Pemkot Makassr

TPA Tamangapa Berbenah, Sapi Ditata dalam Ranch dan Sampah Organik Jadi Pakan

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Kamis, 17 September 2026 19:19

Walikota Makassar, Munafri Arifuddin meninjau langsung kondisi eks TPA Antangin
Walikota Makassar, Munafri Arifuddin meninjau langsung kondisi eks TPA Antangin

MAKASSAR, Trotoar.id — Gunungan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi wajah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, Kecamatan Manggala, perlahan mulai ditata.

Kawasan yang selama ini lekat dengan persoalan open dumping, bau menyengat, hingga sapi-sapi yang berkeliaran di antara timbunan sampah kini mulai mendapat sentuhan penataan baru.

Pemerintah Kota Makassar tidak hanya membenahi timbunan sampah. Keberadaan ratusan sapi yang selama ini mencari makan di kawasan TPA juga mulai dilokalisasi melalui pembangunan area penangkaran atau ranch.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi mengatakan, keberadaan ranch menjadi bagian penting untuk mengendalikan aktivitas ternak sekaligus memastikan kebutuhan pakan sapi dapat dipenuhi secara lebih terukur.

“Makanya kita siapkan lokasi seperti kandang. Sampah organiknya, hasil pemilahan sampah dari rumah warga dan pasar, bisa menjadi pakan sapi,” kata Appi, Kamis (17/9/2026).

Konsep tersebut diharapkan menjadi solusi atas kebiasaan sapi mencari makan di antara sampah campuran. Dengan ditempatkan dalam satu kawasan, ternak dapat dipantau dan kebutuhan pakannya bisa dihitung secara rutin.

Penataan sapi juga dinilai penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan kawasan sekitar TPA. Pemerintah secara bertahap akan mengarahkan sapi-sapi yang masih berkeliaran agar masuk ke area ranch.

Tak berhenti sebagai tempat pemeliharaan, Appi bahkan melihat kawasan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi ruang transaksi ternak.

Letaknya yang berdekatan dengan Rumah Potong Hewan (RPH) dinilai dapat mendukung aktivitas jual beli sapi tanpa harus membawa ternak keluar kawasan atau menjajakannya di pinggir jalan.

“Di sini TPA dekat Rumah Potong Hewan (RPH). Ini nanti bisa dijadikan ruang transaksi. Kalau mau beli sapi, transaksinya bisa di sini. Tinggal dilihat mana yang cocok,” ujarnya.

Menurut Appi, pola tersebut juga berpotensi memberikan nilai ekonomi lebih bagi pemilik ternak. Sapi yang telah ditempatkan secara terpusat akan lebih mudah dipelihara, dipantau kondisinya dan dipastikan kebutuhan pakannya.

Karena itu, ia meminta PD Pasar dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menghitung kebutuhan pakan secara cermat, termasuk jumlah ternak yang akan ditempatkan di dalam ranch.

“Dihitung benar-benar berapa pakan, berapa yang harus disiapkan. Harus memastikan kebutuhan pakannya tercukupi untuk ternak sapi setiap hari,” tegas mantan CEO PSM Makassar tersebut.

Pemkot Makassar juga akan menata area pemberian pakan menggunakan permukaan yang mudah dibersihkan. Sejumlah bagian direncanakan menggunakan paving untuk menjaga kebersihan dan memudahkan proses perawatan.

“Kalau kandangnya di sini, kita bisa pastikan kebutuhannya, termasuk pakannya, tercukupi. Nanti beberapa area makannya di-paving, supaya gampang dibersihkan,” jelas Appi.

Namun, penataan sapi hanya menjadi satu bagian dari pembenahan TPA Tamangapa. Pemkot Makassar juga mulai mengubah pola pengelolaan kawasan yang selama ini identik dengan penumpukan sampah terbuka.

Timbunan sampah secara bertahap ditata dan ditutup. Pengelolaan air lindi juga diperkuat melalui pemanfaatan teknologi EcoTru dan penambahan unit pengolahan untuk mengendalikan potensi pencemaran.

Saluran dan alur pengelolaan air lindi turut dibenahi agar cairan hasil pembusukan sampah tidak meluap dan masuk ke wilayah permukiman masyarakat.

Di area timbunan, sejumlah pipa juga telah dipasang untuk mengalirkan sekaligus mengelola gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah.

Appi mengatakan pembenahan tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah wajah dan pola pengelolaan TPA Tamangapa agar dampak lingkungan dapat semakin dikendalikan.

“Dulu TPA itu identik dengan sampah berserakan. Sekarang sudah ada penataan. Pada saat pembuangan, air lindi harus kita amankan,” katanya.

Meski demikian, menurut Appi, persoalan TPA tidak akan selesai hanya dengan membenahi lokasi pembuangan akhir. Beban TPA harus ditekan sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Karena itu, masyarakat didorong mulai memilah sampah dari rumah, terutama memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik yang terpilah bahkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan ternak.

“Semakin sedikit sampah yang masuk ke TPA, semakin ringan pula bebannya sehingga kondisi TPA terlihat lebih tertata,” tutup Appi.

Penulis : Awal

 Komentar