TROTOAR.ID, JAKARTA – Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Pengamat Politik Rocky Gerung kembali memberikan pandangan yang memukau.
Ia menyebut rezim Presiden Joko Widodo selalu menjual nasionalisme di tengah krisis yang melanda rakyat Indonesia.
“Rezim selalu begitu, kalau gak bisa kasi makan rakyatnya, dia langsung pakai nasionalisme seolah-olah nasionalisme bikin kenyang,” kata Rocky di kanal YouTube Rocky Gerung Official, Sabtu (14/8).
Baca Juga :
Ia mengungkapkan nasionalisme semu itu ada di balik kembalinya pengelolaan Blok Rokan ke tangan Pertamina.
Bagi Rocky, Pertamina juga turut berebut pengaruh dengan mengusung jargon nasionalisme kepada publik meski terdapat potensi korupsi.
“Tapi kita bayangkan bahwa jangan-jangan justru lebih berat dikelola Pertamina daripada dikelola Chevron karena ini soal hitung-hitungan ongkos aja, apalagi soal potensi korupsi dimana-mana,” kata Rocky.
Rocky Gerung mengungkapkan bahwa kembalinya pengelolaan Blok Rokan ke tangan Pertamina dari Chevron tak jauh berbeda dengan kasus akuisisi Freeport oleh Inalum.
Ia jelaskan bahwa apa yang terjadi dengan pengelolaan Blok Rokan saat ini tak lepas dari hal-hal yang sifatnya transaksional semata.
Hal ini sama dengan Freeport, kata dia, seolah-olah dengan gagah berani mengambil alih.
“Jadi semua transaksi yang sifatnya bisnis internasional, dia memang ada kadaluarsanya saat di mana mesti diselesaikan,” tuturnya.
Ia juga menyoal sikap Pertamina yang memasang iklan besar di sebuah surat kabar harian nasional dalam ukuran satu halaman penuh terkait kembalinya pengelolaan Blok Rokan.
Rocky menilai cara tersebut dibuat untuk menyenangkan Presiden Jokowi agar memperoleh materi untuk pencitraan ketika berpidato di forum Sidang Tahunan MPR-DPR-DPD pada 16 Agustus 2021 mendatang.
“Tetapi Pertamina ini juga konyol, dia buat iklan besar-besaran hanya supaya Pak Jokowi baca iklan itu gede-gede kan? Kan Pak Jokowi nggak ngerti soal-soal beginian. Nanti 16 Agustus ngucapin bahwa Rokan telah kembali,” pungkasnya. (Al)




Komentar