MAKASSAR, Trotoar.id — Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, menantang kepengurusan DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin untuk mencetak sejarah baru dengan meningkatkan perolehan kursi pada Pemilu 2029.
Pesan tersebut disampaikan Sarmuji saat memberikan arahan dalam pelantikan pengurus DPD Golkar Sulsel di Makassar, Minggu (25/10/2026).
Ia menegaskan, penambahan kursi dan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan dua mandat utama partai yang harus dijalankan seluruh kader.
Sarmuji mengatakan, Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis dalam peta kekuatan Golkar secara nasional.
Karena itu, ia berharap kepengurusan baru mampu mengoptimalkan potensi politik daerah untuk memperbesar kontribusi Golkar terhadap perolehan kursi di tingkat nasional maupun daerah.
“Mudah-mudahan di bawah komando Bang Aco, Golkar Sulawesi Selatan nambah kursi dan akan dicatat dalam sejarah sebagai masa-masa keemasan Partai Golkar,” ujar Sarmuji, menutup sambutannya.
Selain target elektoral, Sarmuji menegaskan komitmen Golkar untuk mendukung pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka hingga akhir masa jabatan.
Menurutnya, dukungan tersebut tidak sebatas loyalitas politik, tetapi juga didasarkan pada penilaian terhadap arah pembangunan pemerintah yang dinilai semakin berorientasi kepada rakyat.
Ia menyoroti sejumlah program pemerintah, termasuk pemeriksaan kesehatan gratis dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai bagian dari perubahan pendekatan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus subjek pembangunan.
Sarmuji juga menyinggung pergeseran paradigma ekonomi dari pendekatan yang mengandalkan pertumbuhan kelompok usaha besar menuju pemberdayaan masyarakat secara lebih luas.
Ia menilai, manfaat pembangunan perlu dirasakan langsung oleh rakyat, bukan hanya bergantung pada efek tetesan ekonomi dari kelompok yang lebih mapan.
Meski menyatakan dukungan penuh, Sarmuji menegaskan bahwa Golkar tetap memiliki tanggung jawab memberikan masukan apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah.
“Bahwa ada kelemahan, bahwa ada kekurangan, maka tugas Partai Golkar sebagai bagian dari koalisi adalah menyempurnakannya,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Sarmuji juga memaparkan perkembangan elektabilitas Golkar berdasarkan survei yang disebutnya tersedia saat ini.
Ia menyebut sejumlah survei menempatkan elektabilitas Golkar pada kisaran 10–13 persen. Menurut perbandingan yang disampaikannya, angka tersebut lebih baik dibandingkan periode yang sama sekitar dua setengah tahun setelah Pemilu pada siklus sebelumnya, ketika elektabilitas Golkar berada di kisaran 6–9 persen.
Sarmuji menggunakan perbandingan tersebut untuk menegaskan bahwa dukungan Golkar terhadap pemerintah tidak serta-merta menggerus kekuatan elektoral partai.
Namun, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut harus diikuti kerja politik yang lebih terarah agar dapat dikonversi menjadi tambahan kursi pada Pemilu 2029.
Sulawesi Selatan, menurutnya, diharapkan menjadi salah satu daerah yang memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan perolehan kursi Golkar secara nasional.
Catatan: Angka elektabilitas tersebut merupakan paparan Sarmuji dalam sambutannya. Nama lembaga survei, waktu pelaksanaan, dan metodologi survei perlu dikonfirmasi sebelum angka itu dijadikan dasar perbandingan secara independen.
Sarmuji juga mengingatkan bahwa lanskap politik terus berubah seiring perkembangan teknologi digital dan pergeseran perilaku pemilih, khususnya generasi muda.
Ia menilai, pendekatan politik konvensional tidak lagi cukup untuk menjangkau pemilih yang semakin terbiasa mencari informasi dan membentuk pandangan politik melalui ruang digital.
Menurut Sarmuji, generasi muda saat ini memiliki pola pengambilan keputusan politik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Informasi yang mereka peroleh secara mandiri melalui platform digital turut memengaruhi pilihan politik, termasuk ketika menentukan partai yang akan didukung.
Karena itu, ia meminta seluruh jajaran Golkar Sulsel, termasuk pengurus di tingkat kabupaten dan kota, memanfaatkan ekosistem digital secara maksimal.
“Tidak masuk dalam dunia digital sama saja kita tidak membangun jembatan terhadap masa depan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi tantangan bagi kepengurusan baru Golkar Sulsel untuk memperkuat komunikasi politik berbasis digital, membangun interaksi dengan pemilih muda, serta memastikan pesan dan program partai dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Di sisi lain, Sarmuji menyoroti besarnya komposisi kepengurusan DPD Golkar Sulsel yang berjumlah 197 orang.
Ia berharap keragaman latar belakang pengurus dapat menjadi kekuatan untuk memperluas jangkauan partai di tengah masyarakat.
Ia menekankan bahwa setiap pengurus harus mampu menjadi penghubung dengan kelompok sosial yang memiliki kedekatan dengan latar belakang masing-masing, mulai dari kalangan pengusaha hingga organisasi kemasyarakatan dan kelompok profesi.
Sarmuji menggambarkan Golkar sebagai catch-all party, yakni partai yang berupaya menjangkau berbagai kelompok masyarakat tanpa membatasi diri pada satu basis sosial tertentu.
Dengan pendekatan tersebut, ia berharap Golkar Sulsel mampu memperkuat konsolidasi internal sekaligus memperluas dukungan di tengah keragaman masyarakat Sulawesi Selatan.
Pada akhirnya, pesan Sarmuji menempatkan kepengurusan Ilham Arief Sirajuddin pada dua pekerjaan besar: memperluas basis dukungan melalui konsolidasi lintas kelompok dan menyesuaikan strategi politik dengan perkembangan era digital.
Target penambahan kursi pada Pemilu 2029 akan menjadi tolok ukur penting untuk menguji efektivitas strategi tersebut.
Bagi Golkar Sulsel, tantangannya bukan sekadar mempertahankan posisi politik, melainkan membuktikan bahwa soliditas organisasi, kedekatan dengan masyarakat, dan kemampuan beradaptasi dapat menghasilkan peningkatan kekuatan elektoral.




Komentar