Oleh Armin Mustamin Toputiri
Trotoar.id – inilah repotnya bahasa Indonesia. Saya — mungkin juga Anda — yang tak cakap tentang ilmu kalimat, sintaksis.
Khususnya urusan frasa, gabungan dua kata. Kita seringkali dibikin bingung.
Baca Juga :
Frasa “rumah makan”, misalnya. Rumah, bukanlah makanan semacam pizza yang siap disantap. Rumah, kata benda, nomina direkatkan verba, kata kerja makan. Kita bersepakat mengartikan, rumah adalah tempat untuk mengerjakan makan. Maka antonimnya, ada rumah lain untuk aktifitas lain.
Contoh lain. “Minyak Goreng”. Nah ini dia, frasa penunjuk nomina, kata benda yang tak kalah sengitnya. Ikut membingungkan saya. Di balik sok tau saya, frasa memang tak ada SPO-nya. Risikonya, kita dibuat bingung, kata mana berposisi jadi subjeknya, atau menjadi objeknya. Apakah minyak? Ataukah goreng?
Kebingungan saya untuk tau frasa “minyak goreng” khususnya, makin diperparah oleh gerutu ibu-ibu rumah tangga sekian bulan terakhir. Tak hanya di rumah saya, tapi massal bagi semua ibu-ibu dari Sabang hingga Marauke. Serentak bergerutu soal minyak goreng seketika langka, lenyap dari pasar.
Padahal, laiknya kebutuhan sehari-hari, hukum pasar berlaku, persediaan banyak, harga murah, mudah dijangkau. Tapi ajaib, faktanya minyak goreng lenyap, seketika hilang dari pasar. Andai ada, telah beradu hukum pasar. Langka, mahal, dan tak mudah dijangkau sembarang orang. Di titik nadir itulah, batin ibu-ibu mendidih. Bersatu, massal bergerutu skala nasional.
Minyak goreng, seketika mewujud barang antik. Tak semua orang bisa menjangkau. Buktinya, hanya secuil pihak di negeri ini punya akses memiliki, lalu membagi-bagi kepada hanya orang dekatnya yang punya aspek kausalitas, berinteraksi pada kepentingannya cara politis. Sadar tak sadar, justru berkonsokuensi terbalik, kian mendidihkan gerutu batin ibu-ibu lainnya.
Sialnya, gerutu ibu-ibu itu, direspon terbalik oleh mereka yang cara demokratis telah diserahi kuasa oleh “mak-mak” untuk memberi solusi. Ada yang bikin “lawakan” Fastival Rebus, misalnya. Bahkan ada sekelas mantan Presiden RI, merespon nyinyir. “Kok pada rame ngantri belanja pakaian lebaran, tapi belanja minyak goreng pada menggerutu”. Nah, “kita perlu survey urusan satu ini” pintanya.
Duh, saya makin bingung. Semakin gagal paham secara sintaksis frasa “Minyak Goreng”. Rupanya, minyak goreng telah tersesat jauh di rimba politik. Padahal, indexmundi.com telah melansir, negeri ini penghasil CPO terbesar dunia. Produk minyak sawit kita, 44,5 juta ton pertahun. Hebat, tapi ajaibnya, minyak goreng yang asalnya dari minyak sawit itu, justru langka di negerinya sendiri?
Sabar, Kejaksaan Agung kita, telah menangkap empat oknum. Diduga pelaku yang “menggoreng minyak” sawit kita sehingga langka, bahkan hilang di pasar. Sekadar ibu-ibu tau, mereka bukan kaum “Kadrun” yang sering dicap bikin onar. Mereka itu, penguasa, “bercollab” pemodal. Tak jauh berbeda, misalnya bisnis PCR, sekian bulan lalu ramai diberitakan.
Jadi ibu-ibu, mumpung Ramadhan, ini ujian kesabaran. Mengoreng, tak usah. Ditahan, cukup ngakak dulu liat lelucon “Festival Rebus”. Sambil menunggu hasil suvey, apa ibu-ibu layak belanja pakaian lebaran. Pun juga saya ikutan bersabar, semoga proses sidang pengadilan nanti ada terungkap makna sebenarnya, frasa “minyak goreng”.
Apa benar, menggoreng memamg pakai minyak? Ataukah sebaliknya, justru minyaknya yang digoreng?



Komentar