SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, memaparkan secara terbuka capaian sekaligus strategi pembangunan daerah selama satu tahun kepemimpinannya di hadapan sivitas akademika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas).
Pemaparan tersebut berlangsung dalam kegiatan Evaluasi dan Strategi Pencapaian Kinerja FKM Unhas yang digelar di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, Kelurahan Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, Jumat malam (17/4/2026).
Di hadapan akademisi, mahasiswa, hingga tenaga kesehatan, Syaharuddin tidak sekadar menyampaikan capaian, tetapi juga mengungkap “formula” kepemimpinannya dalam mendorong percepatan pembangunan daerah.
Baca Juga :
“Saya memilih pulang kampung, meninggalkan peluang besar, karena ingin memperbaiki dan memajukan Sidrap,” tegasnya.
Dalam satu tahun terakhir, Syaharuddin mengklaim Sidrap mengalami pemulihan signifikan, terutama di sektor ekonomi berbasis kerakyatan.
Produksi beras disebut mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun, jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat lokal yang hanya sekitar 35 ribu ton.
“Artinya, kita bukan hanya swasembada, tapi menjadi penopang pangan untuk daerah lain,” ujarnya.
Surplus tersebut didistribusikan ke berbagai wilayah seperti Kalimantan, Papua, Bali, NTT, hingga sejumlah daerah di Sulawesi.
Tak hanya itu, sektor peternakan juga menunjukkan kontribusi besar. Produksi telur dari Sidrap mencapai sekitar 5 juta butir per hari, termasuk menjadi pemasok kebutuhan di Makassar.
Di sektor kesehatan, Syaharuddin menekankan keberhasilan pemerintah daerah dalam menghadirkan jaminan kesehatan menyeluruh.
Jika sebelumnya cakupan BPJS hanya 14 persen, kini telah mencapai 100 persen melalui program Universal Health Coverage (UHC).
“Saya ingin masyarakat Sidrap sehat, ekonominya kuat, ibadahnya baik, dan pendidikannya tinggi,” katanya.
Menariknya, Syaharuddin mengungkap pendekatan kepemimpinannya yang menggabungkan tiga elemen utama: umaro (pemerintah), ulama, dan agnia (pengusaha).
Menurutnya, setiap kebijakan strategis selalu melalui pertimbangan nilai-nilai keagamaan dan sosial.
“Setiap keputusan penting, saya libatkan ulama. Ini menjadi fondasi dalam membangun kebijakan yang kuat dan diterima masyarakat,” jelasnya.
Tak berhenti pada capaian jangka pendek, Syaharuddin juga menargetkan pembangunan sumber daya manusia sebagai investasi jangka panjang.
Ia bahkan mengundang para akademisi, pakar, dan profesor untuk terlibat langsung dalam pembangunan Sidrap.
“Saya ingin 10–20 tahun ke depan, anak-anak Sidrap bisa menjadi profesor,” ujarnya.
Menurutnya, peran Universitas Hasanuddin telah terbukti memberi dampak nyata bagi daerah, termasuk dalam sektor kesehatan dan pengembangan SDM.
Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, memberikan apresiasi atas komitmen Syaharuddin dalam membangun daerah berbasis ilmu pengetahuan.
Ia menilai, Syaharuddin bukan hanya kepala daerah, tetapi juga bagian dari dunia akademik.
“Beliau ini kandidat doktor di Universitas Hasanuddin. Jadi ada perpaduan antara kepemimpinan dan akademisi,” ungkapnya.
Selain itu, perhatian terhadap lulusan kesehatan masyarakat dinilai sangat nyata melalui pemberian ruang kerja dan kontribusi di daerah.
Kegiatan ini diikuti sekitar 160 sivitas akademika FKM Unhas dan menjadi ruang evaluasi kinerja sekaligus perumusan strategi ke depan.
Momentum tersebut juga mempertegas pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan, khususnya di sektor kesehatan.
Dengan capaian yang dipaparkan, Syaharuddin menunjukkan arah kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi hasil, tetapi juga berbasis kolaborasi dan penguatan SDM sebagai fondasi masa depan Sidrap.




Komentar