Trotoar.id, Makassar – Ilham Arief Sirajuddin mengelar pertemuan dengan sejumlah senior Partai Golkar, dalam rangka silaturahmi bersama untuk mengawal apa yang menjadi visi misi Partai Golkar pemilu 2024
Dalam pertemuan tersebut terlihat, sejumlah senior partai Golkar seperti mantan ketua Harian Golkar Sulsel Roem, Wakil ketua Partai Golkar Zulkarnaen Latif, Choist Bachtiar, Gunadi Saleh, Chaerul Tallu Rahim, Dr. Heriany, Kadir Halid
Serta Mappaujung, Najib L, Dr. Ruslan, Patarai Wawo, Majid Tahir, Riefad Suaib, Mantan Sekda Kota Palopo Syamsu Rijal, dan
Baca Juga :
Pada silaturahmi tersebut Moh.Roem menyampaikan sebuah cerita yang dirindukan, dimana kebersamaan dan kekompakan kader hilang pasca musda ke X partai Golkar Sulsel di gelar
Mereka merasa saat ini Partai Golkar tidak lagi pernah melibatkan senior dan kader kader yang menjabat sebagai pengurus saat ini dalam kegiatan partai, termasuk diundang dalam kegiatan-kegiatan kepartaian.
Apa lagi para senior partai Golkar mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya terhadap yang cukup besar terhadap partai berlambang pohon beringin tersebut.
Sehingga, kondisi itulah yang membuat redupnya kekuatan Golkar di Sulsel, dan itu dimanfaatkan oleh kompetitor partai Golkar saat ini, apa lagi persaingan menuju pemilu 2024 sangat ketat
“Kami senior dan para pengurus tidak pernah lagi diundang dan dilibatkan dalam kegiatan kepartaian, bahkan terkesan adanya hegemoni kekuasaan di kepengurusan saat ini,” Ucapnya
Mengingat, selama ini prestasi demi prestasi yang diraih partai Golkar sepanjang karier politik kader sejak tahun 1974 ini, diraih di bawah pohon beringin, tidak terlepas dari peran serta kader yang ikut mendrive gerakan yang dilakukan partai Golkar
Bahkan, para senior dan kader saat ini sangat merindukan Golkar yang dulu, dimana kebersamaan dan persaudaraan dijunjung tinggi, dan mengesampingkan kepentingan politik dari masing-masing kader yang ada cuma mengawal kepentingan Bersama Partai Golkar.
“Kami sebenarnya sangat rindu dengan suasana di mana Golkar itu benar-benar terasa seperti milik semua kader, bukan hanya milik pengurus. Dan segelintir orang-orang yang cuma mengawal kepentingan pribadinya,” Kata Moh Roem
Roem juga yang mengaku telah ber-golkar sejak pak Ilham Arief Sirajuddin menjadi sekretaris Golkar tahun 1974, dia merasa tidak pernah ada perlakuan ibarat anak tiri. Kala itu, semua kader terpanggil dalam setiap kepemimpinan untuk merasa memiliki Golkar.
“Dulu semua kader memiliki peran masing-masing dan dilibatkan dalam kegiatan-kegi
kepartaian di Golkar, serta dan silaturahmi antar kader terjalin dengan baik, dan sekarang Itu hilang, dan kita rindukan itu, ” kenang Roem
Roem yang mengaku masih banyak berkomunikasi dengan sejumlah kader di daerah memastikan sangat banyak orang yang pernah berjasa pada Golkar, mau mengabdi dan berbakti lagi.
“Tapi mereka ini semua tidak pernah disentuh. Dulu, prinsip melibatkan lebih banyak orang agar partai semakin besar sangat kental. Sekarang, terbalik, jangankan orang di luar pengurus, yang saya dengar, bahkan pengurus yang dilibatkan hanya segelintir saja. Ini perlu diperbaiki,” tegas Roem.
Padahal, urgensi melibatkan kader-kader lama ini bukan sekadar untuk menghargai jasa mereka pada partai, juga untuk menjaga suara dari kelompok mereka tetap untuk Golkar.
“Pengurus jangan terkesan takut tersaingi dengan kader senior, toh rata-rata mereka sudah tidak maccaleg lagi kan”.
Senior perempuan Golkar, Dr Heriany juga memberi masukan agar suasana kebatinan kader yang dulu menyala-nyala memperjuangkan Golkar kembali bisa berkobar di tangan Ketua Golkar Sulsel, HM Taufan Pawe.
“Sebenarnya, banyak kader perempuan Golkar yang sudah mau mundur beramai-ramai. Tapi bujukan senior-senior lain yang begitu cinta Golkar membuat itu urung terjadi”.
Sebagai Korwil Pemenangan Soppeng-Wajo, dirinya hampir tidak pernah dilibatkan dalam setiap acara-acara Golkar. Karena itu, dirinya yang awalnya berniat mengajak kader lain untuk aktif ber-Golkar menjadi malu hati.
“Kami sangat berharap, kebersamaan yang dulu ada itu bisa tercipta kembali. Saya tidak pernah diundang pleno dalam kepengurusan ini. Saya tidak tahu, apakah memang tidak diundang atau memang belum pernah pleno”.
Hal senada juga diungkapkan Hoist Bachtiar berkisah, kepengurusan Golkar saat ini punya istilah rapat terbatas “ratas”. Istilah yang lahir karena setiap kali ada keputusan internal, maka yang akan dilibatkan hanya orang-orang pilihan saja. Selalu tidak lebih dari tujuh orang saja.
“Yang lain terpaksa diam. Bukan karena tidak mau berpartisipasi, tapi memang karena tidak dilibatkan,” kata Hoist.
Senior Golkar dari Gowa, Mappaujung, sepakat dengan langkah para senior untuk mendorong agar Golkar bisa kembali ke relnya.
“Kita semua memberi masukan dan sepakat Golkar harus bisa mengembalikan kebersamaan yang pernah ada. Demi kejayaan Golkar”.
Senior Golkar lainnya, Chaerul Tallu Rahim berharap pengurus DPD Golkar Sulsel bisa membuka diri dengan kehadiran tokoh-tokoh yang bisa mengangkat elektoral Golkar seperti IAS.
“Tidak usah diterima sebagai pesaing, mengingat ada mekanisme organisasi yang akan menjadi rel bagi persaingan untuk sebuah jabatan”.
Ketua Harian Golkar Sulsel, Kadir Halid, mengaku siap meneruskan semua masukan dari senior-senior ke meja DPD I Golkar Sulsel. “Semua yang ada di sini niatnya hanya ingin memperbaiki Golkar. Saya percaya itu, dan siap meneruskan segala keluh kesah ini,” kata Kadir.




Komentar