Luwu Utara, Trotoar.id – Pemerintah Kabupaten Luwu Utara terus berinovasi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan mengembangkan sumber-sumber baru berbasis pembangunan hijau dan berkelanjutan.
Langkah ini diinisiasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) bekerja sama dengan Thriving Landscape Lead Rainforest Alliance (RA) dalam sebuah pertemuan di ruang kerja Kepala Bapperida Luwu Utara.
Pertemuan yang dipimpin oleh Kepala Bapperida, Drs. H. Aspar, dihadiri pejabat Bapperida serta perwakilan Rainforest Alliance, Hasrun Hafid.
“Hari ini kita membahas strategi untuk meningkatkan PAD, sekaligus menjawab tantangan yang diberikan Bupati dalam rapat perdana pasca-pelantikan,” ujar Aspar.
Bapperida Luwu Utara mengembangkan beberapa skema strategis yang bisa diterapkan untuk memperkuat fiskal daerah, antara lain:
- Perdagangan Karbon (Carbon Trading)
- Memanfaatkan kawasan hutan dan lahan konservasi sebagai aset ekonomi dalam pasar karbon nasional dan internasional, sehingga daerah mendapatkan insentif dari upaya pelestarian lingkungan.
- Klaim Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Claim)
- Mengoptimalkan nilai ekologis kawasan konservasi dengan memperoleh kompensasi finansial dari pelestarian keanekaragaman hayati.
- Optimalisasi Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan
- Meningkatkan peran perusahaan dalam mendukung infrastruktur hijau, kesejahteraan masyarakat, dan ekonomi komunitas melalui skema CSR yang lebih terarah.
- Sertifikasi Berkelanjutan untuk Komoditas Unggulan
- Menerapkan sertifikasi hijau pada komoditas utama seperti kakao, kopi, dan kelapa sawit, guna meningkatkan daya saing produk di pasar global dan memastikan praktik pertanian yang ramah lingkungan.
“Pendekatan ini tidak hanya berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, tetapi juga membuka peluang investasi hijau yang lebih luas,” jelas Aspar.
Melalui berbagai inovasi ini, Pemda Luwu Utara optimistis dapat meningkatkan kemandirian fiskal dan menjawab tantangan pembangunan daerah secara lebih adaptif dan responsif.
“Ke depan, kebijakan ini perlu dikembangkan melalui kolaborasi multipihak antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil (CSO), hingga media, guna memastikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” pungkas Aspar.




Komentar