MAKASSAR, Trotoar.id — Kota Makassar mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026.
Momentum ini diharapkan tidak sekadar mempertemukan insan musik dari berbagai daerah, tetapi juga membuka peluang bagi industri musik untuk tumbuh sebagai sumber ekonomi baru sekaligus mengantarkan talenta lokal ke panggung nasional dan internasional.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menilai penyelenggaraan KMI 2026 menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat ekosistem musik, memperluas jejaring industri, serta meningkatkan nilai ekonomi karya para musisi.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah membuka peluang lebih besar bagi musisi untuk memproduksi, mendistribusikan, dan memperkenalkan karya kepada pendengar lintas negara.
Peluang tersebut perlu dimanfaatkan agar musik tidak hanya menjadi medium ekspresi seni dan budaya, tetapi juga mampu memberikan kesejahteraan bagi pelakunya.
“Merupakan suatu kebanggaan Kota Makassar mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah KMI 2026. Ini mempertemukan ratusan insan musik dari berbagai daerah dan menjadi ruang untuk membahas masa depan industri musik Indonesia,” ujar Munafri.
“Mulai dari pengembangan kekayaan intelektual (intellectual property/IP), pemanfaatan teknologi digital, hingga perluasan akses pasar bagi musisi lokal,” tambahnya.
Pesan tersebut disampaikan Munafri yang akrab disapa Appi saat menghadiri pembukaan Konferensi Musik Indonesia 2026 bertema “Gerak Seirama” di Hotel Claro, Jalan A.P. Pettarani, Makassar, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada 27 Oktober hingga 1 November 2026 itu diselenggarakan Kementerian Kebudayaan bersama Indonesia World Music Series. Konferensi ini berfokus pada penguatan ekosistem musik nasional, termasuk pengembangan potensi musik dari kawasan timur Indonesia.
Pembukaan KMI 2026 turut dihadiri Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, jajaran kementerian, anggota DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras, Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, serta jajaran perangkat daerah Pemkot Makassar.
Dalam sambutannya, Appi menegaskan bahwa musik memiliki peran lebih luas daripada sekadar hiburan.
Musik merupakan bagian dari identitas budaya, sarana menyampaikan pesan kemanusiaan, sekaligus instrumen yang mampu mempertemukan masyarakat dari latar belakang berbeda.
Indonesia, kata dia, memiliki kekayaan musik yang besar, mulai dari tradisi musik yang diwariskan lintas generasi hingga beragam genre modern yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Di Makassar dan Sulawesi Selatan, tradisi musik dan seni pertunjukan menjadi bagian penting dari identitas budaya yang perlu dirawat, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Karena itu, Appi berharap musik tradisional tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi kreativitas masa kini sekaligus membuka peluang ekonomi pada masa mendatang.
“Jangan hanya menjadi wilayah seni, tetapi ini bisa menjadi mesin ekonomi baru untuk memastikan musik menghasilkan nilai ekonomi yang baik bagi para musisi,” tegasnya.
Menurut Appi, perkembangan platform digital, kecerdasan buatan, dan algoritma distribusi konten telah mengubah cara musik diproduksi, dipasarkan, dan dinikmati masyarakat.
Perubahan tersebut membuka kesempatan bagi musisi daerah untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, peluang itu perlu diimbangi dengan perlindungan hak kekayaan intelektual, kepastian hak ekonomi pencipta, akses pembiayaan, serta dukungan terhadap pemasaran karya.
Ia menekankan pentingnya kebijakan yang mampu melindungi hak dan kesejahteraan musisi sekaligus memberikan kesempatan yang lebih setara bagi talenta daerah untuk berkembang dalam industri musik nasional.
Sebagai tuan rumah, Makassar memiliki peluang untuk memperluas eksposur daerah sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat aktivitas kebudayaan dan ekonomi kreatif di kawasan timur Indonesia.
Kehadiran ratusan insan musik dari berbagai daerah diharapkan membuka ruang kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan perluasan jaringan bagi musisi lokal.
Appi menyebut sejumlah kelompok musik asal Makassar telah memperoleh kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan internasional. Potensi tersebut, menurutnya, perlu terus dikembangkan melalui akses industri dan jejaring yang lebih luas.
Ia juga mendorong kolaborasi musik dengan sektor kreatif lainnya, seperti film, tari, dan seni pertunjukan. Sinergi lintas sektor tersebut berpotensi memperluas pasar serta menciptakan nilai tambah bagi pelaku ekonomi kreatif.
“Kita beruntung karena Makassar dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan ini,” tuturnya.
“Ada ratusan insan musik yang datang ke Makassar, dan ini menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring serta memberikan akses yang lebih besar kepada musisi lokal untuk memperkenalkan karya mereka,” lanjutnya.
Senada dengan Appi, Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham menyambut positif penyelenggaraan KMI 2026. Ia menilai konferensi tersebut dapat menjadi momentum bagi musisi lokal untuk mengembangkan kreativitas, memperluas jaringan, dan memperkenalkan identitas musik daerah ke tingkat yang lebih luas.
“Pelaksanaan KMI 2026 tidak hanya menjadi forum diskusi bagi para insan musik, tetapi juga menghadirkan peluang nyata bagi musisi lokal untuk mengembangkan kreativitas, memperluas jejaring, dan membawa karya mereka ke tingkat nasional hingga internasional,” ujar Aliyah.
Menurutnya, Makassar memiliki kekayaan budaya dan potensi talenta musik yang perlu didukung melalui ruang ekspresi, kolaborasi, serta akses terhadap perkembangan industri musik.
Aliyah menegaskan bahwa musik tidak hanya memiliki nilai seni dan budaya, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, pengembangan ekosistem musik perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah, musisi, komunitas, dan pelaku industri kreatif.
“Kita berharap semakin banyak talenta lokal yang memperoleh kesempatan untuk berkarya, meningkatkan kapasitas, serta memperkenalkan identitas budaya Makassar kepada khalayak yang lebih luas,” tutupnya.
Appi berharap KMI 2026 tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti melalui program, kebijakan, dan kerja sama konkret.
Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat perlindungan hak musisi, mengembangkan kekayaan intelektual, memperluas akses pembiayaan dan pasar, serta meningkatkan daya saing musik Indonesia.
Pemerintah Kota Makassar, lanjutnya, berkomitmen mendukung terciptanya ruang yang ramah bagi kreativitas, tempat seniman dan musisi dapat berekspresi, komunitas berkolaborasi, dan gagasan baru berkembang tanpa kehilangan akar budaya.
Ia juga berharap hasil konferensi dapat dirasakan oleh musisi di berbagai daerah, sehingga talenta dari seluruh penjuru Nusantara memiliki kesempatan yang lebih luas untuk tumbuh dan berkembang.
“Dari Makassar, mari kita suarakan semangat baru bagi musik Indonesia: berbeda irama, satu harmoni, beragam budaya, satu Indonesia,” pungkas Appi. (*)




Komentar