SIDRAP, Trotoar.id — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) resmi menggeber penerapan Advance Agriculture System sebagai strategi besar mendorong lonjakan produktivitas pertanian. Namun di balik optimisme tersebut, program ini kini berada di bawah sorotan: apakah benar mampu memberi dampak nyata bagi petani, atau hanya menjadi proyek ambisius di atas kertas?
Peluncuran sistem ini ditandai dengan penanaman perdana yang dipimpin langsung Bupati Syaharuddin Alrif di Kelurahan Majelling, Sabtu (25/4/2026), disaksikan jajaran Kementerian Pertanian, termasuk Fadjry Djufry.
Syaharuddin mengklaim, modernisasi pertanian yang dijalankan selama ini telah menunjukkan hasil signifikan. Produksi gabah kering panen melonjak dari 400 ribu ton pada 2024 menjadi 675 ribu ton di 2025.
Baca Juga :
“Kenaikan ini didorong distribusi pupuk yang lancar, harga gabah yang baik, serta penerapan IP 300,” ujarnya.
Namun, capaian tersebut justru memperbesar ekspektasi publik. Target berikutnya tidak main-main—produktivitas ditargetkan menembus 10 hingga 15 ton per hektare pada musim tanam berikutnya.
Di sisi teknis, Pemkab Sidrap memperkenalkan modifikasi pola tanam dengan sistem Legowo 4:1 hingga 6:1 yang diklaim mampu melipatgandakan populasi tanaman dari 300 ribu menjadi hingga 1,2 juta rumpun.
Langkah ini disebut sebagai lompatan besar dalam mekanisasi dan efisiensi lahan. Namun, tantangan implementasi di tingkat petani menjadi kunci utama keberhasilan.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, melalui Fadjry Djufry, menilai keberhasilan IP 300 di Sidrap sebagai bukti efektivitas pendekatan modern.
Bahkan, sektor pertanian disebut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai 7,7 persen—tertinggi di Sulawesi Selatan.
Meski demikian, angka-angka tersebut kini menjadi “pedang bermata dua”. Semakin tinggi capaian, semakin besar pula tekanan untuk menjaga konsistensi di tengah tantangan lapangan seperti cuaca, distribusi sarana produksi, hingga kesiapan petani mengadopsi teknologi baru.
Program ini juga ditopang bantuan pusat, mulai dari 8.000 kilogram benih padi hingga 200 ton pupuk petroganik dari Pupuk Indonesia.
Namun, dukungan tersebut kembali menegaskan satu hal: keberhasilan tidak lagi diukur dari peluncuran program, melainkan dari dampaknya di sawah petani.
Advance Agriculture System kini menjadi taruhan besar Sidrap—apakah mampu menjadi model pertanian modern berkelanjutan, atau justru menghadapi tantangan serius saat diterapkan secara masif di lapangan.
Kalau mau, saya bisa buatkan versi yang lebih “investigatif” lagi dengan angle: apakah peningkatan produksi benar-benar dirasakan petani atau hanya capaian statistik pemerintah.




Komentar