Makassar, Trotoar.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) terus mengakselerasi pembangunan Bendungan Jenelata di Kabupaten Gowa, salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditargetkan rampung pada tahun 2028.
Langkah percepatan ini ditandai dengan pelaksanaan Rapat Koordinasi Satgas Percepatan Investasi yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, Selasa, 1 Juli 2025.
Bertempat di Aula Lantai 8 Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, rapat ini membahas penyelesaian tahap keempat pembebasan lahan Bendungan Jenelata yang saat ini menyisakan 10 hektare dari total kebutuhan 39 hektare lahan milik PTPN I Regional 8. Proses tahap I hingga III telah tuntas dengan luas 29 hektare.
Baca Juga :
Sekda Sulsel Jufri Rahman menyampaikan bahwa percepatan ini krusial untuk mendukung kemajuan Sulsel dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Gowa, Takalar, dan sekitarnya.
“Kami berharap penyelesaian pembebasan lahan tahap keempat ini dapat segera dituntaskan. Ini proyek strategis nasional, manfaatnya sangat besar, termasuk penyediaan air baku untuk Makassar dan Gowa serta irigasi pertanian di daerah sekitarnya,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan semua pihak, termasuk Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel, Badan Pertanahan Nasional (BPN), BBWS Pompengan Jeneberang, dan unsur pemerintah daerah serta masyarakat.
Sementara itu, Wakajati Sulsel Teuku Rahman, menegaskan bahwa Kejati memiliki peran penting sebagai Ketua Satgas Percepatan Investasi.
Ia menekankan pentingnya pendekatan musyawarah dalam menyelesaikan konflik tumpang tindih lahan antara PTPN dan warga.
“Pembangunan bendungan ini untuk kepentingan umum. Rapat ini bertujuan mencari win-win solution, menyelesaikan permasalahan lahan melalui musyawarah bersama masyarakat,” tegas Teuku Rahman.
Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Suryadarma, menambahkan bahwa anggaran pembebasan lahan sudah disiapkan.
Namun, prosesnya tetap harus melalui prosedur dan verifikasi, terutama untuk 29 bidang tanah yang masih tumpang tindih.
Dari sisi masyarakat, perwakilan warga Dusun Manyampa, Desa Tanakaraeng, Samsuddin M, menyampaikan sikap terbuka terhadap proses pembebasan lahan, selama disertai kompensasi yang layak.
“Saya sudah berkebun sejak 1986 dan tidak pernah ada larangan. Kami menerima jika ini untuk kepentingan umum, asal tanamannya diganti,” katanya.
Bendungan Jenelata dirancang dengan tipe Concrete Face Rockfill Dam (CFRD) setinggi 62,8 meter dan kapasitas tampung air normal 223,6 juta meter kubik. Luas area genangan mencapai 12,20 km².
Menyediakan air baku 6,05 m³/detik untuk Makassar dan sekitarnya, Mengairi 26.773 hektare lahan pertanian.
Mereduksi risiko banjir dari 1.800 m³/detik menjadi 686 m³/detik (periode ulang 50 tahun).
Proyek dengan nilai investasi Rp4,15 triliun ini didanai melalui APBN dan pinjaman Cexim Bank Tiongkok, dan ditargetkan selesai pada tahun 2028.
Sinergi lintas sektor antara Pemprov Sulsel, Kejati, BPN, BBWS, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan proyek ini.
Pemerintah pun terus mendorong agar seluruh proses berjalan sesuai aturan, namun tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan partisipatif demi kesejahteraan masyarakat.




Komentar