Gegara Perda Syariah, Ketua PSI Gowa Mundur

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Senin, 17 Desember 2018 17:36

Gegara Perda Syariah, Ketua PSI Gowa Mundur
TROTOAR.ID, MAKASSAR — Jelang pemilu yang sudah 150 hari lagi, satu persatu kader dan pengurus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mulai lempar handuk alias mundur dari jabatan dan status sebagai kader partai Pendukung Jokowi-Ma’Ruf

Seperti sikap politik yang diambil oleh ketua PSI Kabupaten Gowa Muh. Ridwan yang rela meninggalkan Partai Besutan Greace Natalie, dikarenakan banyaknya kebijakan partai yang dikeluarkan

“Jujur apa yang menjadi kebijakan PSI dalam menentang lahirnya perda Syariah menjadi kan saya harus rela melepaskan pernak-pernik PSI,” Ungkapnya

Meskipun dijelaskannya jika jabatan dirinya selaku ketua merupakan hal yang cukup strategis, namun hal itu diakuinya tidak membuat dirinya harus mendukung sikap partainya

Bahkan kebijakan menolak lahirnya Perda Syariah membuat dirinya menganggap jika PSI merupakan partai yang tidak memahami kultur budaya dan sosial di masyarakat, sehingga kebijakan tersebut di ambilnya

Dan penyataan pemunduran dirinya disampaikan langsung dalam sebuah Group WA Internal Pengurus DPW dan DPD PSI

“Pengajuan pemunduran diri saya telah saya sampaikan melalui Group WA yang dinilai oleh pengurus DPW dan DPD PSI. bahkan alasan saya mundur juga saya sampaikan dalam chat di WA, termasuk tidak sejalannya pemahaman dia dengan kebijakan PSI yang tidak mengacu pada kultur daerah yang berbeda-beda, baik dalam pemahaman agamanya, dan lainnya. Termasuk dari keluarga juga mempertanyakan, kenapa PSI seperti itu,” Jelasnya

Bahkan lanjutnya PSI dalam mengambil kebijakan tidak selalu melibatkan pengurus DPD, termasuk pelibatan DPD dalam kegiatan partai yang membuat dirinya meninggalkan PSI

Bahkan dikatakannya dirinya sangat merasakan dampak dari pernyataan Grace tersebut, Terutama, dalam lingkungan keluarga. Menurut dia, pernyataan Grace soal perda syariah, tidak memperhatikan kultur kedaerahan.

“Saya kan rasa itu di daerah saya. Artinya kan, di setiap daerah itu masing-masing punya kultur yang berbeda-beda, baik dalam pemahaman agamanya, dan lainnya. Termasuk dari keluarga juga mempertanyakan, kenapa PSI begitu?,” sambung Ridwan.

Menurut Ridwan, jika dikaji lebih jauh, pernyataan Grace tersebut tidak semuanya keliru, dan ada benarnya. Tapi, mayoritas masyarakat tidak banyak yang mau lakukan itu, dan menerima bulat-bulat pernyataan dari Grace.

“Kalau kita nalar secara dalam, bisa jadi ada benarnya juga. Tapi kan sebagian besar masyarakat ada yang kurang mampu menalar. Yang dia tangkap (PSI) menolak perda syariah,” sambung dia. (Upi)

 Komentar

Berita Terbaru
Daerah07 Juli 2026 21:32
Diskominfo Bulukumba Monev Website Desa, Dorong Transparansi dan Transformasi Digital
BULUKUMBA, Trotoar.id — Pemerintah Kabupaten Bulukumba terus mendorong penguatan tata kelola pemerintahan desa berbasis digital. Melalui Dinas Pembe...
Daerah07 Juli 2026 21:30
Porsenijar PGRI 2026 Ledakkan Ekonomi Sidrap: Rp4,26 Miliar Berputar, Jalanan Lumpuh Diserbu 75 Ribu Pengunjung
SIDRAP, Trotoar.id — Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) PGRI 2026 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan tak sekadar sukses sebagai ajang kompe...
Metro07 Juli 2026 16:20
Seleksi Transparan, Pimpinan BAZNAS Makassar 2026–2031 Fokus Digitalisasi dan Penguatan Data
Makassar, Trotoar.id — Pemerintah Kota Makassar memastikan proses seleksi Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar periode 2026–2...
Daerah07 Juli 2026 16:16
Bupati Barru Sampaikan Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Raih WTP ke-11 Berturut-turut
Barru, Trotoar.id — Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, menghadiri Rapat Paripurna Tingkat I DPRD Kabupaten Barru dalam rangka penyampaian Rancanga...