
MAKASSAR, Trotoar.id — Unjuk rasa peternak ayam petelur di depan kantor sementara DPRD Sulawesi Selatan, Jalan Andi Pangerang Pettarani, Kota Makassar, Senin (10/8/2026), berlangsung dengan cara yang berbeda.
Alih-alih membakar ban atau melakukan aksi teatrikal, para peternak justru membagikan ayam dan telur secara cuma-cuma kepada warga yang melintas di depan gedung DPRD Sulsel.
Aksi tersebut menjadi simbol protes atas anjloknya harga telur yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Para peternak mengaku kondisi tersebut membuat usaha mereka terus mengalami kerugian, sementara biaya produksi tetap harus dikeluarkan setiap hari.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Basuki Suyuti mengatakan aksi bagi-bagi ayam dan telur sengaja dilakukan untuk menggambarkan kondisi peternak yang semakin tertekan akibat rendahnya harga jual telur.
Menurut Basuki, persoalan harga telur bukan baru terjadi dalam beberapa hari terakhir. Penurunan harga disebut telah berlangsung selama lebih dari dua bulan dan berdampak langsung terhadap pendapatan peternak.
“Kejadian ini bukan seminggu dua minggu saja. Ini sudah lebih dua bulan harga telur anjlok, sehingga peternak mengalami kerugian yang cukup besar,” kata Basuki.
Di tengah aksi, sejumlah peternak terlihat membawa ayam dan telur untuk dibagikan kepada masyarakat.

Komoditas yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka justru diberikan secara cuma-cuma sebagai bentuk protes terhadap kondisi harga di tingkat peternak.
Bagi peternak, aksi tersebut bukan sekadar bentuk kepedulian kepada masyarakat. Mereka ingin menunjukkan bahwa rendahnya harga telur di tingkat produsen telah membuat usaha peternakan semakin sulit dipertahankan.
Pasalnya, meski harga jual telur turun, berbagai komponen biaya produksi tetap harus ditanggung peternak. Mulai dari pakan, obat-obatan, tenaga kerja, hingga biaya operasional kandang terus berjalan tanpa mengikuti penurunan harga telur.
Kondisi tersebut membuat peternak berada dalam posisi sulit. Produksi telur harus tetap berjalan, tetapi hasil penjualan tidak lagi mampu memberikan keuntungan yang memadai.
Karena itu, para peternak mendesak pemerintah segera turun tangan untuk menjaga stabilitas harga telur.
Mereka meminta pemerintah melihat persoalan tersebut bukan hanya dari sisi konsumen, tetapi juga dari sisi keberlangsungan usaha peternak sebagai produsen pangan.
Peternak berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menciptakan keseimbangan harga di tingkat produsen dan konsumen.
Mereka juga meminta adanya kebijakan yang dapat memberikan perlindungan ketika harga telur mengalami penurunan tajam.
Menurut mereka, stabilitas harga sangat penting agar masyarakat tetap memperoleh telur dengan harga terjangkau, namun di sisi lain peternak juga mendapatkan harga yang layak untuk menutup biaya produksi dan mempertahankan usahanya.
Aksi tersebut sekaligus menjadi pesan kepada DPRD Sulsel dan pemerintah bahwa persoalan harga telur bukan sekadar masalah perdagangan komoditas.
Jika berlangsung terlalu lama, anjloknya harga dapat mengancam keberlangsungan peternakan ayam petelur di Sulawesi Selatan.
Para peternak berharap aspirasi mereka mendapat perhatian dan segera ditindaklanjuti melalui langkah nyata pemerintah, termasuk upaya menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan harga jual telur.
Di tengah lalu lalang kendaraan di Jalan AP Pettarani, ayam dan telur yang dibagikan kepada warga berubah menjadi simbol keresahan.
Para peternak memilih membagikan hasil produksi mereka, bukan membakar ban, untuk menunjukkan betapa berat tekanan yang mereka hadapi.
Bagi mereka, persoalan yang harus segera dijawab bukan sekadar berapa harga telur di pasar, tetapi bagaimana peternak tetap mampu bertahan ketika harga jual terus jatuh sementara biaya produksi tidak ikut turun.


Komentar