
MAKASSAR, Trotoar.id – Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) terus memperluas jangkauan literasi digital hingga ke wilayah kepulauan.
Melalui program Diskominfo Goes to School, ratusan pelajar di SMP Negeri 42 Bonetambo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, dibekali pemahaman tentang pemanfaatan teknologi secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab.
Kegiatan yang digelar pada Selasa (28/7/2026) itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 sekaligus wujud komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam memastikan transformasi digital menjangkau seluruh wilayah, termasuk pulau-pulau terluar.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Makassar, Dr. Muhammad Roem, turun langsung memberikan edukasi kepada para siswa.
Menurutnya, anak-anak di wilayah kepulauan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pengetahuan mengenai teknologi digital beserta manfaat dan risikonya.
“Melalui Diskominfo Goes to School, kami memberikan sosialisasi mengenai literasi digital dan keamanan informasi bagi siswa SD dan SMP di Pulau Bonetambo. Kami ingin memastikan peningkatan literasi digital juga dirasakan oleh anak-anak di wilayah kepulauan,” ujar Roem, Rabu (29/7/2026).
Selain membahas pemanfaatan teknologi, Diskominfo Makassar juga memperkenalkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).

Regulasi tersebut menjadi landasan pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak saat mengakses berbagai layanan digital.
Roem menjelaskan, pendekatan yang dibangun melalui PP TUNAS bukanlah membatasi anak dari perkembangan teknologi, melainkan membekali mereka dengan kemampuan agar siap menghadapi berbagai tantangan di ruang digital.
“PP TUNAS berarti Tunggu Anak Siap. Jadi bukan melarang penggunaan teknologi, tetapi memastikan anak memiliki kesiapan sebelum berhadapan dengan berbagai risiko di ruang digital,” tegasnya.
Menurutnya, internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak, baik sebagai sarana belajar, berkomunikasi, maupun mencari informasi.
Karena itu, kemampuan memilah informasi, menjaga data pribadi, memahami etika digital, hingga mengenali potensi ancaman siber menjadi keterampilan yang harus dimiliki sejak usia sekolah.
Melalui literasi digital, para pelajar didorong agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan perangkat digital secara produktif untuk meningkatkan prestasi belajar, mengembangkan kreativitas, serta memperluas wawasan.
“Kami berharap literasi digital anak-anak di kepulauan semakin meningkat sehingga mereka memahami makna transformasi digital dan mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses belajar mengajar,” kata Roem.
Ia menambahkan, keberhasilan menciptakan ruang digital yang aman bagi anak tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata.
Peran sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam membentuk budaya digital yang sehat.
Orang tua, lanjutnya, diharapkan tidak hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga aktif mendampingi anak memahami manfaat, risiko, serta etika dalam menggunakan teknologi.
Pendampingan tersebut diyakini mampu menumbuhkan kesadaran anak untuk menjaga privasi, kesehatan mental, keamanan, dan masa depannya saat beraktivitas di ruang digital.
Roem menegaskan, dipilihnya Pulau Bonetambo sebagai lokasi kegiatan menjadi simbol bahwa transformasi digital Kota Makassar harus berlangsung secara inklusif.
Menurutnya, anak-anak yang tinggal di wilayah pesisir dan kepulauan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh akses pengetahuan serta kecakapan digital.
“Kehadiran Diskominfo di sekolah-sekolah kepulauan menjadi bukti bahwa agenda transformasi digital Kota Makassar tidak hanya membangun infrastruktur dan layanan digital, tetapi juga membangun sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab,” pungkasnya.


Komentar