Partai Golkar

Mengenal Rahman Pina, yang Diusulkan Jabat Sekretaris Golkar Sulsel

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Rabu, 09 September 2026 13:35

Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia Di dampingi Ketua Golkar Kota Makassar Munafri Arifuddin dan PLT Sekretaris DPD I Golkar Sulsel Rahman Pina Membungkukkan Badan Saat Bersalaman dengan Bahlil
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia Di dampingi Ketua Golkar Kota Makassar Munafri Arifuddin dan PLT Sekretaris DPD I Golkar Sulsel Rahman Pina Membungkukkan Badan Saat Bersalaman dengan Bahlil

MAKASSAR, Trotoar.id — Di balik perubahan kepemimpinan di tubuh Partai Golkar Sulawesi Selatan, mulai terlihat siapa saja figur yang dipersiapkan mengisi posisi strategis di sekitar Ketua DPD I Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (IAS).

Salah satu nama yang mencuat adalah Rahman Pina. Politisi Partai Golkar yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Sulsel itu diproyeksikan IAS untuk menduduki posisi Sekretaris DPD I Golkar Sulsel.

Jika terealisasi, posisi tersebut bukan sekadar jabatan administratif. Sekretaris DPD I memiliki peran penting dalam memastikan keputusan ketua diterjemahkan menjadi kerja organisasi, mengawal konsolidasi hingga menjaga ritme komunikasi antara struktur partai di tingkat provinsi dengan DPD II kabupaten dan kota.

Karena itu, pilihan terhadap Rahman Pina menarik untuk dibaca lebih jauh.

Ia bukan figur yang tiba-tiba muncul dalam lingkar kekuasaan Golkar Sulsel. Namanya telah lama bersinggungan dengan perjalanan politik IAS, bahkan jauh sebelum keduanya berada pada posisi strategis seperti sekarang.

Jejak hubungan politik keduanya telah terbentuk sejak dekade 1990-an. Kala itu, IAS mulai dikenal sebagai salah satu figur yang memiliki pengaruh dalam dinamika politik Kota Makassar.

Di waktu yang hampir bersamaan, Rahman Pina mulai membangun pijakan politiknya dan masuk dalam orbit aktivitas politik yang kemudian mempertemukannya dengan IAS.

Hubungan tersebut tidak berhenti sebagai kedekatan personal. Seiring perjalanan waktu, keduanya terus berada dalam ruang politik yang sama.

IAS kemudian menapaki karier hingga menjadi Wali Kota Makassar, sementara Rahman Pina secara perlahan membangun karier elektoral dan memperkuat posisinya di Partai Golkar.

Rahman Pina memilih jalur politik yang panjang. Ia tidak langsung melompat ke panggung provinsi, tetapi membangun karier dari tingkat legislatif Kota Makassar.

Pada Pemilu 2009, Rahman Pina berhasil terpilih sebagai anggota DPRD Kota Makassar. Lima tahun kemudian, kepercayaan pemilih kembali diperolehnya. Ia kembali duduk sebagai legislator DPRD Kota Makassar untuk periode 2014–2019.

Karier politiknya kemudian memasuki babak baru pada Pemilu 2019. Rahman Pina berhasil menembus DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

Kursi tersebut kembali dipertahankannya pada periode berikutnya hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi Wakil Ketua DPRD Sulsel.

Lintasan tersebut memperlihatkan satu hal penting: Rahman Pina adalah produk dari proses politik yang panjang. Ia tumbuh dari bawah, melewati kontestasi elektoral berulang, membangun jaringan, sekaligus mengumpulkan pengalaman di ruang parlemen.

Di internal Partai Golkar, pengalaman organisasinya juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan tersebut. Rahman Pina pernah dipercaya sebagai Bendahara Umum DPD II Golkar Kota Makassar.

Posisi itu membuatnya tidak hanya berhadapan dengan urusan politik praktis, tetapi juga dengan kerja-kerja organisasi dan konsolidasi kader.

Jejaknya kemudian berlanjut melalui organisasi sayap partai. Ia pernah menjabat Wakil Ketua DPD AMPI Sulsel dan kemudian dipercaya memimpin Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Sulsel.

Pengalaman di organisasi kepemudaan tersebut menjadi salah satu modal penting dalam membangun jejaring.

AMPI dan AMPG merupakan bagian dari ekosistem kaderisasi Golkar yang selama ini memiliki posisi strategis dalam menjaga regenerasi dan mesin politik partai.

Rahman Pina juga pernah berada langsung di pusat pengelolaan organisasi Golkar Sulsel ketika dipercaya sebagai Plt Sekretaris DPD I Golkar Sulsel.

Pengalaman tersebut membuatnya relatif memahami bagaimana roda organisasi partai bekerja dari tingkat provinsi.

Kini, pengalaman itu kembali menemukan relevansinya. Ketika IAS mulai menyusun struktur kepemimpinan baru Golkar Sulsel, nama Rahman Pina muncul sebagai salah satu figur yang diproyeksikan mengisi posisi sekretaris.

Di titik inilah relasi IAS dan Rahman Pina menjadi menarik. IAS membutuhkan figur yang tidak hanya memahami partai, tetapi juga mampu bekerja cepat menerjemahkan arah politik ketua ke dalam struktur organisasi.

Sementara Rahman Pina datang dengan modal pengalaman legislatif, organisasi dan jaringan politik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Namun, kapasitas Rahman Pina tidak hanya terbentuk dari Partai Golkar. Ia juga memiliki pengalaman panjang di organisasi yang bersentuhan langsung dengan dunia pemerintahan dan parlemen.

Alumni Sospol Universitas Hasanuddin itu pernah dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (ADEKSI).

Jabatan tersebut mempertemukannya dengan para legislator dari berbagai daerah dan memberinya pengalaman mengelola jejaring kelembagaan di luar lingkup politik partai.

Saat ini, Rahman Pina juga dipercaya sebagai Ketua Harian IKA Universitas Hasanuddin. Aktivitas organisasi tersebut memperluas ruang pergaulannya sekaligus menempatkannya dalam jaringan alumni salah satu perguruan tinggi terbesar di kawasan timur Indonesia.

Dengan rekam jejak itu, Rahman Pina memiliki kombinasi pengalaman yang relatif lengkap pernah menjadi pengurus partai, memimpin organisasi sayap, mengelola sekretariat partai, menjadi legislator di tingkat kota dan provinsi, hingga menjalankan peran dalam organisasi lintas daerah dan jaringan alumni.

Maka ketika IAS memproyeksikannya sebagai Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, keputusan tersebut dapat dibaca lebih dari sekadar penempatan seorang kader.

Ada pertimbangan pengalaman, kemampuan organisasi, jejaring politik, sekaligus faktor kedekatan yang telah terbangun dalam perjalanan panjang keduanya.

Bagi IAS, sekretaris bukan sekadar pendamping ketua. Posisi itu adalah simpul yang menghubungkan keputusan politik dengan kerja mesin partai.

Di tengah kebutuhan konsolidasi Golkar Sulsel, figur sekretaris akan menentukan seberapa cepat dan efektif kepemimpinan baru bergerak hingga ke tingkat bawah.

Di sisi lain, bagi Rahman Pina, proyeksi tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan politiknya. Setelah bertahun-tahun berproses sebagai kader, legislator dan pengurus organisasi, ia kini berpeluang mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah kerja partai di tingkat provinsi.

Duet IAS–Rahman Pina pun mulai menjadi kombinasi yang menarik untuk dicermati. IAS membawa pengalaman sebagai mantan Wali Kota Makassar dan kini memegang kendali Golkar Sulsel, sementara Rahman Pina diproyeksikan menjadi figur yang mengawal mesin organisasi dari balik meja sekretariat.

Keduanya bukan orang baru satu sama lain. Mereka telah mengenal dan berada dalam lingkungan politik yang sama selama puluhan tahun.

Justru sejarah panjang itulah yang dapat menjadi kekuatan sekaligus akan menjadi perhatian dalam perjalanan kepemimpinan baru Golkar Sulsel.

Sebab, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana membentuk struktur kepengurusan. Jauh lebih penting adalah bagaimana mengonsolidasikan seluruh kekuatan Golkar Sulsel, merawat soliditas DPD II, menghidupkan kembali mesin kaderisasi, serta memastikan partai tetap kompetitif menghadapi agenda politik berikutnya.

Pada akhirnya, Rahman Pina bukan hanya sedang diproyeksikan sebagai seorang sekretaris. Ia berpotensi menjadi salah satu penggerak utama di balik kepemimpinan IAS.

Jika duet itu benar-benar terbentuk, publik akan melihat apakah kedekatan yang telah terbangun sejak era 1990-an mampu berubah menjadi kekuatan organisasi.

Sebab, di panggung politik, hubungan lama hanya akan menjadi modal awal. Tantangan sebenarnya adalah membuktikan bahwa pengalaman, loyalitas dan jaringan tersebut mampu diterjemahkan menjadi mesin Golkar Sulsel yang lebih solid, efektif dan siap menghadapi pertarungan politik berikutnya.

Penulis : Upiq

 Komentar

Berita Terbaru
Parlemen09 September 2026 13:42
DPRD Sulsel Sambangi Pertamina, Desak Solusi Kelangkaan BBM dan LPG 3 Kg di Makassar
MAKASSAR, Trotoar.id — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG 3 kilogram yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Makassar mendapat perhatian seri...
Nasional09 September 2026 12:34
Ridwan Andi Wittiri Desak PLN Tuntaskan Pemadaman Listrik di Sulsel
MAKASSAR, Trotoar.id— Persoalan pemadaman listrik yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan mendapat sorotan dari Anggota DPR RI Komis...
Metro09 September 2026 12:25
Wali Kota Appi Kerahkan OPD Atasi Krisis Air Bersih, 12.939 Warga Sudah Terima Bantuan
MAKASSAR, Trotoar.id — Krisis air bersih akibat kemarau panjang mulai menjadi persoalan serius di Kota Makassar. Pemerintah Kota Makassar merespons ...
Metro08 September 2026 19:25
Entry Meeting BPK Sulsel, Munafri Tekankan Regulasi BUMD Tak Boleh Multitafsir
MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Kota Makassar dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat pengawasan terhad...