TROTOAR.ID, MAKASSAR –– Ditunjuk sebagai Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb memiliki konsep dan program untuk melanjutkan pembangunan di kota Makassar
Salah satu program yang digadang-gadangnya yakni melepaskan Makassar dari banjir yang sering melanda Makassar saat musim penghujang tiba.
Ia kemudian memaparkan visinya dalam “Run Makassar” dan visi “Clean, Comfort and Continuity” atau “Bersih, Kenyamanan dan Kontinuitas”.
Baca Juga :
“Kami memiliki visi Run Makassar. Apa artinya, run itu orang Makassar tidak lagi melakukan business as usual (mengerjakan urusan seperti biasa). Jadi harus selalu agresif dan bekerja lebih cepat,” kata Iqbal.
Iqbal menilai, beberapa program yang telah dikerjakan oleh Wali Kota Makassar sebelumnya sudah baik dan perlu dilanjutkan. Sedangkan masalah yang perlu diselesaikan oleh Pj wali Kota, banyak program Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tumpang tindih, sehingga diperlukan ada pengaturan yang lebih baik.
Banyak persoalan yang hanya diselesaikan secara jangka pendek. Seperti perparkiran, kemacetan dan persampahan.
“Hanya gali lobang tutup lobang, dan solusinya tidak subtantif,” sebutnya.
Masalah lain yang dihadapi adalah urbanisasi.
Dimana lebih 30 persen urbanisasi yang ada di Sulsel ada di Kota Makassar, demikian juga dengan masalah kemiskinan yang masih tinggi.
Iqbal menangkap peluang yang dimiliki oleh Kota Makassar. Selain memiliki penduduk yang besar, kesempatan yang lebih besar dalam berbagai bidang, permintaan pasar yang tinggi, dan tenaga kerja yang banyak. Posisi Makassar sangat strategis, menjadi center point of Indonesia (titik pusat/tengah Indonesia) serta menjadi pusat distribusi jasa.
“Makassar juga merupakan kota transit. Segala orang ingin mendapatkan pelayanan yang bagus, cepat dan ramah. Sehingga fungsi-fungsi ini harus dijalankan Kota Makassar,” ujarnya.
Iqbal pun memaparkan program strategis yang akan dilakukan dalam 20 bulan jika menjabat, dituangkan dalam delapan program. Pertama, pembangunan drainase tertutup; optimalisasi pedesterian; rekayasa lalu lintas dan parkir; waste management (manajemen persampahan).
“Ini harus tertutup agar sampah-sampah tidak masuk ke drainase, juga ada optimalisasi pedesterian,” jelasnya.
Selanjutnya, integrasi dan simplikasi program OPD; low poverty thru tourism (langkah pengurangan kemiskinan melalui pariwisata); manajemen pasar tradisional; layanan publik dan penegakan hukum.(*)




Komentar