Banggar DPRD Sulsel Setujui Alokasi APBD 2021 Untuk Sewa Helikopter

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Jumat, 27 November 2020 23:58

Wakil ketua Koordinator Banggar, Fachruddin Rangga Memaparkan Hasil Pandangan banggar terhadap APBD Pemprov SUlsel tahun 2021
Wakil ketua Koordinator Banggar, Fachruddin Rangga Memaparkan Hasil Pandangan banggar terhadap APBD Pemprov SUlsel tahun 2021

TROTOAR.ID MAKASSAR — Koordinator Badan Anggaran Dewan perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan (ulsel) Fachruddin Rangga  mengungkapkan usulan Pemerintah untuk menyewa helikopter dalam kegiatan  penanggulangan bencana telah disepakati. 

Namun anggaran untuk sewa Helikopter tidak sebesar nilai yang diusulkan pemerintah melalui Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang nilainya sebesar Rp100 miliar. 

“Untuk helikopter kami setujui tetapi bukan dibeli melainkan disewa, dan anggarannya juga tidak sebesar dengan usulan BPBD,” Kata Fachruddin Rangga. 

Politisi Golkar tersebut juga menyatakan berdasarkan perhitungan perhitungan DPRD bersama dengan Pemprov , biaya sewa per menitnya input dengan Pilot dan bahan bakar nilainya cukup besar Rp 10 juta dalam perjam. 

Helikopter yang juga akan disewa pemerintah berkapasitas 4 shet dan heli tersebut juga digunakan untuk kegiatan penanggulangan bencana, mengingat geografis di Sulsel mendukung penyewaan helikopter tersebut. 

Bahkan helikopter tersebut juga nantinya akan dapat digunakan Gubernur dan wakil Gubernur dalam kegiatan yang bersifat mendadak, dan membutuhkan akses transportasi yang cepat 

“Iya heli tersebut nantinya akan fokus di tempatkan ke Badan bencana, dan biaya sewanya juga mahal, Rp10 juta dalam per jam sehingga Heli tersebut akan digunakan untuk kegiatan yang mendesak,” jelasnya

Sebelumnya Kepala BPBD Ni’mal menyatakan perlunya Helikopter untuk penanggulangan bencana, sebab Sulsel merupakan salah satu rovinsi yang rawang akan bencana sehingga transportasi udara dibutuhkan. 

“heli ini akan digunakan untuk pendistribusian logistik dan pengangkut pengungsi yang terisolir di wilayah bencana, sebab beberapa kali bencana ada beberapa warga terisolir lantara alat transportasi tidak memadai,” Ulasnya (***)

 Komentar