Pemkot Makassar

Temuan HIV-AIDS Makassar Tertinggi di Sulsel, Aliyah Dorong Penguatan Pencegahan Menuju Ending AIDS 2030

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Jumat, 18 September 2026 19:26

Temuan HIV-AIDS Makassar Tertinggi di Sulsel, Aliyah Dorong Penguatan Pencegahan Menuju Ending AIDS 2030

MAKASSAR, Trotoar.id — Kota Makassar mencatat temuan kasus HIV-AIDS tertinggi di Sulawesi Selatan berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS, Kamis (17/9/2026).

Dalam rakor yang berlangsung di Hotel Travelers Phinisi, Jalan Lamaddukelleng Buntu, Makassar, itu tercatat 445 kasus HIV-AIDS ditemukan di Kota Makassar, disusul Kabupaten Gowa sebanyak 74 kasus dan Kota Palopo 38 kasus.

Angka tersebut menjadi perhatian Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham. Ia menegaskan, tingginya temuan kasus harus direspons dengan memperkuat pencegahan, edukasi, deteksi dini, hingga akses layanan bagi masyarakat.

Menurut Aliyah, persoalan HIV-AIDS tidak dapat ditangani hanya melalui sektor kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, komunitas, serta seluruh elemen masyarakat.

“Upaya pencegahan HIV-AIDS tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi lintas sektor agar langkah pencegahan, edukasi, deteksi dini, hingga penanganan dapat berjalan secara optimal,” ujar Aliyah.

Ia menilai edukasi menjadi salah satu kunci penting dalam upaya pencegahan, terutama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai HIV-AIDS sekaligus mencegah munculnya stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.

“Angka ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Karena itu, pencegahan harus terus diperkuat. Edukasi kepada masyarakat juga penting agar informasi yang benar mengenai HIV-AIDS dapat dipahami dengan baik dan tidak menimbulkan stigma,” jelasnya.

Data dalam rakor menunjukkan, temuan HIV-AIDS di Sulawesi Selatan mencapai 2.660 kasus pada 2023. Angka tersebut kemudian tercatat 2.486 kasus pada 2024 dan 1.939 kasus pada 2025.

Sementara pada periode Januari hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 963 kasus. Berdasarkan kelompok umur, temuan didominasi kelompok usia 25–49 tahun sebesar 58 persen, disusul usia 15–24 tahun sebesar 35 persen.

Selanjutnya, kelompok usia 30–50 tahun tercatat 6 persen dan kelompok usia 15 tahun ke bawah sebesar 1 persen.

Selain Makassar dan Gowa, sejumlah daerah lain juga mencatat temuan kasus, yakni Bulukumba 34 kasus, Jeneponto 27 kasus, Luwu Timur 23 kasus dan Bantaeng 20 kasus.

Aliyah mengatakan, data tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk memperkuat strategi pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS secara berkelanjutan.

“Pemerintah Kota Makassar tentu berkomitmen mendukung upaya menuju Ending AIDS 2030. Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun kesadaran masyarakat, memperkuat pencegahan dan memastikan mereka yang membutuhkan mendapatkan akses layanan serta pendampingan,” katanya.

Rakor tersebut sekaligus menjadi forum untuk memperkuat koordinasi Pemerintah Kota Makassar dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan pemangku kepentingan lainnya dalam menjalankan program pencegahan serta penanggulangan HIV-AIDS.

Aliyah berharap hasil rakor tidak berhenti pada pembahasan di ruang pertemuan, tetapi diterjemahkan menjadi langkah konkret di masing-masing daerah.

“Harapan kita bersama, koordinasi ini tidak berhenti pada forum rapat saja, tetapi menghasilkan langkah nyata di lapangan. Pemkot Makassar siap bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan seluruh pihak terkait,” tegasnya.

Rakor tersebut diikuti sekitar 100 peserta, di antaranya wakil bupati/wakil wali kota se-Sulawesi Selatan, instansi vertikal, kepala dinas, badan dan biro lingkup Pemprov Sulsel, pengelola program HIV-AIDS kabupaten/kota, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I–XII, Sekretaris KPA kabupaten/kota, KPAP Sulsel, PMI Sulsel serta LSM pemerhati HIV-AIDS.

Dalam kegiatan itu, Aliyah Mustika Ilham didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Makassar Ahmad Asy’ Arie.

Penulis : Awal

 Komentar