Trotoar.id, Makassar — Meski awalnya sempat mendapat cibiran ditertawakan, Wakil ketua DPRD Sulawesi Selatan Syaharuddin Alrif kini merasakan hasil dari profesional barunya sebagai petani porang.
Bahkan dirinya tidak pernah menyangka jika profesional sebagai petani porang, dianugerahi sebuah penghargaan “Adhi Bahkti Tani Nelayan Utama, yang diberikan oleh Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional.
Baca Juga :
Penghargaan diberikan atas dedikasinya yang menjadi inspirasi dan motivasi bagi petani di Sulsel, bahwa Bertani porang menjanjikan ekonomi lebih baik. .
“Saya tidak pernah menduga akan mendapatkan penghargaan ini, dan ini adalah jawaban dari kerja kerasa saya selama ini yang berprofesi sebagai petani porang,” Kata Syaharuddin Alrif
Syahar menceritakan jika awalnya dia menjadi petani porang karena tertarik sisi ekonomi dari tanaman umbian tersebut.
Hingga dia harus menggarap lahan perkebunan seluas 50 hektar, dibawah terik panas matahari dan terpaan hujan dirinya tidak patah semangat untuk tetap konsisten menjadi petani porang meski hasil porang yang ditanamnya berbuah kerdil.
“Saya tidak peduli di cibir dan ditertawai, saat awal menjadi petani porang, karena saya nilai Porang akan menjadi tanaman dampak ekonomi yang positif, ” Katanya
Syahar yang juga berasal dari sekeluarga petani ingin apa yang dilakukannya dapat menjadi contoh bagi masyarakat, jika keseriusannya akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.
“Saya harus buktikan bahwa saya bisa kerja kebun karena memang saya anak petani,” ucapnya kala itu menyemangati dirinya.
Dengan semangat itu perkebunan porang yang di garapnya kini menjadi percontohan nasional akan tenaman porang, bahkan beberapa kali kebun porang miliknya dikunjungi oleh sejumlah pejabat mulai dari anggota DPRD, Petinggi TNI dan Kementerian pertanian
Apa lagi lahan yang digarapnya mampu menghasilkan porang yang memiliki nilai ekspor yang tinggi,
“bertani itu kerja, kerja dan bekerja sambil mempelajari perkembangan hal apa yang sejatinya dilakukan lagi” urainya.
Atas sukses itu, anak mudahnya Sulsel ini tak lagi hanya disibukkan memimpin rapat dan melayani tamu di DPRD Provinsi Sulsel, tapi juga harus cerdas dan lebih disiplin menerima tamu di Sekolah alam porang binaannya, mqulai dari kelompok tani, pejabat, politisi dari berbagai daerah hingga pejabat pusat, seperti menteri datang belajar tentang bercocok tanam porang belum lagi undangan untuk mengajar bertani porang dari berbagai daerah dan provinsi.




Komentar