Edy Rahmat Dinilai Kooperatif Sehingga Hanya Dituntut 4 Tahun Penjara, Lebih Ringan dari Nurdin Abdullah

Awal Febri
Awal Febri

Senin, 15 November 2021 17:27

Terdakwa Sekretaris Dinas PU Sulsel Edy Rahmat diperiksa usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Rabu (14/4/2021). Edy terkait dengan kasus dugaan suap proyek infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang juga melibatkan Gubernur nonaktif Sulsel Nurdin Abdullah. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/rwa.
Terdakwa Sekretaris Dinas PU Sulsel Edy Rahmat diperiksa usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Rabu (14/4/2021). Edy terkait dengan kasus dugaan suap proyek infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang juga melibatkan Gubernur nonaktif Sulsel Nurdin Abdullah. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/rwa.

trotoar.id, Makassar—Terdakwa kasus dugaan suap dan gratifikasi proyek infrastruktur di Pemprov Sulsel Edy Rahmat dituntut lebih ringan dari Gubernur Sulsel (Nonaktif) Nurdin Abdullah.

Edy juga dinilai oleh Jaksa KPK  lebih kooperatif, jujur dan mengakui semua perbuatannya selama diperiksa dan di persidangan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK hanya dituntut empat tahun penjara, sehingga lebih ringan dari Nurdin Abdullah selama 6 tahun.

Edy Rahmat sebagai penerima suap juga didenda sebesar Rp250 juta dan subsider 3 bulan kurungan. 

Baca Juga  Tak Registrasi Hingga 1 Mei Besok, Pemerintah Akan Blokir Kartu Seluler Anda

Sementara Nurdin Andullah didenda Rp500 juta dengan subsider 6 bulan.

Edy Rahmat juga tidak dibebani uang pengganti. Semua uang suap yang diterima sudah disita KPK. 

Berbeda dengan Nurdin Abdullah yang harus mengembalikan uang Rp3 miliar lebih.

Menurut penjelasan JPU KPK, Edy rahmat dituntut lebih ringan karena hanya dijeratkan satu pasal saja.

Baca Juga  Mantan Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Sulsel Terancam Menyusul NA ke KPK, Ini Kata Guru Besar Unibos

Edu didakwa melanggar pasal 12 huruf a Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana juncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

“Berbeda kualifikasi pembuktian antara pak Nurdin dan pak Edy. Pak NA ada gratifikasi,” kata JPU KPK Zaenal Abidin, Senin, (15/11).

Peran Edy, kata JPU KPK, hanya sebagai perantara selaku Sekretaris Dinas PUTR  melaksanakan perintah dari Nurdin Abdullah sebagai Gubernur.

Baca Juga  Gubernur Sulsel dan Menteri Pertanian Hadiri Ritual Mattompang Arajang di Bone

Namun, Edy sebagai penyelenggara negara terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan Nurdin Abdullah.

“Meringankan karena beliau kooperatif, menjelaskan apa adanya. Pak Edy Rahmat mengakui di persidangan seluruh fakta yang sebenarnya. Itu yang meringankan karena tidak berbelit-belit dan jujur,” terang Zaenal. [lutfi]

 Komentar

Berita Terbaru
News02 November 2026 23:15
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif Berduka, Kehilangan Sahabat Lama Arifuddin Daeng Situju
SIDRAP, Trotoar.id — Kepergian wartawan senior Arifuddin Daeng Situju pada Senin (2/11/2026) malam menyisakan duka mendalam bagi Bupati Sidenreng Ra...
Metro02 November 2026 18:32
Pemprov Sulsel Dukung Penguatan Literasi Keuangan Syariah, PELITA Diluncurkan di Makassar
MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mendorong penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah sebagai salah satu upaya mempe...
Metro02 November 2026 16:29
Sulsel Jadi Tuan Rumah IIFS 2026, Andi Sudirman Dorong Produk Daerah Tembus Pasar Global
MAKASSAR, Trotoar.id — Sulawesi Selatan mendapat momentum strategis untuk memperluas peran dalam industri halal global. Menjadi tuan rumah Indonesia...
Metro02 November 2026 16:25
Disperkim Makassar Targetkan 419 Rumah Rampung, Jadi Kado HUT ke-419 untuk Warga
MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Kota Makassar menyiapkan program bedah rumah sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap masyarakat berpenghasil...