MAKASSAR, Trotoar.id– Langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mempercepat pengaspalan di ruas Jalan Aroepala dengan bekerja hingga malam hari kini menuai sorotan.
Di satu sisi dianggap respons cepat, namun di sisi lain memunculkan pertanyaan soal perencanaan yang dinilai reaktif.
Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel mengerjakan pengaspalan lapis dasar setebal 6 sentimeter sepanjang kurang lebih 300 meter.
Targetnya jelas: meredam keluhan debu yang selama ini mengganggu warga sekitar.
Kepala Dinas, Andi Ihsan, menegaskan percepatan kerja malam hari adalah bentuk komitmen pelayanan.
Namun, pola kerja “kejar tayang” ini justru memantik kritik: apakah proyek ini sudah direncanakan matang sejak awal, atau baru dipacu setelah keluhan warga memuncak?
Debu jalan yang sebelumnya dikeluhkan mengindikasikan persoalan lama yang belum tertangani optimal.
Pengaspalan cepat memang bisa menjadi solusi jangka pendek, tetapi publik mempertanyakan kualitas dan ketahanan hasil pekerjaan jika dikebut dalam waktu singkat.
Selain itu, pengerjaan malam hari juga menimbulkan isu lain mulai dari pengawasan kualitas hingga potensi gangguan bagi warga sekitar.
Transparansi pelaksanaan dan standar mutu kini menjadi perhatian.
Pemprov berharap langkah ini langsung menjawab keresahan masyarakat. Namun, pekerjaan sepanjang 300 meter dinilai masih jauh dari cukup jika persoalan infrastruktur jalan di kawasan tersebut bersifat menyeluruh.
Kini, sorotan publik mengarah pada konsistensi: apakah ini bagian dari perbaikan sistematis, atau sekadar respons cepat untuk meredam keluhan yang sudah terlanjur mencuat?




Komentar