
Oleh: Askar Nur,
Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar Periode 2018.
TROTOAR.iD, MAKASSAR — Meramu Ingatan Lama, Mencipta Kisah Baru “Kami tak selamanya duduk di sini. Mereka akan menggantikan kami. Awan akan menghitam. Berubah menjadi hujan.

Menciptakan perjalanan baru si titik air, terpecah menjadi embun, atau berkubang menjadi danau. Menuju lautan atau berdesakan di aorta menuju jantung”. (Zulkifli M, Resolusi Yang Usang: Hal.30)
Sebuah representasi kilas-balik ingatan saat ini sekaligus harapan ke depan tergambar dalam kutipan di atas. Rabu, 14 Agustus 2019 merupakan hari pergantian kursi jabatan di tataran pimpinan fakultas (Dekan) dan rektor (Wakil Rektor I hingga IV) sekaligus pelantikan para pemimpin baru dalam lingkup UIN Alauddin Makassar yang sebelumnya pada tanggal 23 Juli 2019 lalu,
Rektor baru, Prof. H. Hamdan Juhannis MA, PhD telah resmi dilantik oleh Menteri Agama RI. Tak ayal, dalam prosesi pergantian kursi jabatan tentu sebuah keniscayaan, perasaan suka dan duka akan menjadi rona tersendiri. Suka dalam artian, lahirnya sebuah harapan akan pembaharuan kedepannya bagi pemimpin baru dan duka dalam hal ini adalah memuncaknya perasaan ‘kehilangan’ melalui kilas-balik memori terhadap pemimpin lama.
Antara suka dan duka, keduanya saling berkolaborasi seperti yang dituliskan oleh Zulkifli M, akrab kami sapa Bang Jul, dalam sebuah cerpen yang berjudul “Adab-Beradik” (dalam antologi cerpen; Resolusi Yang Usang), “……Awan akan menghitam. Berubah menjadi hujan. Menciptakan perjalanan baru si titik air, terpecah menjadi embun, atau berkubang menjadi danau. Menuju lautan atau berdesakan di aorta menuju jantung”. Suka dan duka selalu beriringan dalam sebuah peristiwa sama halnya dengan pepatah lama,

kita mampu merasakan yang namanya manis karena pernah merasakan pahit dan begitupula sebaliknya.
Senada dengan itu, cerita suka dan duka tentu dirasakan pula oleh segenap masyarakat ilmiah di semua fakultas dalam ruang lingkup UIN Alauddin Makassar secara umum dan Fakultas Adab dan Humaniora khususnya.
Selama satu periode (2015-2019) Fakultas Adab dan Humaniora, jika diibaratkan sebuah perahu maka ia dinahkodai oleh sosok yang mampu menjaga keseimbangan arus. Jika badai menerjang, sang nakhoda mampu menyeimbanginya dengan ketenangan diri dan jika semuanya bergerak normal, ia sedikit demi sedikit memperbaiki perahunya dari terjangan badai yang berlalu tanpa menyalahkan badai apatah lagi kerusakan yang ditimbulkan.
Sang nakhoda itu, beliau adalah Pak Barsihannor. Rasanya ungkapan itu pantas diucapkan oleh orang yang pernah merasakan masa kepemimpinan beliau khususnya saya pribadi dan sebuah kewajaran pula bagi yang lain untuk menginterpretasikan hal yang senada maupun tidak. Semua orang bebas menginterpretasikan atau menafsirkan sebuah perkara namun tidak terlepas dari pada aturan interpretasi itu sendiri yang oleh Paul Ricoeur menamainya Hermeneutika sebagai suatu teori tentang aturan-aturan dalam penafsiran yang menekankan objektivitas melalui struktur.
“Radio yang jika dinaikkan ke volume 10 dan bertahan selama beberapa waktu tentu akan berefek pada pendengaran dan menimbulkan kebisingan yang mengganggu”, ujar beliau dalam sebuah forum pertemuan beberapa tahun lalu, “maka perlu kiranya kita mengatur volume suara radio tersebut, ada kalanya dinaikkan dan diturunkan berdasarkan penelaahan dengan realitas sekeliling”, lanjutnya.
Sebuah perumpamaan yang merujuk pada falsafah kehidupan dan itu nampak dalam keseharian beliau selama menjabat sebagai dekan. Ketenangan, kepedulian dan keteguhan hatinya dalam menghadapi segala polemik menjadi salah satu ciri khas beliau.
Hal tersebut mengingatkan kita pada ide dan gagasan tentang “Keimanan dan Kesalehan Sosial” Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam menghadapi keberagaman di Indonesia dewasa ini. Ide-ide kreatif dan gagasan progresif dari beliau akan menjadi kerinduan tersendiri baik dari pribadi maupun mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora khususnya.
Pasca pelantikan pimpinan fakultas yang baru, maka secara resmi Pak Barsihannor sebagai Dekan Fakultas Adab dan Humaniora periode 2015-2019 digantikan oleh Pak Hasyim Haddade yang akan menahkodai Fakultas Adab dan Humaniora terhitung 2019-2023.
Tentunya, harapan untuk melanjutkan proses kepemimpinan lama dengan ide atau gagasan yang lebih produktif dan progresif untuk kemajuan fakultas dan sumber daya manusianya disandarkan di bahu Pak Hasyim Haddade selama kurang lebih lima tahun ke depan. Penciptaan inovasi baru dan tetap memposisikan diri sebagai seorang pemimpin yang tentunya sebuah keniscayaan menjadikan orang-orang yang dipimpinnya memperoleh hak-haknya dalam sebuah arena produksi ilmu pengetahuan.
Sebuah adagium, kualitas hidup seorang pemimpin yakni mampu mengorganisir dan memimpin orang-orang yang tidak membutuhkan pemimpin. Dalam suatu arena kehidupan masyarakat tentu hal yang tidak lumrah lagi yakni selalu terdapat kelompok masyarakat yang pro-kontra terhadap tatanan ataupun kebijakan sehingga hal demikian melahirkan mosi-mosi ketidakpercayaan di kalangan mereka, di sinilah posisi seorang pemimpin yang ideal mampu menerjemahkan kondisi seperti demikian dan bergerak untuk mengubahnya secara perlahan.
Proses dinamika dalam sebuah ranah adalah sebuah keniscayaan begitu pula tantangan. Di kampus peradaban misalnya, perayaan penyambutan mahasiswa baru atau yang kita kenal dengan nama PBAK, singkatan dari Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (dulunya MOS dan OPAK).
Pada wilayah kebijakan PBAK, harapan terbesar tentunya terpatri kepada para pimpinan kampus dan fakultas yang baru saja dilantik dalam hal ini bagaimana melihat kebijakan tersebut secara universal dan mampu menyulapnya menjadi nuansa yang hidup bagi seluruh civitas akademika.
Menjadikan momen seperti ini sebagai ruang kreatif utamanya bagi mahasiswa, seperti kita tahu ajang PBAK kerapkali dianulir sebagai ajang perpeloncoan oleh beberapa kelompok. Perlu kiranya melirik fenomena saat ini yang bisa dibilang bahwa asumsi perpeloncoan telah hilang dalam diskursus kehidupan manusia kampus.
Antara sebuah kebijakan dan kondisi kehidupan mahasiswa, di sinilah tumpuan asa pada pundak para pimpinan baik universitas maupun fakultas bagaimana mampu memposisikan diri dan menarik benang kesimpulan untuk kemaslahatan bersama secara objektif.
Dante Alighieri, seorang penyair besar Italia dari Abad Pertengahan Akhir, menyebutkan dalam puisi panjangnya yang berjudul “The Divine Comedy” pada Inferno atau Canto 1, “When half way through the journey of our life, I found that I was in a gloomy wood, because the path which led aright was lost”. Sebuah gambaran perjalanan kehidupan manusia yang menemukan belantara kegelapan di pertengahan perjalanannya disebabkan jalan yang lurus telah hilang.
Dalam kaitannya dengan kebijakan, menjalankan sebuah kebijakan hanya berdasarkan pada orientasi kebijakan tersebut yang berasal dari pimpinan tertinggi (Menteri dan lain sebagainya) yang mengisyarakan kepatuhan tanpa melirik berbagai sudut dari sebuah kondisi di mana kebijakan tersebut dijalankan dan untuk siapa kebijakan tersebut maka bisa dikatakan bahwa saat itulah kita menemukan belantara kegelapan dalam kehidupan.
Apakah manusia hidup untuk sistem atau sistem untuk manusia? Perlu kiranya pertanyaan tersebut dijawab dan direfleksikan dengan kondisi kampus saat ini. Fenomena di atas hanyalah sebuah contoh kebijakan yang berskala kecil sekaligus sebagai tantangan awal bagi para pemimpin baru dalam mengambil sebuah keputusan.
Terakhir, ucapan selamat kepada para pemimpin baru baik tingkat universitas dan fakultas khususnya dekan baru Fakultas Adab dan Humaniora, Pak Hasyim Haddade, yang baru saja dilantik dan terima kasih banyak kepada Pak Barsihannor atas pengabdiannya yang penuh cinta-kasih selama lima tahun terakhir di Fakultas Adab dan Humaniora.
Segala teka-teki dan polemik di balik pemilihan pimpinan universitas dan fakultas telah usai dan selanjutnya teka-teki persoalan kehidupan kampus dan fakultas yang harus dipecahkan seperti kebijakan yang masih kurang transparan khususnya sistem UKT-BKT beserta tetek bengeknya. Semoga sehat selalu dan mampu menjalankan amanah yang menjunjung tinggi hak, kearifan dan keutamaan bagi yang dipimpinnya khususnya mahasiswa serta senantiasalah kita terhindar dari citra-citra populis yang hambar dalam realitas.
Adab is Sense of Belonging akan teringat dan selalu.


Komentar