TROTOAR.ID, PAREPARE — Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah menyebutkan sedikitnya 68 orang dinyatakan meninggal dunia akibat banjir yang melanda sebagian wilayah di Sulsel, selain korban jiwa, banjir juga mengakibatkan kerugian materi sebesar Rp 500 miliar.
Hal tersebut disampaikan Nurdin Abdullah usai menghadiri acara ramah tamah dan pelantikan pengurus Ikatan Alumni SMP Negeri 4 Parepare, di Lapadde, Parepare.
“Akibat banjir sedikitnya 68 warga meninggal dunia adanya kerugian materi yang dia main warga mencapai Rp500 miliar, ” ungkap Nurdin Abdullah.
Baca Juga :
Kerugian materi lnjut mantan Bupati Bantaeng dua , terjadi di wilayah Makassar, Gowa, Jeneponto, Maros, Pangkep dan Barru, mencapai Rp500 Miliar. Termasuk rumah dan sawah yang rusak diterjang banjir,” ujar suami Liestiaty Fachruddin.
Bahkan menurutnya, banjir besar yang melanda beberapa daerah di Sulawesi Selatan, diakibatkan $ikarenakan kerusakan alam yang terus terjadi di wilayah hulu sungai yang harus segera dilakukan pperbaika.
Lanjut Nurdin, pemerintah pusat juga menekankan agar segera dilakukan revitalisasi dan swntimentasi sungai yang masuk ke Cek Dam Bili-bili Gowa, harus terukur.
“Sebab, daerah aliran sungai Jeneberang memang sudah masuk kategori super kritis. Karena itu, tidak ada gunanya dilakukan pengerukan di cek dam jika di hulunya tidak ditangani dengan baik,” tandas alumni Universitas Kyushu Jepang ini.
Wapres juga meminta untuk segera dilakukan langkah-langkah untuk melakukan pemulihan pascabayar banjir yang merendam sejumlah wilayah di Sulsel
Gubernur Sulsel juga menegaskan akan melakukan evaluasi terhadap aktivitas tambang galian C di sepanjang Sungai Jeneberang.
“Ini harus dievaluasi, sejauh mana dampak aktivitas tambang galian C tersebut dengan terjadinya pendangkalan sungai,” kata Nurdin Abdullah.
Gubernur Sulsel menyebutkan, hingga saat ini, tercatat 68 orang meninggal dunia akibat banjir besar tersebut. “Tujuh orang masih dinyatakan hilang, sedangkan pengungsi masih berkisar enam ribu orang. Namun saat ini, pengungsi sudah mulai berangsur pulang ke rumahnya masing-masing karena air sudah mulai surut,” urai Guru Besar Unhas ini. (*)




Komentar