kata Ahmad.

Program tersebut berjalan beriringan dengan pengelolaan sampah. Untuk sampah organik, masyarakat menerapkan sistem TEBA, ember tumpuk, komposter, dan biopori.

Sementara sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang mendorong masyarakat memanfaatkan sampah bernilai ekonomis. Gunung Sari juga mengembangkan skema penukaran sampah anorganik dengan pangan atau sayuran yang dikaitkan dengan kegiatan urban farming.

Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya diarahkan untuk mengurangi beban lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

Edukasi pemilahan sampah turut diperkuat melalui keterlibatan tokoh masyarakat dan pengurus masjid agar kesadaran menjaga kebersihan tumbuh dari lingkungan terkecil.

Pada sektor ekonomi, pemberdayaan UMKM dilakukan melalui kolaborasi Tim Penggerak PKK dan Koperasi Merah Putih.

TP PKK berperan mendorong lahirnya pelaku usaha baru melalui pelatihan keterampilan, pembinaan kewirausahaan, pendampingan usaha rumahan, serta fasilitasi akses permodalan melalui Rumah Nilan.

Setelah usaha berkembang, Koperasi Merah Putih diarahkan membantu memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan kualitas produk dan kemasan, serta membuka akses peningkatan kapasitas bagi pelaku UMKM.

Ahmad menyebut sejumlah produk UMKM di Gunung Sari telah memperoleh perizinan usaha dan sertifikat halal, bahkan mulai menerima pesanan dari luar daerah.

“TP PKK bertugas membina dan membentuk UMKM baru. Setelah itu, Koperasi Merah Putih memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan kualitas produk dan packaging, serta membantu peningkatan kapasitas pelaku UMKM,” jelasnya.

Di tengah penguatan ekonomi, Gunung Sari tetap mempertahankan tradisi dan identitas budaya masyarakat. Salah satunya melalui keberadaan bangunan adat yang masih terjaga.

Tradisi Pasili juga masih dilaksanakan masyarakat, disertai pengembangan seni budaya melalui sanggar-sanggar tari yang aktif di wilayah tersebut.

“Budaya-budaya lokal masih terus berjalan. Pasili menjadi rutin, kemudian pengembangan seni budaya melalui sanggar-sanggar tari juga masih terus berjalan,” ungkap Ahmad.

Pelestarian tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda sekaligus memperkuat karakter masyarakat di tengah perkembangan perkotaan.

Inovasi Simpul Nusantara turut mencakup aspek keamanan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Gunung Sari memiliki Panggawa Bencana Kelurahan yang diperkuat dengan peta mitigasi bencana. Peta tersebut ditempatkan di posko Panggawa Bencana dan kantor kelurahan untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat.

Dalam menjaga keamanan dan ketertiban, pemerintah kelurahan bersinergi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Dukungan juga diperkuat melalui Linmas, pos keamanan lingkungan, serta pemasangan CCTV di sejumlah titik.

Selain itu, keberadaan Komunitas Informasi Masyarakat dan kelompok Sadar Hukum menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi informasi dan kesadaran hukum warga.

Kelurahan Gunung Sari juga memiliki mekanisme pelaporan melalui Selter Warga untuk mengantisipasi dan menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Berdasarkan data Polsek Rappocini hingga 30 September 2026, tercatat dua kasus kriminal di wilayah Kelurahan Gunung Sari.

Data tersebut menjadi salah satu gambaran kondisi keamanan wilayah yang dipantau pemerintah kelurahan bersama unsur terkait.

Pada bidang kesehatan, Gunung Sari mengandalkan kolaborasi kader dan masyarakat untuk memperkuat pemantauan tumbuh kembang anak serta penanganan stunting.

Tim Pendamping Keluarga yang terdiri atas kader keluarga berencana, kader PKK, dan kader kesehatan melakukan pemantauan serta melaporkan kondisi anak kepada Posyandu Era Baru.

Posyandu kemudian melakukan pemantauan pertumbuhan anak yang berisiko mengalami stunting maupun anak yang telah mengalami stunting, termasuk memastikan pemberian vitamin, suplemen, dan kelengkapan imunisasi sesuai kebutuhan.

Dukungan juga datang dari relawan melalui program pemberian makanan bergizi bagi anak berisiko stunting, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Ahmad menyebut, berdasarkan data Puskesmas Mangasa per 30 September 2026, terdapat tujuh kasus stunting di Kelurahan Gunung Sari.

Pemerintah kelurahan menargetkan angka tersebut terus ditekan hingga mencapai nol kasus melalui penguatan pendampingan, pemberian makanan tambahan, dan dukungan berbagai pihak.

“Kami optimistis tahun depan. Dana kelurahan juga kami anggarkan untuk pemberian makanan tambahan terhadap anak-anak stunting,” ujarnya.

“Kami juga terus mencarikan dana CSR untuk penanganan stunting karena zero stunting di wilayah kelurahan kami sangat penting,” lanjut Ahmad.

Selain berbagai program tersebut, pemerintah kelurahan mengoptimalkan aset milik Pemerintah Kota Makassar sebagai ruang interaksi dan aktivitas masyarakat.

Kantor kelurahan, Sekretariat Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Sekretariat Tim Penggerak PKK, hingga Baruga Barasa dimanfaatkan untuk mendukung pertemuan, kegiatan sosial, dan aktivitas warga.

Baruga Barasa, misalnya, tidak hanya digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk berkumpul dan melakukan berbagai kegiatan.

“Kami gunakan untuk bagaimana kami bersama warga di sini sebagai balai pertemuan. Anak-anak juga bisa berkumpul dan melakukan aktivitas di balai tersebut,” tutur Ahmad.

Melalui Simpul Nusantara, Kelurahan Gunung Sari berupaya menunjukkan bahwa inovasi pemerintahan tidak harus selalu bertumpu pada teknologi atau pembangunan infrastruktur berskala besar.

Kekuatan kolaborasi, partisipasi masyarakat, dan kemampuan mengintegrasikan berbagai program menjadi pendekatan yang diandalkan untuk membangun kelurahan yang lebih mandiri, produktif, aman, dan berkelanjutan.

Upaya tersebut sekaligus menjadi modal Gunung Sari dalam mengikuti penilaian kelurahan berprestasi tingkat nasional tahun 2026. (*)

Penulis : Addy

 Komentar