Makassar, Trotoar.id – Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel nomor urut 02, Andi Sudirman Sulaiman dan Fatmawati Rusdi (Andalan Hati), berhasil mematahkan kritik pasangan Danny Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) terkait isu kemiskinan dan pengangguran di Sulsel dalam debat Pilgub.
Pada sesi tanya jawab, DIA menyindir bahwa selama masa kepemimpinan Andi Sudirman, Sulsel mengalami peningkatan angka kemiskinan dan pengangguran.
Namun, Andi Sudirman menanggapi dengan memaparkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan penurunan angka kemiskinan di Sulsel dari 8,78 persen pada 2021 menjadi 8,70 persen pada 2023.
Baca Juga :
Sebaliknya, di Kota Makassar yang dipimpin oleh Danny Pomanto, angka kemiskinan justru mengalami kenaikan selama tiga tahun terakhir.
Berdasarkan data BPS, tingkat kemiskinan Makassar naik dari 4,58 persen pada 2022 menjadi 5,07 persen pada 2023, menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Selain itu, Andi Sudirman menjelaskan bahwa meskipun tingkat kemiskinan umum naik sedikit menjadi 8,70 persen pada Maret 2023, kemiskinan ekstrem di Sulsel mengalami penurunan dari 1,54 persen pada 2022 menjadi 1,01 persen pada 2023.
Hal ini dicapai melalui berbagai program padat karya di sektor infrastruktur dan bantuan keuangan untuk kelompok masyarakat miskin ekstrem.
“Strategi kami mencakup perluasan program padat karya dan intervensi kemiskinan ekstrem dengan bantuan keuangan langsung untuk memastikan penurunan angka kemiskinan,” tegas Andi Sudirman.
Pada isu pengangguran, Andi juga mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Sulsel terus turun, dari 5,72 persen pada 2021 menjadi 4,33 persen pada 2023.
Sebaliknya, tingkat pengangguran di Kota Makassar tetap tinggi, meskipun ada sedikit penurunan, yakni dari 13,18 persen pada 2021 menjadi 10,60 persen pada 2023.
“Pengangguran di Sulsel menurun, sementara di Makassar pengangguran masih mencatat angka tertinggi di Sulsel dengan 10,60 persen,” lanjutnya.
Juru Bicara Andalan Hati, Muhammad Ramli Rahim (MRR), menyoroti kritik DIA yang dinilai tidak memahami data statistik dengan tepat.
“Serangan DIA yang tidak berdasar justru menjadi bumerang, karena Andalan Hati bisa membuktikan capaian dengan data konkret,” kata Ramli.
MRR menambahkan bahwa tindakan DIA ini hanya menunjukkan ketidaktepatan dalam membaca data dan berpotensi menyesatkan pemilih.
“Andalan Hati membuktikan dengan data yang transparan, bukan hanya tudingan kosong,” pungkasnya.




Komentar