MAROS, Trotoar.id — Peta persaingan menuju kursi Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Maros mulai mengerucut.
Patarai Amir resmi diumumkan sebagai bakal calon tunggal Ketua Golkar Maros setelah menjadi satu-satunya kandidat yang mengembalikan formulir pendaftaran sekaligus melengkapi seluruh dokumen persyaratan pencalonan.
Bukan hanya tampil sebagai kandidat tunggal, Patarai Amir juga datang dengan dukungan politik yang kuat.
Anggota DPRD Sulsel tersebut mengantongi 14 dukungan dari Pimpinan Kecamatan (PK) Partai Golkar se-Kabupaten Maros serta lima dukungan atau rekomendasi dari organisasi pendiri dan organisasi yang didirikan Partai Golkar.
Pengumuman tersebut disampaikan Steering Committee (SC) Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD Partai Golkar Maros, Sabtu (31/10/2026), setelah seluruh tahapan penjaringan bakal calon dinyatakan selesai.
Ketua SC Musda XI Golkar Maros, Rudihartono, mengungkapkan bahwa pada tahap awal terdapat dua nama yang mengambil formulir pendaftaran, yakni A. Syarifuddin dan Patarai Amir.
Namun, hingga batas akhir pengembalian formulir, hanya Patarai Amir yang menyerahkan dokumen pencalonan beserta seluruh persyaratan yang telah ditentukan panitia.
“Berdasarkan hasil tahapan penjaringan yang telah kami laksanakan, terdapat dua orang yang mengambil formulir bakal calon Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Maros, yakni A. Syarifuddin dan Patarai Amir. Akan tetapi, sampai batas waktu yang telah ditetapkan, hanya Bapak Patarai Amir yang mengembalikan formulir beserta berkas persyaratannya,” ujar Rudihartono.
Ia menjelaskan, dalam dokumen pencalonannya, Patarai Amir turut melampirkan 14 dukungan dari Pimpinan Kecamatan serta lima dukungan atau rekomendasi dari organisasi pendiri dan organisasi yang didirikan Partai Golkar di tingkat Kabupaten Maros.
Seluruh dokumen tersebut telah diterima dan diperiksa panitia berdasarkan petunjuk teknis serta pedoman organisasi Partai Golkar.
“Dari berkas yang kami terima, terdapat 14 dukungan dari Pimpinan Kecamatan dan lima dukungan atau rekomendasi dari organisasi pendiri maupun organisasi yang didirikan Partai Golkar di tingkat Kabupaten Maros. Seluruh berkas tersebut kami periksa dan verifikasi sesuai persyaratan pencalonan yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Berdasarkan hasil penjaringan dan verifikasi tersebut, SC kemudian mengumumkan Patarai Amir sebagai bakal calon tunggal Ketua DPD II Golkar Maros pada Musda XI.
Meski demikian, status calon tunggal tersebut merupakan hasil tahapan penjaringan dan belum secara otomatis menjadikannya Ketua DPD II Golkar Maros definitif. Penetapan kepemimpinan tetap harus melalui mekanisme dan keputusan resmi dalam forum Musda.
“Berdasarkan hasil penjaringan dan berkas yang telah diverifikasi, maka hari ini kami mengumumkan Bapak Patarai Amir sebagai bakal calon tunggal Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Maros pada Musda XI,” tegas Rudihartono.
SC juga mengimbau seluruh kader dan elemen Partai Golkar di Kabupaten Maros untuk menghormati mekanisme organisasi serta menjaga suasana tetap kondusif menjelang pelaksanaan Musda.
Musda XI DPD Partai Golkar Kabupaten Maros dijadwalkan berlangsung Senin, 2 November 2026, di Grand Town Hotel Maros. Agenda tersebut rencananya dibuka langsung Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin.
Kehadiran Ilham Arief Sirajuddin menjadi bagian penting dalam rangkaian konsolidasi organisasi Golkar Sulsel yang kini tengah mempercepat pelaksanaan Musda di sejumlah kabupaten dan kota.
Dengan mengerucutnya penjaringan menjadi satu kandidat, perhatian kader kini tertuju pada jalannya persidangan Musda XI. Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang pengambilan keputusan terkait kepemimpinan, tetapi juga momentum menentukan arah konsolidasi dan penguatan organisasi Golkar Maros ke depan.
Selain menentukan ketua untuk periode berikutnya, Musda XI diharapkan mampu memperkuat soliditas internal, menyatukan kekuatan kader, serta merumuskan strategi politik menghadapi kontestasi Pemilu 2029.
Bagi Golkar Maros, tantangan berikutnya bukan sekadar memastikan pergantian kepemimpinan berjalan mulus, melainkan bagaimana konsolidasi organisasi dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kekuatan politik dan perolehan suara pada pemilu mendatang.



Komentar