JAKARTA – Eks Juru Bicara (Jubir) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedek Prayudi menyebut bahwa secara teori legislatif itu menjalankan fungsinya dengan mengawasi kinerja eksekutif.
Sebab, kata dia, itu penting. Legislatif menjalankan fungsi agar demokrasi dapat berjalan dengan baik.
Tetapi hal berbeda ditunjukkan oleh eksekutif dan legislatif di DKi Jakarta.
Baca Juga :
Di mana eksekutif makan malam dengan legislatif. Justru, kata dia, legislatif menjadi benteng agar eksekutif tak diawasi.
“Teori: Eksekutif menjalankan pembangunan, legislatif mengawasi.
Praktek di DKI: Eksekutif makan malem sama legislatif, legislatif membentengi eksekutif agar tidak diawasi.” cuit Dedek Prayudi di akun twitternya, Rabu (29/9).
Sebelumnya, Sembilan fraksi di DPRD DKI Jakarta memanas, gara-gara beda pandangan soal interpelasi Formula E.
Tujuh fraksi menolak memakai hak interpelasi untuk memanggil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang ingin menggelar turnamen Formula E pada Juni 2022 mendatang.
Sementara dua fraksi lainnya, PDI Perjuangan dan PSI keukeuh memakai hak interpelasi.
Sayangnya rapat paripurna penjelasan anggota dewan pengusul secara lisan atas hak usul interpelasi pada Selasa (28/9/20210) lalu, tidak kuorum atau jumlah peserta rapat tidak sesuai jumlah minimal sebanyak 54 orang.
Padahal agenda itu telah ditunda sebanyak dua kali dengan jeda waktu sejam dan 10 menit.
Hingga rapat digelar, tujuh fraksi dari PAN, Demokrat, NasDem, PKS, Golkar, PKB-PPP dan Gerindra tidak hadir dalam agenda itu.



Komentar