Makassar, trotoar.id – Pada Senin, 30 Mei 2022 merupakan aksi ke-empat kalinya mahasiswa Wija To Luwu menuntut klarifikasi dan permintaan maaf Andi Sudirman Sulaiman (ASS) secara terbuka akibat telah mendiskriminasi masyarakat Rampi melalui pidatonya pada saat perayaan hari jadi Luwu Utara yang ke-19 tahun.
Gubernur Sulsel itu telah melontarkan bahasa yang diduga tidak etis, yakni ingin mengeluarkan Rampi dari Sulsel dan dari Indonesia.
Berangkat dari situlah, berbagai kritikan tajam menghantam Gubernur Sulsel. Namun hingga detik ini belum ada upaya penyelesaian perkara yang dilakukan oleh Gubernur Sulsel.
Baca Juga :
Yandi selaku Jenderal Lapangan mengatakan bahwa Gubernur seakan menutup mata juga telinga terhadap pernyataan kontroversialnya.
Pihaknya menegaskan bahwa gerakannya akan terus berlanjut sampai Gubernur Sulsel meminta maaf, tidak ada yang bisa mengintervensi juga menghentikan gerakan ini.
“Andi Sudirman Sulaiman telah gagal mengakomodir semua golongan di bawah kepemimpinannya, ia telah mencederai nilai persatuan dan kesatuan masyarakat di Sulsel,” terangnya.
Yandi juga mengatakan, seharusnya Pemda Luwu Utara turut serta mengkritisi pernyataan Gubernur Sulsel, bukan bungkam seakan mendukung Gubernur Sulsel.



Komentar