Demonstran Antikudeta Percaya Pakaian Tradisional Perempuan Myanmar Ampuh Halau Tentara

Awal Febri
Awal Febri

Minggu, 07 Maret 2021 21:18

Pakaian tradisional perempuam di Myanmar yang digantung untuk menghalau tentara, Minggu. (AFP FOTO).
Pakaian tradisional perempuam di Myanmar yang digantung untuk menghalau tentara, Minggu. (AFP FOTO).

TROTOAR.id—Berbekal kepercayaan kuno, dimana sebuah kepercayaan tradisional coba dilakukan oleh warga Myanmar, gunanya untuk menghalau militer membubarkan massa aksi anti kudeta.

Kelihatannya, jika hanya kain panjang seperti sarung yang dirangkai memang sangat tidak memungkinkan untuk menghadang tentara.

Kain-kain yang bergelantungan seperti dijemur itu sama sekali menimbulkan bahaya, tetapi kepercayaan warga sipil itu dipegang teguh bagaiamam pakaian tradisional perempuan (Longyi) menghentikan langkah pasukan keamanan saat mereka bergerak untuk meredam pemberontakan melawan junta Myanmar.

Pakaian tradisional perempuam di Myanmar yang digantung untuk menghalau tentara, Minggu. (AFP FOTO).

“Alasan mengapa kami menggantung longyi di seberang jalan adalah karena kami memiliki kepercayaan tradisional bahwa jika pria lewat di bawah longyi, mereka mungkin kehilangan keberuntungan,” kata seorang pengunjuk rasa berusia 20 tahun yang menolak menyebutkan namanya.

Secara tradisional, jika seorang laki-laki berjalan  di bawah pakaian wanita maka dipercaya bahwa lelaki itu bernasib buruk, bahkan melemahkan pria.

Anak-anak  muda Myanmar saat ini sudah tidak percaya lagi dengan mitos tersebut, tetapi tidak bagi para militer, “(Longyi) itu kelemahan mereka (tentara).” 

Supaya para demonstran memiki kesempatan untuk lari menghindari incaran tentara apalagi dalam kondisi darurat.

Selama lebih dari satu bulan, pengunjuk rasa telah berdemonstrasi di seluruh Myanmar menentang kudeta militer 1 Februari dan penangkapan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan ratusan lainnya.

Sementara informasi yang ada menyebutkan bahwa sudah lebih dari 50 pengunjuk rasa telah dibunuh oleh pasukan keamanan.

Namun demikian, jemuran pakaian perempuan tersebut tidak sepenuhnya menghentikan polisi menggunakan gas air mata, peluru karet, dan granat kejut. 

Beberapa pengunjuk rasa juga terbunuh oleh peluru tajam. Tentara mengatakan telah menanggapi protes dengan menahan diri. AFP PHOTO

Penulis : Han/Iyan

 Komentar

Berita Terbaru
Parlemen22 April 2026 19:37
Wakil Ketua DPRD Sulsel Tinjau Langsung Proyek APBD di Soppeng
SOPPENG, Trotoar.id — Kegiatan pengawasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Selatan terus dilakukan di berbagai wilaya...
Metro22 April 2026 15:07
Gubernur Andi Sudirman Dorong Percepatan Infrastruktur Sulsel Saat Temui Menteri PU
JAKARTA, Trotoar.id — Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, melakukan audiensi dengan Menteri Pekerjaan Umum (PU) RI, Dody Hanggodo, di...
Daerah22 April 2026 15:03
Bupati Luwu Serahkan Santunan Rp223,5 Juta kepada Keluarga Nelayan Bone Pute
LUWU, Trotoar.id — Bupati Luwu, Patahudding, menyerahkan santunan kecelakaan kerja kepada keluarga almarhum Yunus, nelayan asal Kelurahan Bone Pute,...
Politik22 April 2026 13:59
Erwin Aksa dan Bahlil Lahadalia Tunjukkan Keakraban di Peluncuran Buku Sarmuji
JAKARTA, Trotoar.id — Momentum peluncuran buku Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji, menjadi panggung kebersamaan para elite partai berlamb...